Doa, Martabat, dan Diplomasi yang Terluka

karakter Nyai Ontosoroh, pemeran utama dalam film Bumi Manusia. (dok. istimewa)

Lawanlah sebisanya. Tidak bisa dengan harta benda yang kau punya, ya sudah sebisanya. Dengan mulut pun jadi…”

– Nyai Ontosoroh, dalam tetralogi Pramoedya Ananta Toer –

Bacaan Lainnya

Kalimat di atas adalah kutipan yang sangat kuat dari tokoh fiksi perempuan paling berani dalam sejarah sastra Indonesia. Seorang gundik yang dimarginalkan sistem kolonial, tetapi tak kehilangan daya juang.

Bagi Nyai Ontosoroh, perlawanan tak harus dengan senjata atau kekuasaan, tapi cukup dengan mulut, kalau itu yang tersisa. Cukup dengan kehendak untuk menolak tunduk pada ketidak-adilan.

Namun, andai Pram mengadopsi pendekatan dari tradisi santri, mungkin akan ada tambahan kalimat: “Jika dengan mulut pun tak mampu, maka berdoalah. Laporkan langsung kepada Allah, Sang Pemilik Hidup dan Keadilan.”

Bagi mereka yang takut bicara atau memilih diam demi aman, doa dianggap selemah-lemahnya iman. Tapi jangan remehkan doa yang terucap dalam keheningan penderitaan. Karena dalam banyak ayat suci, doa orang yang di-zalimi dijanjikan akan diijabah. Bahkan doa buruk dari orang tertindas bisa jadi bencana bagi pelakunya.

Maka, ketika tak ada kekuatan politik, ekonomi, atau dukungan massa, satu-satunya senjata tersisa bagi korban hanyalah doa. Dan di zaman yang sulit ini, manusia yang hanya menggenggam doa tampaknya makin banyak.

Nyai Ontosoroh kalah secara hukum karena anaknya dirampas negara, hartanya diambil paksa, status sosialnya direndahkan. Tapi ia menang dengan cara lain: ia menjaga martabat. Ia tetap bisa berdiri tegak sebagai manusia. Martabat itu adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli dari pampasan perang.

Sebaliknya, lihatlah Pangemanan, anak bangsa terpelajar yang justru jadi alat kolonial untuk menghancurkan bangsanya sendiri. Dialah eksekutor gagalnya gerakan Minke. Tapi sejarah mencatat, ia hidup menderita, kehilangan keluarga, dan akhirnya mati dalam kehampaan. Kuburannya pun nyaris dilupakan. Sebuah penebusan yang tak pernah cukup.

Tulisan ini diolah dari unggahan di akun facebook M Faried Cahyono pada 10 Juli 2025

Pos terkait