Sosiolog senior Prof. Sugeng Bayu Wahyono membahas situasi nasional yang memprihatinkan akibat banjir besar di Sumatra khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Padang yang diperparah oleh banjir kayu gelondongan.
Ia menyampaikan empati mendalam kepada warga terdampak, namun menegaskan bahwa banjir ini bukan semata bencana alam, melainkan bencana akibat ulah manusia yang berakar pada kegagalan tata kelola ruang, pemerintahan, dan kepemimpinan.
Menurut Prof. Bayu, bencana berulang ini merupakan dampak dari pembangunanisme sejak era Orde Baru yang lebih menekankan eksploitasi sumber daya alam ketimbang peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kerusakan hutan, pertambangan, dan ekspansi sawit berlangsung sistematis dan kian memburuk di era Reformasi, termasuk akibat otonomi daerah.
Di sisi lain, Indonesia menghadapi krisis kepemimpinan karena praktik politik transaksional yang melahirkan pemimpin berkapasitas rendah dan rawan korupsi. Penanganan bencana, tegas Prof. Bayu, harus dilakukan melalui pendekatan struktural dan kultural, bukan sekadar solusi individual.
Ia mencontohkan Ignasius Jonan sebagai praktik baik kepemimpinan yang mampu membangun kepercayaan dan mengubah perilaku publik lewat sistem pelayanan yang konsisten. Dalam situasi darurat, yang dibutuhkan adalah kolaborasi, komunikasi produktif, dan energi positif antara pemerintah dan masyarakat—bukan saling menyalahkan.







