Nurul Atik, si Mantan Cleaning Service yang Sukses Kelola Bisnis Fried Chicken

  • Whatsapp

Nurul Atik (dok. kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Roda kehidupan selalu berputar, tidak selamanya orang yang hidupnya “di bawah” akan selalu berada di bawah, begitu pun sebaliknya.

Bacaan Lainnya

Tapi, untuk bisa bergerak ke level atas, tentu ada usaha dan doa yang menyertai perjalan hidup seseorang. “Man Jadda Wajada”, yang berarti Barang siapa yang bersungguh-sungguh, dia pasti akan berhasil.

Itu pula yang gambaran hidup seorang Nurul Atik, pria asal Jepara Jawa Tengah yang kini sukses menggeluti bisnis fried chicken (ayam goreng), di bawah bendera PT Rocket Chicken Indonesia

Siapa sangka, bapak tiga anak ini sebelum sukses mengembangkan bisnis ayam goreng, dulunya adalah seorang cleaning service sebuah restoran cepat saji di Semarang, Jawa Tengah.

Keterbatasan ekonomi di keluarganya, Nurul kecil yang merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara ini terpaksa memupus cita-citanya menjadi seorang polisi. Kedua orang tuanya yang menjadi buruh tani dan kadang juga tukang batu, bersusah payah untuk bisa membiayai sekolah Nurul dan saudara-saudaranya hingga ke jenjang SMA.

Dari Cleaning Service sampai Area Manager

Secara akademik, Nurul mengaku, prestasinya tak menonjol, bahkan beberapa mata pelajaran, nilainya terbilang “jeblok”. Karena ketika lulus, pria kelahiran Jepara, 25 Juni 1966 ini cukup kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, hingga di tahun 1989, ia mendapatkan pekerjaan sebagai cleaning service, dengan gaji awal Rp 35 ribu per bulan.

Dua tahun menjadi tukang bersih-bersih, Nurul mulai dipercaya oleh pihak restoran sebagai tukang cuci piring. Naik lagi menjadi tenaga bantu di dapur hingga juru masak. Tak berhenti sampai di situ, jenjang karir yang ia tapaki pelan tapi pasti mengantarnya menduduki posisi area manager di restoran tersebut. Namun di tahun ke sembilan, Nurul memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya, untuk memulai usaha sendiri.

“Di posisi (area manager) itu, saya sudah tidak ada jenjang karir untuk naik lagi. Saya kemudian diberi modal untuk mendirikan fried chicken sendiri, yang imulaianya dari Yogya waktu itu,” ungkap Nurul, saat ditemui di kantornya, Jumat (25/1/2019).

Namun, karena ada ketidakcocokan pandangan dengan rekan bisnisnya, Nurul memilih mundur posisi direktur, dengan gaji yang sebenarnya sudah lumayan bagus. Lalu, selama dua tahunan, ia berjualan aneka gorengan, di wilayah Kalasan, Sleman.

“Di sinilah saya menguji mental saya, suatu saat, kalau saya tidak merasakan, terjun kerja sendiri seperti ini. Ternyata, mental saya sepertinya lolos,” kenang suami Emy Setiawati ini.

Ispirasi Nama dari Kamar Mandi

Baru sekitar awal tahun 2010, Nurul memberanikan diri merintis usaha fried chicken, dengan menggandeng kakaknya sebagai frenchisee. Padahal saat itu, peluang investasi bisnis yang ia tawarkan masih di awang-awang.

Setelah berhasil meyakinkan saudaranya tersebut, pada 21 Februari 2010, Nurul mulai membuka gerai pertamanya di Semarang, Jawa Tengah, dengan nama “Rocket Chicken” yang kini familiar di masyarakat, termasuk di Yogyakarta.

Awalnya, lanjut Nurul, nama yang akan ia pakai adalah Royal Chicken, namun berdasarkan masukan yang pada intinya dinilai kurang menjual. Lalu terbesit nama Real Chicken, itu pun juga dianggap sebagai filosofi rel kereta yang selalu di bawah.

“Saya dapat nama Rocket Chicken itu juga dari kamar mandi, karena sudah pusing dan stres dua usulan nama sebelumnya dianggap tidak bagus,” ungkapnya.

Makna Sukses bagi Nurul

Berbekal pengalaman sebagai pekerja di restoran cepat saji selama sembilan tahun, akhirnya usaha Nurul berbuah manis. Dari awalnya hanya satu gerai berkembang menjadi beberapa gerai, kini memasuki tahun ke-9, sedikitnya telah ada 486 gerai yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia, kecuali Sulawesi. Jika di awal usahanya, jumlah karyawannya baru belasan, kini total pekerjanya mencapai 6.000-an orang, yang rata-rata lulusan SMA.

Berbagai penghargaan sudah ia raih, sebagai bentuk “reward” atas jerih payahnya membesarkan usahanya bersama tim. Kuncinya, pada kebersamaan dan rasa benar-benar memiliki sehingga terbangun team work yang solid.

Meski sudah berada di puncak kesuksesan seperti sekarang, Nurul yang tinggal di Jalan Rocket, Dusun Dukuh, Desa Sidomoyo, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, DIY ini tak lantas berbangga diri. Baginya, ukuran kesuksesan itu justru ketika dirinya telah mampu mengantar para karyawannya bisa meniti kesuksesan, bahkan sampai melebihi dirinya.

Ayah dari Gita Amirul Destisari (21), serta si kembar, Salma Amirul Karimah (15), dan Salsa Amirul Azizah (15) ini juga terkenal dermawan. Terbukti ada beberapa warga di dusunnya yang pernah ia berangkatkan ibadah Umroh, termasuk juga beberapa karyawannya. (Rep-01)