Cerita Mbah Paijem, Buruh Gendong Lansia di Pasar Beringharjo Yogya

Mbah Paijem, salah satu buruh gendong lansia di Pasar Beringharjo Yogyakarta. (dok. istimewa)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Mbah Paijem, sosok perempuan Lanjut Usia (Lansia) yang sudah 35 tahun bekerja sebagai buruh gendong di Pasar Beringharjo Yogyakarta.

Bacaan Lainnya

Perawakannya kecil, dan rambutnya memutih namun terlihat masih gesit, di usianya yang hampir 70 tahun. Setiap hari, selendang panjang menjadi teman setianya dalam bekerja. Mbah Paijem seringkali menggendong barang dengan berat hingga 25 kg, dari lantai 2 ke parkiran pasar, ketika ada pengunjung pasar yang membutuhkan bantuannya.

Sedangkan upah yang ia terima kisaran Rp 5 ribu – Rp 10 ribu untuk sekali gendong. “Sehari itu kadang saya dapat Rp 30 ribu – Rp 40 ribu… Kalau Rp 30 ribu itu 6 kali gendong,” ungkap Paijem dalam bahasa Jawa, saat ditemui di Pasar Beringharjo Yogyakarta, pada 8 Maret 2025.

Nominal yang sebenarnya tak sebanding dengan jerih payahnya mengangkat barang bawaan berat, naik turun tangga. Apalagi di bulan puasa seperti sekarang.

Tetapi, Mbah Paijem tetap bersyukur dengan rezeki yang ia dapat dari hasil keringatnya tersebut.

“Sebenarnya anak-anak sudah melarang saya untuk bekerja seperti ini,” ucapnya.

Nenek asal Sentolo ini menyebut, ada empat anggota keluarganya di rumah, dan dirinya salah satu yang selama ini mencari nafkah sehingga, dia akan tetap bekerja selama fisiknya masih kuat.

Dengan penghasilan Rp 30 ribu – Rp 40 ribu per hari itu, Mbah Paijem terpaksa tidak bisa pulang ke Kulon Progo setiap hari, karena ongkos transportasinya baginya terhitung mahal.

“Uangnya tidak cukup, karena ongkos pulang-pergi Rp 20 ribu,” tutur perempuan berkaos oranye ini.

Oleh karena itu, setiap malam, Mbah Paijem bersama puluhan buruh gendong lainnya tidur di emperan toko sisi timur Pasar Beringharjo. Beruntung karena selama bulan puasa ini, hampir setiap hari ada menu buka puasa dan sahur gratis dari orang-orang yang peduli.

Mbah Paijem adalah satu dari 200-an perempuan buruh gendong di Pasar Beringharjo yang mendapatkan fasilitas pemeriksaan gratis dan paket sembako dari Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta dan anggota Komisi X DPR RI, pada 8 Maret 2025.

Dari hasil pemeriksaan, ternyata tensi Mbah Paijem cukup tinggi sehingga dia mendapatkan bantuan obat-obatan dan vitamin. Biasanya, ia hanya meminum jamu-jamuan ketika merasakan lelah atau pun badannya sakit setelah bekerja.

Simbolis penyerahan bantuan sembako untuk para perempuan buruh gendong  di pasar Beringharjo Yogyakarta, pada 8 Maret 2025. (dok. kabarkota.com)

Selain itu, ia juga menerima paket sembako dalam tas berwarna merah yang berisi beras, biskuit, gandum, gula, teh, dan minyak.

“Terima kasih sekali,” ucapnya sumringah.

Pemeriksaan Gratis dan Bantuan Sembako untuk Buruh Gendong

Anggota Komisi X DPR RI, Maria Yohana Esti Wijayati mengatakan, pemeriksaan gratis dan pembagian sembako bagi para perempuan buruh gendong kali ini merupakan bagian dari kegiatan memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap tanggal 8 Maret.

“Buruh gendong sebagai simbol perempuan kuat dan berdaya, tetapi tetap harus diperhatikan dari banyak sisi. Seperti, bagaimana keluarganya, sekolah anak-anaknya, dan kesehatannya,” kata Esti.

Interaksi wakil walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan dan Anggota DPR RI, Maria Yohana Esti Wijayati dengan para buruh gendong di Pasar Beringharjo Yogyakarta, pada 8 maret 2025. (dok. kabarkota.com)

Pihaknya berharap, momentum kali ini bisa menggugah seluruh sdi pemerintahan agar lebih peduli terhadap kaum perempuan. Mengingat, perempuan bukan sekadar obyek pembangunan sehingga semestinya kebijakan pemerintah di tingkat pusat maupun daerah bisa menampakkan keberpihakannya kepada perempuan, di berbagai sektor.

Sementara itu, Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan menyatakan dukungannya terhadap kegiatan pemberdayaan perempuan ini. “Kesetaraan gender harus kita perhatikan, kesejahteraan otomatis harus kami kerjakan,” kata Wawan.

Problem Perempuan Buruh Gendong  di Yogya

Dihubungi terpisah, pendamping perempuan buruh gendong di Yogyakarta dari Yayasan Annisa Swasti (Yasanti), Umi Asih mengapresiasi upaya Pemkot Yogyakarta dan anggota DPR RI yang memberikan perhatian kepada para buruh gendong di Pasar Beringharjo tersebut.

Pemeriksaan gratis untuk para buruh gendong di Pasar Beringharjo Yogyakarta, pada 8 Maret 2025. (dok. kabarkota.com)

Menurutnya, selama ini para buruh gendong masih menghadapi sejumlah problem yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah. Diantaranya, fasilitas toilet berbayar di pasar. “Mereka harus bayar Rp 2 ribu – Rp 3 ribu sekali ke toilet. Padahal, seharian bisa 4 – 6 kali. Sementara pendapatan mereka belum tentu,” sesal Asih.

Untuk itu pihaknya berharap, Pemkot bisa memberikan fasilitas toilet gratis bagi mereka. Selain itu, para buruh gendong semestinya bisa mendapatkan bantuan iuran untuk BPJS Ketenagakerjaan sehingga mereka bisa mendapatkan dua jaminan sekaligus, yakni jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian. Sebab, para buruh gendong bekerja secara mandiri, dengan penghasilan minim tetap harus membayar iuran sedikitnya Rp 16.800 per bulan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

“Kami juga berharap ada jalur TransJogja rute Wates-Yogya -Wates,” pintanya.

Sebab, lanjut Asih, berkaca dari Bantul, keberadaan TransJogja untuk rute menuju atau dari Bantul sangat membantu mobilitas buruh gendong. (Rep-01)

Pos terkait