YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Dua ruangan di lantai dua Pendhapa Art Space Yogyakarta dipenuhi dengan ratusan karya seni tiga dimensi, berupa patung dan relief. Berbeda dengan patung-patung yang dihasilkan oleh para pematung profesional, 125 patung yang dipamerkan dalam Art Fun PAS Showcase ini merupakan karya dari anak-anak usia 6 – 12 tahun. Bahkan 30 patung diantaranya dibuat oleh anak-anak penyandang disabilitas tuli dan down syndrome.
Bahan-bahan yang mereka gunakan untuk membuat karya tiga dimensi tersebut juga beragam. Mulai dari clay yang sebagian dipadu dengan botol-botol bekas, floral foam hingga kertas karton.

Pameran ini sebenarnya untuk hasil proses sih, bukan hasil akhir. Tapi kita memaksimalkan prosesnya dulu kita pamerkan. Karena proses itu bagian dari pembelajaran sih sebenarnya. Ada foto, ada karyanya, ada bahan juga. Itu sih sebenarnya, lebih ke proses dulu.
Pameran pertama ini ada 125 karya ditampilkan Dengan berbagai media. karya dari anak disabilitas dan non disabilitas dari sejumlah sanggar yang dibuat sejak bulan Mei 2025. Bahkan, sekitar 30 karya tersebut dibuat oleh anak penyandang disabilitas tuli dan down syndrome.
Fasilitator program, Reynaldo Ferna Putra Perdana menjelaskan, ratusan karya dalam berbagai media kali ini dibuat oleh anak-anak dari sejumlah sanggar seni, sejak bulan Mei 2025.
“Pameran ini sebenarnya hasil proses, bukan hasil akhir. Kami memaksimalkan prosesnya dulu untuk dipamerkan, karena proses itu bagian dari pembelajaran,” jelas Aldo kepada wartawan di Pendhapa Art Space Yogyakarta, baru-baru ini.
Menurut Reynaldo, rata-rata anak-anak membutuhkan waktu sekitar 2.5 jam untuk menyelesaikan hasil karyanya. “Mereka bisa memvisualkan bentuk yang mereka inginkan,” ucapnya.
Ia mencontohkan, patung burung yang dibuat oleh anak penyandang disabilitas down syndrome menjadi salah satu karya yang cukup menarik, karena mereka bisa bisa membentuk paruh dan sayap dengan menggunakan media botol bekas dan dipadu dengan clay warna putih.
Pendhapa Institute Dorong Pendidikan Seni yang Inklusif dan Transformatif
Sementara itu, Hardiwan Prayogo selaku Manajer Program Pendhapa Institute dan kurator pameran menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk mendorong pendidikan seni yang inklusif dan transformatif, termasuk bagi anak-anak.
Hardiwan menuturkan, seni patung sengaja dipilih sebagai metode yang berawal dari keyakinan bahwa kesenian ini akan mengajarkan anak-anak pada aspek motorik dan spasial. Motorik karena seni patung menuntut sentuhan dan interaksi fisik dengan materialnya. Sedangkan spasial, karena sebagai seni tiga dimensi.
“Seni patung mengharuskan kita memahami lebih dalam soal ruang yang nyata, bukan sekadar dua dimensi,” anggapnya.
Selain itu, imbuh Hardiwan, seni patung sebagai metode belajar ini juga mengacu pada metode Early Childhood Care and Development (ECCD) Holistik, yakni metode yang diyakini menjadi jalan untuk membentuk fondasi manusia berkualitas, dari usia anak 6-12 tahun dan berlanjut ke usia remaja 12 – 18 tahun, melalui proses pendidikan yang disebut sebagai Centre Based.
“Centre based memiliki elemen yang lebih kompleks, karena anak mulai mengenal institusi di luar rumah mulai dari sekolah, organisasi masyarakat, pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan sebagainya,” sambungnya. Berbagai rincian metode ECCD Holistik ini akan bertemu dengan kompleksitas masyarakat yang sangat beragam.
Lebih lanjut Hardiwan menambahkan, kegiatan kali ini bertujuan untuk mengajak anak-anak melihat seni patung sebagai bagian dari keseharian dan ruang bermain, yang mendukung proses tumbuh kembang mereka. Selain itu, kegiatan ini menempatkan anak-anak sebagai subjek partisipan aktif, yang salah satunya ditunjukkan melalui karya mereka.
Selain pameran, dari 18 – 31 Oktober 2025, mereka juga menggelar serangkaian kegiatan, seperti Pop Up Market, Workshop Melukis Ornamen Magnetik, Art Fun PAS For Children Edisi 10, dan Workshop Pendampingan Disabilitas di Ruang Seni bersama Jogja Disability. (Rep-01)







