Aliansi Buruh: Perusahaan Jepang Tutup karena Pasar Cina yang lebih murah

Ilustrasi (forumkeadilan.co)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Aktivis Aliansi Buruh Kontrak Menggugat, Danial Indrakusuma mengatakan, tutupnya dua perusahaan elektronik asal Jepang yaitu Panasonic dan Toshiba disebabkan oleh tiga hal.

Pertama, karena persaingan yang ketat antar perusahaan elektronik di Indonesia. Kedua, daya beli yang menurun terhadap produk elektronik kedua perusahaan tersebut. Ketiga, karena monopoli Amerika dan Eropa terhadap produk elektronik. Penemuan-penemuan terbaru tentang elektronik selama ini hanya ada di Amerika dan Eropa.

Baca Juga:  Penyaluran Dana Kompensasi BBM Gunakan Data Penerima BLSM

“Konsumen mulai beralih ke produk elektronik asal Amerika, Eropa, atau China yang harganya jauh lebih terjangkau,” kata Danial dalam sebuah forum diskusi di Nologaten Yogyakarta, baru-baru ini.

Danial juga menampik pendapat yang mengatakan tutupnya perusahaan mengancam PHK ribuan buruh itu karena tingginya UMK di Bekasi, yang mencapai Rp 3,8 juta . Menurutnya, upah buruh tidak akan bisa menyebabkan perusahaan bangkrut, karena biaya produksi sudah terpenuhi di luar upah buruh.

“Upah buruh itu cuma berpengaruh pada menurunnya keuntungan perusahaan,” ujar dia.

Baca Juga:  Ingin gabung TPP, Indonesia harus revisi puluhan UU dan PP

Selain itu, penyebab susahnya perusahaan Jepang di Indonesia karena munculnya pasar-pasar murah dari Tiongkok. Pemerintah pun telah melirik perusahan asal Tiongkok untuk bermitra. Dengan harga yang lebih murah, pemerintah melihat perusahaan Tiongkok lebih mungkin untuk diajak kerja sama.

“Jokowi kan ingin menggenjot infrastruktur, tapi duit tidak ada. Sementara alat-alat dari Cina seperti belo, itu jauh keluhuran daripada produk Jepang. Supaya infrastruktur jalan, cari yang murah,” ujar Danial, yang juga pendiri Partai Rakyat Demokratik itu.

Baca Juga:  Kerap Disorot Media, Menteri Susi Curhat di Facebook

Namun Danial berkeyakinan, kedua perusahaan tersebut tidak akan benar-benar beralih dari Indonesia. Yang dilakukan hanya pengalihan tempat produksi di luar Indonesia. Dengan keuntungan yang masih relatif besar, Indonesia merupakan pasar yang potensial bagi perusahaan elektronik Jepang.

“Mereka tidak akan kabur. Di beberapa kasus, dengarkan keuntungan hanya lima persen, mereka masih bertahan,” kata dia. (Ed-03)

Kontributor: Januardi