15 Kabupaten di Indonesia Terkena Konflik Kekerasan Antarkelompok

Peluncuran dan Diskusi Buku : “Konflik & Perdamaian Etnis di Indonesia”, di Fisipol UGM, Jumat (7/9/2018). (sutriyati/kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Hidup di wilayah konflik kekerasan, apalagi bagi anak-anak bukanlah hal yang mudah dijalani. Bahkan, trauma yang mereka alami bisa terbawa hingga anak-anak beranjak dewasa. Hal itu yang dialami oleh salah satu mahasiswa asal Tidore, Maluku Utara, Mansyur.

“Saya masih ingat betul, guru kami (ketika itu) tiba-tiba rumahnya dibakar,” ungkap Mansyur, saat menjadi partisipan dalam Peluncuran dan Diskusi Buku : “Konflik & Perdamaian Etnis di Indonesia”, di Fisipol UGM, Jumat (7/9/2018).

Mansyur juga mengaku, ketika konflik kekerasan antar etnis itu pecah, dirinya masih duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar (SD). Ia menyaksikan secara langsung, ketika teman-temannya yang beragama Nasrani harus mengungsi ke kota lain.

Mansyur pun sempat diamankan dari teman-temannya yang Nasrani itu. “Sampai sekarang kami tidak pernah bertemu lagi dan bisa berkomunikasi melalui media sosial saja,” ucapnya lagi.

Menurutnya, hingga kini, di wilayah Maluku Utara, seperti Ternate atau daerah-daerah yang dulunya basis Nasrani, masih banyak ditemukan sisa-sisa kerusakan bangunan fisik maupun bekas rumah-rumah warga yang terbakar. Mansyur sendiri merupakan warga muslim yang hidup di lingkungan yang mayoritas beragama Nasrani.

15 Kabupaten di Indonesia Terkena Kekerasan antarkelompok

Cerita kelam masa kecil Mansyur itu, bisa jadi hanya satu dari sekian cerita serupa yang dialami anak-anak dan warga di wilayah konflik kekerasan.

Berdasarkann Hasil Riset Institute of International Studies (IIS) UGM, sebagaimana yang dituangkan dalam buju karya (alm) Samsu Rizal Panggabean tersebut, sepanjang tahun 1990 – 2008, ada 15 kabupaten atau 6.5% dari total populasi di Indonesia yang kotanya terkena kekerasan antarkelompok.

Menurut paparan Diah Kusumaningrum selaku Peneliti IIS UGM, tidak ada satu formula khusus untuk mencegah konflik antarkelompok. Namun yang jelas, jika seseorang ingin belajar soal itu, maka perlu memikirkan beberapa cara baru untuk mempelajarinya.

Diantaranya, kata pengajar di Ilmu Hubungan Internasional UGM ini, dengan metode berpasangan, dan perlunya memperhatikan dengan sangat rinci hal-hal yang terjadi di level lokal.

Pihaknya mencontohkan bahwa pemilahan antara kelompok agama dan kelompok etnis yang berbeda itu ada dan nyata, tetapi bukan itu yang menjadi penyebab kekerasan. Buktinya, ada 93.5% dari populasi di Indonesia yang kotanya tetap aman dan damai, meskipun didalamnya terdapat konflik.

“Pemilahan etnis di Indonesia itu ada dan nyata tetapi cenderung nirkekerasan,” ucapnya. Sebenarnya, yang menjadi penyebab kekerasan, lanjut Diah, adalah hal-hal lain yang justru karena kekerasan itu maka pemilahan atnisnya menjadi lebih mencolok.

Riset IIS UGM itu Difokuskan pada Pencegahan Konflik Kekerasan

Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional UGM, Mohtar Mas’oed menambahkan, riset yang dilakukan IIS tersebut sebenarnya bukan difokuskan pada pemicu konflik, melainkan pecegahan agar konflik etnis tak berkembang menjadi kekerasan antarkelompok.

Mohtar mencontohnya, perbedaan penanganan konflik pada 1997-1998, berdasarkan metode berpasangan di Solo dan Yogyakarta, maupun di Ambon dan Manado. Di Solo dan Ambon, konflik etnis pecah menjadi konflik kekerasan. Sementara di Yogyakarta dan Manado, meski ada konflik namun tak sampai pada perilaku kekerasan antarkelompok.

“Di Yogyakarta itu, pencegahannya efektif,” ungkapnya. Itu, menurut Mohtar, tak lepas dari peran Forum Kerukunan Umat Beragama yang bisa berkoordinasi dengan baik, dalam melakukan pencegahan bersama-sama, sebelum kekerasan terjadi.

Dialog Lintas Agama berbasis Komunitas, Modal Sosial Cegah Konflik Kekerasan

Sementara Pendeta, Jacky Manuputty yang juga Asisten Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antariman dan Antarperadaban berpendapat bahwa manajemen dialog lintas agama yang berbasis komunitas, dengan mengedepankan persahabatan, sebagai modal sosial untuk mencegah konflik kekerasan antarkelompok di berbagai daerah.

“Kita sebenarnya punya kekuatan untuk itu karena kita punya kearifan lokal yang sangat besar yang tidak dapat ditemukan dari masyarakat individual, seperti Amerika Serikat, Australia, maupun Eropa. Kita punya guyub, silaturrahim dan lain-lain,” jelas Penerima 2011 Tanenbaum Peacemakers in Action Award ini. Hanya saja, sesalnya, selama ini, modal sosial tersebut belum dikapitalisasi sebagai sebuah strategi. (sutriyati)

Pos terkait