Sultan Harap Biaya Deteksi Covid-19 dengan GeNose UGM bisa lebih Murah

Ilustrasi: Sultan saat mencoba alat GeNose buatan UGM (dok. Humas Pemda DIY)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X berharap, dengan biaya deteksi Covid-19 dengan GeNose buatan UGM, maka biaya bisa lebih murah dibandingkan tes swab (PCR).

GeNose ini sekarang masih uji klinis. Itu cara pakainya disebul (ditiup),” ungkap Sultan, Kamis (15/10/2020).

Sebelumnya, Sultan sempat mencoba alat pendeteksi Covid-19 buatan UGM tersebut. Menurutnya, kantong plastik penampung udara dari hembusan nafas itu sekali pakai sehingga perlu dihitung harga pastinya.

Namun, pihaknya meminta, agar alat tersebut bisa segera selesai pengujiannya sehingga cepat diproduksi. Mengingat, sudah ada sejumlah Rumah Sakit yang memesan alat yang disebut-sebut bisa mendeteksi Covid-19 melalui hembusan nafas dalam waktu yang terlatif singkat itu.

Baca Juga:  Akses Informasi Publik tentang Pandemi Covid-19 di DIY masih Minim

Sultan juga menceritakan, ketika dirinya mencoba alat tersebut, hasilnya memang langsung muncul. Hanya saja, yang bisa membaca hasil tersebut hanya dokter sehingga Gubernur juga berpesan agar nanitinya tidak terjadi manupulasi data dari hasil deteksi Covid-19 dengan GeNose.

Sementara sebelumnya, salah satu peneliti GeNose, Dian Kesumapramudya Nurputra menjelaskan, jika proses pengujian selesai, maka sekitar pertengahan November 2020, produksi awal GeNose bisa mulai dikerjakan.

Baca Juga:  Ingin Buat Power Bank Sendiri? Ini caranya

Pihaknya juga menuturkan bahwa kantong plastik yang dipakai saat ini masih menjadi hambatan karena harganya relatif masih tinggi. Untuk itu UGM juga menggandeng seorang produsen plastik untuk mendesain plastik khusus yang harganya bisa lebih mudah namun tidak mempengaruhi fungsi sensor, serta limbahnya bisa diminimalisir,

“kalau pakai plastik sekarang, per orang bisa mencapai Rp 40 ribu – Rp 50 ribu tapi dengan desainnya beliau ini nanti per orang bisa Rp 10 ribu, jadi biaya pemeriksaan per orang bisa hanya Rp 15 ribu,” paparnya.

Baca Juga:  Rencana Studi AMDAL Bandara Kulon Progo Dinilai Cacat Hukum

Dalam proses pengujian kali ini, lanjut Dian, posisi GeNose masih menjadi alat skrining yang mendampingi rapid dan PCR.

“Alat ini sistemnya Artificial Inteligent (AI). Artinya, semakin banyak dia melakukan tes, maka akurasinya akan semakin naik,” tegasnya.

Untuk kebutuhan pengujian sekarang, sambung dia, standarnya minimal bisa menguji 1.600 subyek orang atau sekitar 3.204 ribuan sampel nafas agar bisa mencapai level baik untuk sebuah alat diagnostik yang berbasis kecerdasan buatan. (Rep-01)