Antisipasi Risiko Bencana Hidrologi di Musim Penghujan, Ini yang dilakukan Pemkot Yogyakarta

Ilustrasi: proses normalisasi sungai Code di Embung Mergangsan, Kota Yogyakarta. (dok. kabarota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Sekitar bulan September – Oktober 2025, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memasuki peralihan dari musim kemarau ke penghujan. Salah satu yang perlu diwaspadai di musim pancaroba ini adalah potensi cuaca ekstrem.

Di Kota Yogyakarta, salah satu cara untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem adalah melalui kesiapsiagaan bencana, khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) karena bisa berdampak pada luapan air sungai, saat terjadi hujan lebat.

Bacaan Lainnya

Koordinator Kecamatan (Korcam) Taruna Siaga Bencana (Tagana) Ngampilan, Sumadi mengungkapkan, wilayah Kemantren (Kecamatan) Ngampilan yang sebagian berada di bantaran Sungai Winongo ini terdapat sedikitnya tujuh titik rawan banjir, yang terdiri dari empat titik di Kelurahan Ngampilan, dan tiga titik di Kelurahan Notoprajan.

“Kami telah melakukan apel siaga di kemantren dan sosialisasi di daerah rawan bencana,” jelas Sumadi kepada kabarkota.com, pada Minggu (21/9/2025).

Selain itu, 7-10 personil Tagana di Kematren Ngampilan telah disiagakan bersama tambahan personel dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kampung Tangguh Bencana (KTB) Ngampilan, Serangan, dan Tejokusuman. “Kami saling bahu-membahu bekerjasama dalam penanganan pra maupun pasca bencana,” sambungnya.

Dua alat Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini juga telah dipasang di sepanjang bantaran Sungai Winongo, khususnya di wilayah Kemantren Ngampilan. “Semoga di musim penghujan ini tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” harapnya.

Menurut Sumadi, selama ini, banjir besar yang berdampak di wilayah Ngampilan pernah terjadi pada tahun 1984,1989, dan 2010.

“Banjir besar pada tahun 2010 itu akibat banjir lahar dingin Gunung Merapi. Prinsipnya, ketika Sungai Code meluap, Sungai Winongo masih landai. Tapi begitu Sungai Code surut, maka giliran Sungai Winongo yang meluap,” paparnya.

Tumpukan sampah di aliran Sungai Winongo, tepatnya di wilayah Kemantren Jetis dan Tegalrejo, Kota Yogyakarta. (dok. kabarkota.com)

Meski demikian, tidak ada kerusakan besar yang terjadi, selain talut longsor dan banyak sampah. Hanya saja, ketika itu belum terbentuk badan-badan kebencanaan, seperti Tagana dan BPBD sehingga warga melakukan penanganan bencana secara bergotong-royong. “Kalau sekarang, semua talut telah diperbaiki,” tegasnya.

Pemkot Yogyakarta Pasang 26 Unit EWS di Tiga Sungai Besar

Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui BPBD juga telah menegaskan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi pada musim hujan tahun ini.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat mengatakan, pada bulan September hingga November, potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai angin kencang perlu diantisipasi. Terlebih, di bantaran Sungai Code, Winongo, dan Gajahwong yang aliran airnya melintasi Kota Yogyakarta.

Di Kota Yogyakarta, sebut Nur, terdapat 26 titik pemasangan EWS yang tersebar di tiga sungai besar terebut. “Tahun 2025 ini, kami menambah sembilan unit EWS otomatis, dari sebelumnya 17 unit manual. Memang sempat ada satu EWS yang rusak di Keparakan, tetapi sudah diperbaiki. Pada Oktober nanti juga akan dilakukan simulasi penggunaan EWS untuk memantau ketinggian air sungai,” jelasnya kepada wartawan di Balaikota Yogyakarta, pada 18 September 2025.

Selain itu, pihaknya juga memantau kelayakan peralatan lain seperti sensor, perangkat evakuasi, hingga sarana pendukung di 169 KTB di Kota Yogyakarta. Termasuk, memberikan pembinaan, melalui pelatihan keterampilan penanggulangan, mitigasi ancaman, hingga simulasi jalur evakuasi.

Berdasarkan pemetaan BPBD Kota Yogyakarta, daerah rawan bencana hidrometeorologi tersebar di hampir seluruh kemantren dengan tingkat risiko berbeda-beda. Misalnya, banjir dan genangan di wilayah bantaran Sungai Code, seperti Gondokusuman, Jetis, dan Gedongtengen. Sedangkan Sungai Winongo, titik rawannya berada di Tegalrejo, Ngampilan,dan Mantrijeron. Semetara wilayah Umbulharjo, Kotagede, dan sekitar termasuk daerah rawan bencana di bantaran Sungai Gajahwong.

Kemudian, sebut Nur, risiko tanah longsor juga mengancam di titik tebing di Kotagede, Umbulharjo, dan Kraton. Risiko pohon tumbang di jalur-jalur protokol dengan pepohonan besar, seperti Jalan Kusumanegara, Jalan Wahid Hasyim, Jalan Kyai Mojo, dan kawasan sekitarnya. Kawasan padat pemukiman di 14 kelurahan juga rawan genangan saat curah hujan tinggi.

Untuk itu, pihaknya telah berupaya melakukan antisipasi lintas perangkat daerah. Diantaranya, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman memperbaiki drainase dan talut di titik rawan longsor, Pembersihan saluran air dan selokan juga terus dilakukan. Sedangkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan pemangkasan pohon besar agar tidak menimbulkan risiko tumbang.

Konferensi pers BPBD Kota Yogyakarta tentang kesiapsiagaan bencana menghadapi risiko bencana hidrologi, di Kompleks Balaikota Yogyakarta, pada 18 Agustus 2025. (dok. istimewa)

Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan Dan Data Informasi Komunikasi Kebencanaan BPBD Kota Yogya, Iswari Mahendrarko mengaku telah menerbitkan Surat Edaran Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta Nomor 100.3.4.4/1155 tentang Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Cuaca Ekstrem pada periode peralihan musim kemarau ke musim hujan sekitar bulan September–Oktober 2025. Surat ini ditujukan kepada masyarakat, termasuk KTB dan wilayah-wilayah lain, guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. (Rep-01)

Pos terkait