Cerita “Struggle” di Balik Lukisan Karya Seniman Penyandang Autistik

Salah satu lukisan dalam pameran "Struggle" di Ruang Dalam Art House Kasihan, Bantul. (dok. kabarkota.com)

BANTUL (kabarkota.com) – Seorang pemuda berperawakan tinggi, putih, dan bermata agak sipit itu akrab disapa Way.

Saat menghampiri wartawan yang telah menunggunya di taman depan ruang pameran, Way didampingi seorang terapis dan guru melukisnya.

Bacaan Lainnya

Bukan tanpa alasan, karena pria bernama lengkap Sandy Salman Wahyudi ini adalah seorang berkebutuhan khusus. Ia adalah seorang penyandang autistik yang menjadi bagian dari empat neurodivergen artist (seniman penyandang autistik) dalam Pameran Seni Rupa “Struggle, Hanya Berbeda dan itu Indah”, di Ruang Dalam Art House Kasihan, Bantul, pada 23 – 29 Agustus 2025 mendatang.

lokasi pameran “Struggle” yang digelar pada 23 – 29 Agustus 2025. (dok. kabarkota.com)

Meskipun sesekali bisa berkomunikasi, namun Way cukup kesulitan untuk menjelaskan maupun menanggapi pertanyaan para wartawan terkait keikutsertaannya dalam pameran tersebut sehingga ia didampingi oleh terapis dan guru melukisnya untuk menjelaskan tentang itu.

Lukisan Pesawat selesai dalam 3 Jam

Terapis dari Yayasan Permata Ananda, Endah Ika Pratiwi mengungkapkan bahwa Way mengalami kesulitan berkomunikasi karena merasa tidak nyaman, saat bertemu dengan orang-orang baru yang notabene belum ia kenal.

“Kalau disuruh bercerita secara spontan, Way tidak bisa,” kata Endah, pada 23 Agustus 2025. Hanya saja, dia bisa berkomunikasi pada orang yang sudah ia kenal secara baik dan sering berinteraksi dengannya.

Endah menyebutkan, satu dari 10 karya seni rupa yang dipamerkan Way kali ini adalah lukisan pesawat terbang, dengan judul “Aku ingin Naik Batik Air”

Lukisan pesawat karya Way. (dok. screenshot e-katalog)

“Dia sering naik pesawat. Kalau ke Jakarta, naiknya harus Batik Air karena mamanya pertama kali mengenalkan pesawat itu kepadanya,” sambungnya.

Selain itu, lanjut Endah, di badan pesawat tersebut juga banyak lukisannya, berbeda dengan pesawat-pesawat terbang lainnya, sehingga Way menyukainya.

Dalam Lukisan Acrylic on canvas berukuran 50 x 70 cm meter itu, Way menggambar pesawat terbang berwarna putih dengan ekor bermotif batik merah hitam, dan tulisan Batik di badan pesawat. Melalui lukisan itu, Way ingin menyampaikan pesan bahwa pria berusia 22 tahun ini mempunyai mimpi besar untuk terbang melayang tinggi menembus awan, dengan pesawat yang gagah perkasa.

Tamta Hatmaka selaku guru lukis Way menambahkan, lukisan bergambar pesawat itu bisa diselesaikan dalam waktu tiga jam saja.

Baginya, menjadi guru lukis bagi anak-anak autistik cukup menantang, karena untuk bisa menghasilkan karya lukisan, mereka biasanya sangat tergantung suasana hati, dan pancingan yang diberikan.

“Kadang-kadang, kami pancing dia dengan musik klasik,” tuturnya.

Sesi talkshow dalam Pameran “Struggle” di Ruang Dalam Art House Kasihan, pada 23 Agustus 2025. (dok. kabarkota.com)

Senada dengan itu, Budayawan sekaligus akademisi seni, Hajar Pamadhi menerangkan terapi akomodatif melalui seni,seperti melukis, menyanyi, menari, menulis puisi maupun menhusun benda menjadi karya tiga dimensi, bisa diajarkan kepada anak-anak autis.

“Terapi akomodatif merupakan kerjasama antara pasien dan terapis tentang usaha menyatukan ide penyembuhan, melalui berkarya seni dengan prinsip habitus,” jelas Hajar saat menjadi pembicara dalam sesi talkshow di pameran tersebut.

Pameran Libatkan 4 Seniman Penyandang Autistik

Sementara itu, Penyelenggara pameran yang juga pendiri Studio Tanjakan 98, Samodro mengatakan, ada empat seniman neurodivergen yang memamerkan karya lukisnya. Keempat seniman itu, antara lain: Anugrah Fadly dari Yogyakarta; Raphael Jason Imanuel dari Jakarta; dan Reynaldi Kristian dari Yogyakarta; dan Sandy Salman Wahyudi dari Jakarta.

“Kehadiran karya mereka tidak hanya memperkaya keragaman seni rupa Yogyakarta, tetapi juga menjadi bukti bahwa seni mampu menembu s batas sosial dan neurologis,” tegasnya.

Melalui pameran ini, pihaknya ingin mendorong masyarakat untuk lebih peduli, mengapresiasi, dan mendukung keberadaan seniman neurodivergen.

Penyelenggara Pameran “Struggle” sekaligus pendiri Studio Tanjakan 98, Samodro. (dok. kabarkota.com)

Struggle bisa dimaknai “berjuang” sebagai bagian dari keseharian individu neurodivergen untuk terus berjuang,” ucapnya lagi. Di mulai dari masa anak-anak, mereka berjuang agar bisa berkomunikasi dan keluar dari kesendiriannya. Saat remaja, mereka berjuang untuk bisa diakui sebagai individu yang bisa berprestasi. Momentum ini juga dikaitkan dengan HUT RI yang ke 80 untuk berjuang mengisi kemerdekaan. (Rep-01)

Pos terkait