Limbah botol plastik untuk bercocok tanam

kebun aquaphonik milik Elisa di Kwasen RT 01, Dusun Jatimulyo, Desa Srimartani, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, DIY. (sutriyati/kabarkota.com)

BANTUL (kabarkota.com) – Menumpuknya sampah botol-botol plastik bekas di sekitar rumah, membuat Elisa, warga Kwasen RT 01, Dusun Jatimulyo, Desa Srimartani, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, DIY, memutar otak untuk memanfaatkan limbah tersebut.

Berbekal hobinya bercocok tanam, gadis belia ini akhirnya mendirikan perkebunan mini di halaman rumahnya, dengan menanam berbagai jenis sayuran, seperti selada kriting merah, seledri, dan paprika menggunakan sistem aquaphonik. Sesuai namanya, media tanam yang digunakan bukan tanah melainkan air larutan nutrisi yang ditaruh di dalam pot-pot botol pastik bekas.

Baca Juga:  Berikut Evaluasi BEM KM UGM Jelang Dua Tahun Kepemimpinan Jokowi

kebun aquaphonik

Elisa (kanan) tengah merawat kebun aquaphonik miliknya. (sutriyati/kabarkota.com)

Dari eksperimen yang ia lakukan sejak Mei 2016 lalu, Elisa yang juga berprofesi sebagai jurnalis freelance ini tak hanya memanfaatkan limbah botol bekas tetapi juga air kolam ikan sebagai pengganti nutrisi. 

“Tanaman yang menggunakan air kolam justru pertumbuhannya lebih cepat jika dibandingkan dengan air bernutrisi,” kata Elisa saat ditemui di kebunnya, baru-baru ini.

Baca Juga:  Hidroponik: Bisnis Menjanjikan yang Minim Perhatian

Menurutnya, sistem aquaphonik ini juga lebih praktis perawatannya jika dibandingkan dengan sistem hidrophonik yang airnya harus dialirkan setiap hari dan modal awal yang relatif mahal.

Untuk satu pot selada kriting merah yang sudah siap panen, lanjut Elisa, dibandrol dengan harga Rp 3 ribu – Rp 4 ribu. Umumnya, tanaman sayuran ini bisa dipanen setelah 30 hari dari masa tanam. Hanya saja tantangannya terkait dengan pencahayaan dan tumbuhnya lumut di dalam botol air yang bisa menghambat pertumbuhan tanaman. (Rep-03/Ed-03)

Baca Juga:  Gaky Pertanyakan Independensi Bawaslu DIY