Di Ranah Publik, LGBT Dinilai Sulit Bergerak

Ilustrasi (wikipedia.org)

SLEMAN (kabarkota.com) – Gerakan Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) yang akhir-akhir ini kembali mengundang sorotan pro dan kontra dinilai akan kesulitan bergerak di ruang publik.

Pengamat politik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Yanuardi menganggap, hingga kini, kultur masyarakat di Indonesia cenderung belum bisa menerima gerakan tersebut. Bahkan, Negara juga tidak mengakomodir apa yang menjadi tuntutan terkait legalitas mereka.

“Saya justru khawatir jika gerakan itu semakin masif, justru akan merugikan mereka sendiri karena akan semakin kuatnya penolakan dari banyak pihak,” ungkap Yanuardi saat dihubungi kabarkota.com, Kamis (25/2/2016).

Di parlemen, kata Yanuardi, para politisi pun berpikir rasonal, sehingga kecil kemungkinannya akan memperjuangkan suara minoritas yang secara kalkulasi tak akan menguntungkan kepentingan politik mereka.

“Terlebih partai-parta berbasis agama juga cukup kuat di parlemen,” imbuhnya.

Meski demikian Yanuardi menyarankan, agar secara personal, kaum LGBT tetap diperlakukan secara manusiawi sebagaimana masyarakat pada umumnya, selama tidak melakukan tindakan kriminal atau pun melanggar hukum.

“Kalau mereka melakuka tindakan yang melanggar hukum ya dihukum. Kalau tidak melakukan tindak kriminalitas ya jangan didiskriminasikan,” harapnya. (Rep-03/Ed-03)

Pos terkait