Mengapa NU Tak Pernah Sepi Konflik? Membaca Akar Guncangan Tanfidziyah–Syuriah

Hari-hari ini, publik kembali disuguhi tontonan konflik internal di tubuh Nahdlatul Ulama (NU), khususnya ketegangan antara Tanfidziyah dan Syuriah. Mengapa organisasi massa Islam terbesar di Indonesia ini seolah tidak pernah sepi dari guncangan? Apakah benar pemicunya hanyalah persoalan konsesi tambang atau tuduhan elit yang pro terhadap Israel? 

Dalam episode kali ini, kita berbincang hangat dengan Dr. Saifuddin Zuhri, seorang sosiolog, Rektor STIE-SBI Yogyakarta, sekaligus peneliti yang mendalami perubahan perilaku elit NU. Beliau membedah bahwa untuk memahami kekisruhan ini, kita harus melihat NU dalam dua dimensi: NU sebagai culture (nilai/tradisi) dan NU sebagai organisasi. Poin-poin penting yang dibahas dalam video ini:

  • Akar Konflik: Mengapa guncangan di NU dianggap fenomena lama yang terus berulang karena karakter, identitas, dan sejarahnya sendiri.
  • Triger dan Rumor: Menelisik isu pengelolaan tambang dan kunjungan ke Israel sebagai pemantik konflik di tengah keterbukaan demokrasi.
  • Pergeseran Perilaku Elit: Bagaimana modal sosial NU yang besar kini mulai dikapitalisasi oleh para elitnya untuk masuk ke ranah politik praktis dan bisnis.
  • NU sebagai Aset Bangsa: Mengapa stabilitas NU sangat krusial bagi Indonesia, mengingat perannya sebagai bandul penyeimbang dalam wacana konflik ideologis.
  • Kekosongan Tokoh Sentral: Hilangnya sosok pemersatu seperti Gus Dur dan bagaimana dampaknya terhadap mekanisme penyelesaian konflik saat ini.
  • Solusi Rekonsiliasi: Harapan agar para kiai sepuh berkumpul melakukan rekonsiliasi dengan pendekatan karismatik, bukan sekadar jalur hukum formal.

Konflik di tubuh NU bukan hanya kerugian bagi warga Nahdliyin, tapi juga kerugian bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Simak selengkapnya penjelasan mendalam Dr. Saifuddin Zuhri tentang bagaimana ormas sebesar NU harus menjaga nilai-nilai moderasinya di tengah arus modernitas dan kepentingan politik.

Pos terkait