Ketoprak Gaya Baru

Tim “The New Ketoprak” saat konferensi pers di Hamzah Batik (2/9/2016)(Anisatul Umah/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Menarik kembali minat anak muda akan kesenian ketoprak melalui pementasan “The New Ketoprak”. Hamzah Batik selaku penyelenggara beranggapan dengan pementasan ini tujuan kontribusi di dalam seni tradisi akan tersalurkan.

“The New Ketoprak menggunakan bahasa Indonesia agar bisa diterima banyak kalangan. Tetap memakai jarik sebagai ikon jawa,  tetapi dikombinasikan dengan mahabarata dari India dengan pertunjukan yang kekinian,” terang Pimpinan produksi, Ardan Budiana dalam konferensi pers di Hamzah Batik (2/9/2016).

Baca Juga:  6 Anak Berkebutuhan Khusus terima Bantuan Alat Bantu Dengar

Ardan Budiana menambahkan pementasan ketoprak ini sudah berjalan tiga kali, yang dipentaskan setiap hari kamis minggu kedua pukul tujuh malam di lantai tiga Hamzah Batik.

Pertunjukan ini berkisah tentang sejarah berdirinya Kesultanan Yogyakarta oleh Pangeran Mangkubumi dengan maksud penonton paham akan sejarah keraton, tidak hanya mengenal bentuk bangunannya saja.

Pertunjukan ini digawangi oleh tim beranggotakan Sutradara Felmy Febrianto, Pimpinan Produksi Ardan Budiana, Penata Cahaya Lintang Raditya, Penata Musik Budhi Pranomo, Tata Artistik Cosmas Indarto Kobar, Penata Tari Agus Koreo, dan Penata Busana Bram Lazuiardie.

Baca Juga:  Ini Penjelasan BMKG soal Gelombang Tinggi di Pesisir Selatan

Sutradara pementasan,  Felmy Febrianto, menceritakan dirinya sempat beberapa kali bertemu anak muda yang ketika diajak menyaksikan ketoprak mereka anggap kuno. Namun dipementasan ini, tambah Febri, akan menampilkan ketoprak dengan gaya baru.

“Ketoprak ternyata bisa dikerjakan dengan modern,” ungkapannya.

Secara teknis pertunjukan ini pengadegannya dengan dabing untuk mempermudah teknis dan untuk mengatasi jika pemain tidak hadir.

“Meskipun pakai dabing tetap ada improve,” tuturnya.

Baca Juga:  Pasca Longsor, Pemkot Yogya akan Pasang Tanggul sementara di Kampung Serangan

Cerita ringkas dari pertunjukan ini menceritakan juga tentang perjanjian Giyanti 1755. Di mana saat Belanda mencengkram Surakarta, Pangeran Mangkubumi melawan bersatu dengan Raden Mas Sahid. (Rep-04/Ed-01)