Dikunjungi Kandidat Capres-Cawapres, Ke Mana Arah Dukungan Keluarga Keraton Yogya?

Pertemun Sultan dengan para kandidat Capres-Cawapres 2019 (dok. dari berbagai sumber)

SLEMAN (kabarkota.com)
– Di setiap waktu menjelang Pemilihan Umum Presiden (Pilpres), para Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden (Capres – Cawapres) hampir selalu menyempatkan diri bertemu dengan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X dan keluarganya, untuk meminta doa restu. Sekaligus berharap agar mendapatkan dukungan suara, dari Keraton Yogyakarta.

Begitupun menjelang Pilpres 2019 mendatang. Setidaknya sudah ada tiga kandidat yang “sowan” Sultan di Keraton Kilen. Pertama, pada 28 September 2018 lalu, Capres dari petahana, Joko Widodo (Jokowi) memenuhi undangan Keraton Yogyakarta untuk sarapan bersama, sekaligus silaturrahim ke keluarga Sultan, sebelum mengawali kunjungan kerjanya di Yogyakarta.

Kedua, giliran cawapres pendamping Prabowo, Sandiaga Salahuddin Uno yang juga menemui Sultan, untuk meminta doa restu berkaitan dengan majunya Sandi dalam kontestasi Pilpres 2019. Pertemuan yang berlangsung pada 12 Oktober 2018 lalu itu, juga digelar di Keraton Kilen.

Selanjutnya, pada 15 Oktober 2018, Cawapres Jokowi, Ma’ruf Amin juga “bertamu” ke kediaman Sultan, dalam rangka safari politiknya di Yogyakarta.

Tinggal Capres, Prabowo Subianto yang belum bertemu Sultan. Namun Sandiaga, saat ditanya wartawan menyatakan bahwa Prabowo juga berencana “sowan” Sultan, dalam waktu dekat.

Lalu, ke mana arah dukungan keluarga Keraton Yogya?

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi, yang merupakan putri tertua Sultan menyatakan, “Kami netral”.

Menurutnya, keraton sebagai pusat budaya yang mempunyai tanggung-jawab untuk menyampaikan tentang keindonesia, maka tetap menjaga netralitasnya.

“Ngarso Dalem (Sultan HB X) sendiri sudah bersama banyak presiden dari dulu. Beliau juga sempat membantu ayahandanya (Sultan HB IX) saat menjabat Wapres. Itu artinya, pengalamannya sudah sangat banyak. Mungkin karena itu, beliau dimintai nasehat, tentang seperti apa dan bagaimana keindonesiaan kita,” imbugnya, saat ditemui di Sleman, Senin (15/10/2018).

Sementara sebelumnya, Pengamat politik UGM, Bayu Dardias berpendapat, meskipun menjadi semacam “ritual” yang dilakukan oleh para kandidat capres-cawapres menyambangi Sultan, setiap kali jelang Pilpres. Namun, kunjungan para kandidat ke Sultan, sama halnya dengan kunjungan mereka ke para ulama untuk meminta dukungan.

“Capres juga mengunjungi Kyai untuk kepentingan kampanye. Bedanya, Kyai cenderung ditinggalkan begitu pemilu selesai, sementara Sultan tetap akan ditemui karena beliau gubernur,” jelas Bayu, kepada kabarkot.com, 28 September 2018.

Dan Sultan, anggap Bayu, selama ini cenderung netral. Itu sebagai sikap bijak Sultan yang diharapkan Rakyat Yogyakarta. (sutriyati)

Pos terkait