Melihat Pembuatan Lilin dan Sabun Daur Ulang Jelantah di Dusun Betakan

salah satu peserta menunjukkan lilin aroma terapi hasil olahan limbah minyak goreng yang ramah lingkungan. (dok. kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Kegemarannya menikmati gorengan membuat Desy Ery Dani berpikir untuk mengolah jelantah atau minyak goreng bekas. Mengingat selama ini dirinya sering merasa kesulitan untuk membuang limbah minyak tersebut.

Hal ini yang mendorong Pengurus Yayasan Literasi Desa Tumbuh (YLDT) Yogyakarta ini menginisiasi kegiatan “Ngobrol Bareng dengan tema Jelantah jadi Berkah: Kreasi Ramah Lingkungan untuk Keluarga”, di Pelataran YLDT yang terletak di Dusun Betakan, Kalurahan Sumberrahayu, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, DIY ini, pada Selasa (5/8/2025).

Bacaan Lainnya

Tak hanya ngobrol, puluhan peserta yang semuanya adalah ibu-ibu itu juga praktik membuat lilin aroma terapi dan sabun cuci berbahan dasar jelantah yang ramah lingkungan.

“Ibu-ibu ini diundang ke sini supaya mereka bisa belajar cara mengolah limbah jelantah itu menjadi berkah,” jelas Desy saat ditemui di sela-sela kegiatan.

“Ngobrol Bareng dengan tema Jelantah jadi Berkah: Kreasi Ramah Lingkungan untuk Keluarga”, di Pelataran YLDT, pada Selasa (5/8/2025). (dok. kabarkota.com)

Harapannya, melalui kegiatan ini, mereka bisa menghasilkan produk dari rumah masing-masing yang memiliki nilai jual sehingga bisa menjadi lahan usaha baru untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

Menurut Desy, ibu-ibu ini datang dari berbagai wilayah di DIY, dengan total 30 orang. Rencananya, kegiatan tersebut akan digelar dalam dua gelombang, karena antusiasme calon peserta cukup besar.

Salah satu peserta kegiatan, Afia Fajarina mengaku, dirinya mendapatkan wawasan baru, terutama tentang cara mendaur-ulang minyak jelantah menjadi lilin dan sabun yang cantik, dengan proses yang mudah.

“Kesulitannya lebih ke mendapatkan bahan kimia untuk campurannya tetapi sekarang di market place juga banyak yang menjual itu,” ucapnya.

proses pembuatan lilin aroma terapi berbahan dasar jelantah. (dok. kabarkota.com)

Warga Minggir, Sleman ini menyatakan, ilmu pengolahan jelantah ini akan ia tularkan ke warga di wilayahnya.

Sementara itu, iqfi Muallizzati dari Teras Baca JitaKita menjelaskan, selain bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan lilin dan sabun jelantik ini cukup sederhana. Untuk pembuatan lilin bahan yang digunakan antara lain: jelantah yang sudah dimurnikan, asam stearat, pewarna minyak, dan pewangi untuk aromanya. Sementara untuk pembuatan sabun, campuran kimianya mengunakan bubuk soda api dengan takaran tertentu.

Selain itu, proses pembuatan pembuatan dari pencampuran bahan hingga menjadi cairan lilin dan sabun tidak membutuhkan waktu lama. Kecuali dalam proses pemurnian jelantahnya sebelum digunakan sebagai bahan dasar.

Lilin aroma terapi dan sabun cuci yang dibuat dari daur ulang jelantah. (dok. kabarkota.com)

Proses pemurnian ini, kata dia, bisa dilakukan dengan merendam kulit pisang, arang, maupun bleaching eart dalam jelantah tersebut selama maksimal 3 minggu.

“Jika menggunakan kulit pisang, maka minyaknya akan beraroma pisang tetapi warnanya agak keruh. Sedangkan ketika menggunakan arang, maka minyaknya menjadi lebih jernih tetapi bau minyak bawaannya,” paparnya.

Lebih lanjut pihaknya menuturkan, untuk pemuatan lilin, bahan-bahan dicampurkan kemudian dipanaskan selama beberapa menit, lalu dituangkan ke dalam cetakan.

Kalau untuk pembuatan sabun cuci, sambung Iqfi, prosesnya tidak menggunakan kompor melainkan soda api sehingga hingga harus mengunakan masker dan sarung tangan karena ada reaksi kimianya.

Proses pembuatan sabun cuci dari bahan dasar jelantah. (dok. kabarkota.com)

“Untuk sabun itu tidak bisa langsung digunakan tetapi harus menunggu sekitar 24 jam supaya lepas dari cetakannya, dan diangin-anginkan selama 3 minggu sebelum digunakan,” jelasnya lagi. (Rep-01)

Pos terkait