Indonesia Dinilai Memiliki Modal untuk Melakukan Transformasi Sosial

Workshop Social Change: Can Prophets of Justice Actually Work Together? Di Pusat Studi Islam Asia Tenggara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (18/7/2016). (sutriyati/kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Indonesia sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar namun tetap mengedepankan pluralisme, toleransi, dan demokrasi dinilai bisa menjadi modal yang baik untuk melakukan transformasi sosial.

David Elcott, Taub Professor of Practice in Public Service and Leadership New York University, menganggap, Indonesia memiliki posisi yang sangat baik karena masyarakatnya memilki keinginan untuk mempertahankan sisi-sisi tersebut, sementara pihak luar berupaya untuk melakukan perubahan seperti yang ada di Indonesia.

Baca Juga:  Mengatasi Krisis Ekonomi (Bagian-1)

“Ini berbeda dengan misalnya di Arab Spring yang ingin mengusung demokrasi dan hak-hak sipil,” kata David dalam Workshop Social Change: Can Prophets of Justice Actually Work Together? Di Pusat Studi Islam Asia Tenggara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (18/7/2016).

Dalam melakukan perubahan, lanjutnya, kemenangan sekecil apapun melalui perubahan transaksional sekalipun, menjadi hal yang sangat penting guna mendorong perubahan yang transformasional. “Kalau ingin melakukan perubahan transformasional, jangan dimulai dari pemikiran kita tapi dimulai dari apa yang dipikirkan ataupun ditakutkan masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga:  UAJY Luncurkan Chinese Corner

Karenanya, pelaku perubahan perlu menjadi pendengar yang baik sebelum menyampaikan gagasan yang ideal untuk menyelesaikan permasalahan.

“Hati-hati untuk menghakimi. Kita perlu mendengarkan, menemukan, dan mempercayai supaya bisa memahami bahwa semua orang ingin lebih baik dan dari situ mencari jalan masuknya,” tegas David. (Rep-03/Ed-03)