JAKARTA (kabarkota.com) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino tahun 2014/2015 bersifat moderat. Adanya indikator suhu muka laut di Pasifik menunjukkan fenomena yang sama dengan kejadian El Nino tahun 1997.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, dampak yang ditimbulkan untuk wilayah Indonesia adalah kemarau panjang dan kering.
"Belajar dari sebelumnya, dampak El Nino tahun 1997 di Indonesia sangat besar. Terjadi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan yang luas, krisis pangan, dan krisis energi serta makin memicu krisis ekonomi dan politik," ungkap Sutopo.
Sutopo menjelaskan, daerah hutan dan lahan gambut yang terbakar saat itu 2,12 juta ha dengan emisi karbon 0,81 – 2,57 PgC (kali 10 pangkat 15 gram Carbon) atau setara 13 – 40% emisi kebakaran hutan dunia. Dampak yang luar biasa menyumbangkan emisi gas rumah kaca ke atmosfer.
Untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan, kata Sutopo, BNPB bersama kementerian/lembaga dan BPBD telah melakukan antisipasinya, khususnya di 9 prov yaitu Sumut, Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, dan Kaltara. Bupati, Walikota dan Gubernur tetap sebagai penanggung jawab.
Menurutnya, Kepala BNPB Syamsul Maarif terus memimpin koordinasi potensi nasional untuk pendampingan kepada Pemda. BNPB menyiapkan dana siap pakai Rp 355 milyar untuk mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan tersebut.
"Saat ini 3 helicopter yaitu Bolco, Kamov dan Sikorsky telah ditempatkan di Riau untuk pemadaman api dan asap. Modifikasi cuaca dengan pesawat Casa dan Hercules juga masih beroperasi. Sedang helicopter MI-8 telah ditempatkan di Palembang dan Palangkaraya." terang dia.
Ditambahkan Sutopo, 2.500 personil TNI dan Polri siap dimobilisasi jika diperlukan. Beberapa SOP dan peraturan telah disusun oleh kementerian/lembaga sebagai dasar pelaksanaan.
Pada Senin (23/6) hotspot di Riau terdeteksi 236 titik yaitu di Bengkalis 46, Kampar 17, Kuansi 10, Dumai 29, Pelalawan 19, Rokan Hilir 97, Rokan Hulu 11, dan Siak 7. Antipasi dan pemadaman api harus terus dilakukan secara total jika tidak ingin bencana tahun 1997 terulang kembali. (bay)






