YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Seorang abdi dalem perempuan dipapah oleh dua abdi dalem lainnya, keluar dari sebuah bangunan dalam kompleks keraton Yogyakarta menuju ke petugas Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K). Dia teriak-teriak kesakitan dan panas.
Sementara asap putih membubung dari bangunan itu. Rupanya gedung tersebut kebakaran. Seorang abdi dalem laki-laki mencoba memadamkan api dengan Alat Pemadam Kebakaran Ringan (Apar) tetapi tidak berhasil.

Sesaat kemudian, mobil Pemadam Kebakaran (Damkar) tiba. Karena tidak bisa masuk mendekati bangunan yang terbakar, beberapa abdi dalem membantu petugas Damkar menyemprotkan selang air ke dalam kompleks keraton.
Sementara beberapa korban lainnya juga mengalami luka-luka dan ditangani oleh para petugas P3K yang juga ditangani oleh abdi dalem, sebelum dibawa ke ambulans.
Kebakaran yang terjadi Senin (17/11/2025) pagi hingga siang itu bukan peristiwa sebenarnya, melainkan simulasi penanganan kebakaran oleh Tim Teknis Penanganan Kebakaran Abdi Dalem (MKKG) Keraton Yogyakarta, yang digagas oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, sejak 10 November 2025 lalu.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara Pemda DIY, melalui BPBD dengan Keraton Yogyakarta.
“Kami menyadari bahwa Keraton Yogyakarta ini merupakan cagar budaya hidup dan aset yang sangat mahal dan berarti bagi kita. Termasuk warisan dunia yang tak ternilai,” ungkap Ruruh usai simulasi, di Keraton Yogyakarta.
Menurutnya, Pelatihan MKKG ini dirancang dengan pendekatan tiga pilar, yang tidak hanya berfokus pada aspek teknis mata tetapi juga pada pembangunan karakter tangguh bencana. Pilar pertama, pengetahuan kognitif yang mendalam.
“Peserta tidak hanya diajari cara memadamkan api, tetapi lebih dahulu diajak memahami api. mulai dari teori segitiga api, klasifikasi bahan bakar, hingga identifikasi titik-titik rawan bahaya kebakaran di lingkungan keraton yang unik dan spesifik,” paparnya.
Pilar kedua, keterampilan motorik yang terasah, seperti penggunaan Apar, pemadaman dengan karung basah, dan teknik evakuasi menjadi jantung dari pelatihan ini. Pilar ketiga, pembentukan sikap dan mental siaga. “Kami berusaha menanamkan budaya perlindungan dan sikap waspada dalam setiap aktivitas,” sambungnya.
Pihaknya berharap melalui pelatihan ini, para abdi dalem keraton bisa melakukan kesiap-siagaan, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti antisipasi bahaya kebakaran.
Sementara itu, Penghageng KHP. Datu Dana Suyasa Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu menambahkan bahwa akses mobil Damkar masuk ke kompleks keraton memang sulit sehingga pelatihan ini penting untuk mempersiapkan para abdi dalem dalam melakukan penanganan, ketika bencana kebakaran terjadi.
“Di sini, abdi dalem juga banyak yang sudah sepuh (tua). Jadi, pelatihan ini benar-benar diperlukan,” ucap putri Raja Keraton Yogyakarta ini. (Rep-01)







