SLEMAN (kabarkota.com) – Lebih dari setengah abad, antropolog asal Jepang ini menjadi peneliti Islam di Indonesia. Dia adalah Mitsuo Nakamura, seorang profesor emeritus antropologi di Chiba University.
Ia ,baru-baru ini, meluncurkan buku “Mengamati Islam di Indonesia 1971-2023: Kajian Antropologi Budaya Prof. Emeritus Mitsuo Nakamura”.
Buku setebal 718 halaman ini, kata Nakamura, merupakan catatan kaki yang agak panjang terhadap kariernya sebagai peneliti Islam di Indonesia. Sekaligus ucapan terima kasih kepada orang-orang yang telah membantunya dalam proses penelitian tersebut.
“Buku ini adalah catatan kaki yang agak panjang terhadap karier peneliti saya tentang Islam di Indonesia… Selama kurang lebih 52 tahun,” ungkap Nakamura dalam Peluncuran dan Diskusi Buku “Mengamati Islam di Indonesia 1971 – 2023”, di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Nakamura berpendapat bahwa antropolog itu ilmu tentang manusia. Jadi ketika penelitiannya ditulis, maka hasilnya itu dikembalikan kepada orang-orang yang telah membantu peneliti.
“Menurut saya, etika antropologi,” anggapnya.
Selain itu, Nakamura berharap. melalui bukunya, masyarakat termasuk mahasiswa dapat melihat secara objektif tentang Islam yang digambakan oleh orang asing.
Dalam bukunya ini, Nakamura juga menuliskan tentang sosok Khahar Muzakir yang merupakan rektor pertama UII Yogyakarta. Sekaligus tokoh Muhammadiyah di Kotagede.
“Hubungan uii dgn Jepang sangat berarti. Sebelumnya, Pak Khahar sudah diundang ke Jepang saat ada konferensi Islam Global, pada tahun 1939,” tuturnya.
Rektor: Buku ini Memiliki Makna Istimewa bagi UII
Rektor UII, Fathul Wahid berpendapat bahwa buku ini bukan sekadar kumpulan esai, melainkan sebuah lensa panjang yang memungkinkan publik untuk menengok perubahan sosial, kultural, dan keagamaan bangsa ini selama lima dekade terakhir.
Menariknya, sebut Fathul, meskipun tulisan pertama dalam buku ini ditulis pada tahun 1971, cakupannya jauh melampaui rentang waktu tersebut. “Prof. Nakamura mengajak kita kembali menelusuri peristiwa-peristiwa penting jauh sebelum itu, termasuk dinamika umat Islam di tahun 1930-an,” paparnya.
Rektor UII menyebut, buku ini bukan hanya potret kontemporer, melainkan juga pemahaman historis yang mendalam mengenai akar-akar gerakan Islam di Indonesia.
Sedangkan bagi UII, anggap Fathul, buku ini memiliki makna istimewa. Mengingat, salah satu esai penting di dalamnya mengulas Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir, Rektor pertama UII dan tokoh gerakan pembaruan Islam di Indonesia.
“Melalui tulisan ini, kita dapat melihat bagaimana gagasan dan perjuangan beliau, baik dalam pendidikan maupun dakwah, menjadi bagian dari arus besar transformasi Islam Indonesia”. Irisan ini mengingatkan kita bahwa perjalanan UII bukanlah entitas yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari ekosistem keilmuan dan gerakan sosial-keagamaan yang turut membentuk wajah bangsa.
Lebih lanjut Fathul mengatakan, sebagai seorang antropolog yang tekun sekaligus sahabat bagi banyak tokoh Islam Indonesia, Prof. Nakamura telah menjadi saksi perjalanan panjang Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan berbagai ekspresi Islam lainnya, dari masa kolonial hingga era reformasi.
“Perspektif lintas generasi inilah yang menjadikan buku ini berharga: ia membantu kita melihat bagaimana gagasan,
konflik, dan rekonsiliasi terbentuk, serta bagaimana itu semua membentuk wajah Islam Indonesia hari ini,” sambungnya. Di tengah dunia yang kian terpolarisasi saat ini, masyarakat perlu terus merawat ruang dialog, menjaga integritas akademik, dan menghadirkan riset yang jujur sekaligus kritis.
Membedah Buku Nakamura
Sementara dalam sesi diskusi, Budayawan, Achmad Charris Zubair berpandangan bahwa buku Nakamura ini lebih dari sekadar catatan perjalanan intelektual Nakamura, dengan penggambaran daya tahan luar biasa, baik secara akademik maupun non akademik.
Charris menilai, ada satu benang merah yang menghubungkan 61 tulisan dalam buku tersebut. Benang merah yang yang menjadi pesan moral Nakamura sebagai antropolog adalah bahwa ada tiga hal yang dialami dalam kehidupan manusia, yakni agama, kebudayaan, dan ilmu.
“Ada pesan bahwa tiga hal itu tidak boleh dihadapkan secara konfliktual dalam kehidupan manusia,” tuturnya. Oleh karenanya, buku ini sebenarnya bisa menjadi semacam pedoman dalam membangun peradaban di masa depan.
Guru Besar Hukum Perdata Islam UII, Yusdani menilai, buku karya Nakamura ini luar bisa kaya dengan interaksi Islam dan kearifan lokal. “Kita sudah saatnya menggali studi tentang Islam Indonesia”.
Sedangkan Dosen Sosilogi Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Najib Azca menyoroti tentang riset Nakamura yang juga mempelajari tentang Nahdlatul Ulama (NU), meskipun awal risetnya tentang Muhammadiyah di Kotagede. “Beliau memahami dua jangkar Islam di Indonesia secara mendalam”.
“Catatan saya, beliau menganggap NU sebagai organisasi tradisional yang kolot tetapi juga radikal,” tegasnya.
Lain halnya dengan Guru Besar Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Al Makin yang memandang buku ini dari sisi penelitiannya. Ia membahas tentang kedekatan Nakamura pada objek dan subjek penelitiannya.
“Pendekatannya sangat empati dan simpati terhadap dua organisasi Islam di Indonesia,” sebutnya. Prof Nakamura sangat baik dan sopan terhadap tokoh-tokoh yang diteliti.
Hanya saja, Al Makin mengkritisi tentang pembahasan NU – Muhammdiyah dengan pihak luar yang sangat berpengaruh, tetapi tidak banyak disorot dalam buku ini. (Rep-01)







