Hotel Berdiri, Warga Miliran Yogya Mulai Krisis Air

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Memasuki musim kemarau tahun 2014, volume air sumur di wilayah Miliran, Muja-Muju, Umbulharjo, Kota Yogyakarta mengalami penyusutan drastis.
Berdasarkan penelusuran kabarkota.com di sejumlah rumah milik warga di RT 13, pada Rabu (13/8), ada sumur yang sudah kering. Sementara sebagian lainnya, meskipun masih berair tapi rata-rata sudah tidak bisa ditimba karena terlalu dalam.
Sebagian warga menduga, kondisi tersebut tidak lepas dari keberadaan sebuah hotel di wilayah tersebut yang disinyalir menyedot tampungan air tanah, sehingga mengakibatkan sumur-sumur tersebut mengalami defisit air.
Seorang warga RT 13, Ohang mengatkan, sebelum hotel tersebut beroperasi sekitar 2 tahun lalu, warga di wilayah Miliran hampir tidak pernah mengalami krisis air seperti sekarang.
"Sekarang sumur timba dan gali sulit untuk disedot airnya," keluh Ohang saat ditemui di kediamannya.
Ia menyebutkan, dari sekitar 26 sumur warga yang telah diperiksa, 11 di antaranya kering total, 9 sumur menyusut drastis, dan hanya 2 sumur yang dalam kondisi baik. Sedangkan 3 sumur warga lainnya telah dilakukan penyuntikan.
Menurutnya, krisis air di sumur-sumur warga RT 13 ini telah terjadi sejak pertengahan Juni lalu. Akibatnya, sebagian warga yang tidak mampu melakukan penyuntikan karena keterbatasan dana, mereka menumpang di rumah tetangga untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Untuk itu Ohang berharap, agar manajemen hotel tersebut turut bertanggung-jawab atas krisis air yang menimpa warga di Miliran ini. Sebab, untuk melakukan penyuntikan sumur, setidaknya warga membutuhkan biaya Rp 1 juta – Rp 1,5 juta.
Ketua RT 14, Arya Wisnutomo juga membenarkan kondisi tersebut. Hanya saja, khusus untuk warga di wilayahnya hingga saat ini belum ada laporan secara pasti. Mengingat sebagian besar warga RT 14 sudah menggunakan pompa air sejak lama.
Meski begitu Wisnu juga berharap, jika memang terbukti penggunaan air bersih dari hotel tersebut turut mengurangi suplai air milik warga sekitarnya, maka kompensansi sebagaimana yang diinginkan warga dapat dipenuhi.
Sesepuh RT 13, Bambang Purnomo mengakui telah ada pertemuan antara warga dengan General Manager hotel, Badan Lingkungan Hidup (BLH), dan Dinas PU untuk membahas permasalahan tersebut baru-baru ini. 
"Pihak hotel juga menyatakan bersedia untuk memenuhi sebagian tuntutan warga," tegas mantan ketua RT 13.
Ketua RW 04, Muhtasor juga membenarkan jika memang telah ada pertemuan tersebut, dan kesepakatan bahwa pihak hotel akan menunjukkan kepeduliannya. Hanya saja ia tidak mengetahui secara pasti kapan kesepakatan itu akan direalisasikan.
Berbeda dengan asumsi sejumlah warga yang mengaitkan krisis air dengan operasional hotel, Muhtasor justru menganggap, permasalah ini lebih karena faktor alam.
"Tidak hanya di wilayah kami, di sejumlah wilayah lainnya seperti Timoho Regency juga sudah kekurangan air," ucap Muhtasor. Meski begitu, pihaknya juga meminta agar bentuk kepedulian dari pihak hotel kepada warga dapat segera direalisasikan.
Saat kabarkota.com  mendatangi hotel di kawasan Jalan Kusuma Negara itu untuk melakukan konfirmasi,  pihak hotel belum bisa ditemui dengan dalih General Manajer sedang ada pertemuan. (tri/jid)

Pos terkait