SLEMAN (kabarkota.com) – Pendiri Joglo Tani sekaligus 'Guru Bertani' dari Desa Mendungan I, Margoluwih, Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, TO Suprapto memberikan saran kepada presiden terpilih, Joko Widodo untuk membanguan pertanian di Indonesia.
Meski sepakat dengan rencana Jokowi yang mengagas kedaulatan pangan, namun ria yang menjadi Guru Bertani dari 16 negara ini menganggap perlu ada penjabaran panjang terhadap visi dan misi Jokowi untuk membangun pertanian.
Ia mengatakan, konteks ketahanan pangan adalah memakan produk yang dihasilkan sendiri. Untuk itu pembangunannya harus berpihak pada pelaku pertanian.
"Perlu adanya penanganan pertanian dari hulu hingga hilir. Karena selama ini, semisal saja benih, masih banyak dikuasai tengkulak," katanya ketika dihubungi kabarkota.com, Sabtu (23/8).
Untuk memulainya, ujar dia, para elemen yang terlibat di dalamnya mesti memiliki lima modal awal dan lima modal dasar. Lima modal awal yang dimaksud TO Suprapto yaitu perubahan sikap para stakeholder, pemahaman arah yang akan dikerjakan, mempunyai keterampilan, manajemen, dan sarana.
Kemudian, lanjutnya, lima modal dasarnya adalah membangun sumber daya manusia, sumber daya alam, sosial dan budaya, kondisi fisik, serta finansial. "Pemangku kebijakan harus terlibat langsung dengan menggandeng banyak pihak. Pertanian harus bisa lestarikan lingkungan, tidak tergantung pada obat-obatan," ujarnya.
Menurutnya, pembangunan pertanian harus merata di setiap wilayah di Indonesia. Selain itu, luasan lahan pertanian harus disesuaikan dengan jumlah penduduk dan kebutuhan akan pangan. "Apakah nanti akan surplus atau tidak," ungkapnya.
Ia menambahkan, hal yang paling penting dalam membangun pertanian di Indonesia yakni kejelasan pengambilan kebijakan kebutuhan pangan, apakah akan tergantung pada beras atau bahan makanan lainnya.
"Saran saya, pengembangan pertanian untuk kebutuhan pangan harus sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat. Jangan sampai kearifan lokal justru terabaikan," ujarnya. (kim)






