Mengenal Seniman asal Yogya yang Dedikasikan 52 tahun Hidupnya di Dunia Ketoprak

Poniman, mantan Pemain Ketoprak terlama di RRI Yogyakarta. (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Seorang kakek mengelap alat bantu pernafasannya dengan tisu. Setiap bicara agak panjang, dia terdiam cukup lama untuk mengatur nafasnya yang mulai sesak.

Dia adalah Poniman, mantan seniman ketoprak di Radio Republik Indonesia (RRI) stasiun Yogyakarta, sejak tahun 1974 – 2001. Hampir di setiap pentasnya, ia berperan sebagai pendagel (pelawak).

Bacaan Lainnya

Namun berbeda dengan seniman ketoprak lain yang pentas dari panggung ke panggung, Poniman lebih banyak bermain ketoprak di studio RRI. Itu, karena statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) kala itu, yang tak banyak memberikan kesempatan untuk manggung di tempat lain.

Poniman Dedikasikan 52 Tahun Hidupnya di Dunia Ketoprak

Meski dianjurkan untuk tidak banyak berbicara karena membuatnya sesak nafas, namun Poniman terlihat antusias saat menceritakan masa lalunya, baik dalam hal pekerjaan sebagai seorang seniman ketoprak, maupun perannya sebagai seorang ayah yang telah membesarkan empat putra-putrinya, dari hasil jerih payahnya bersama istri selama ini.

Poniman. (dok. kabarkota.com)

Secara biologis, Poniman lahir di tahun 1944, tetapi secara formal ia lahir di tanggal 1 Desember 1945. Kemampuannya melawak sudah terlihat sejak dia masih sekolah di ST Kerajinan. Ketika itu, dia sering diminta untuk pentas di atas panggung saat acara-acara perpisahan sekolah. Sejak itu, dia mulai banyak pementasan. Selain itu, dia juga sering diminta untuk manggung di kampung-kampung.

Darah seni Poniman ternyata mengalir dari bapaknya bernama Kromodimejo yang dulu juga seorang pemain wayang dengan peran sebagai Gatotkaca. Selain itu kakek Poniman ternyata juga seorang pendagel.

Poniman mulai terjun di kesenian ketoprak sejak tahun 1964, dengan bergabung di Kepoprak Banteng Muda Nitiprayan yang waktu itu dikelola oleh para senima muda di bawah kepemimpinan Sri Soebagjo (Bupati Temanggung Periode 1983 – 1993).

Di Ketoprak Banteng Muda itu, Poniman menjadi pendagel bersama Buwang, Ngadimin, dan Ngabdul. “Ketika ikut Banteng Buda, Ngabdul masih jadi emban (pembantu), saya dagelan (melawak) dengan Parno atau beberapa orang lainnya. Dulu partner saya banyak,” ungkap Poniman kepada kabarkota.com, saat ditemui di kediamannya, baru-baru ini.

Poniman muda (kiri) saat pentas ketoprak bersama Ngabdul (tengah) dan Mbok Beruk (kanan). (dok. istimewa)

Di tahun 1967, Poniman diangkat PNS di RRI Stasiun Yogyakarta, dengan pekerjaan juga sebagai pemain ketoprak di studio.

“Dulu, siaran itu ditonton. Di depan studio RRI itu kanan kirinya diberi kursi dan tengah untuk pentas. Penonton membayar tiket Rp 100 per orang,” ungkap bapak empat anak ini.

Bagi Poniman, menjadi pemain ketoprak itu tantangannya cukup berat, karena ketika siaran harus live sehingga harus datang tepat waktu dan tidak boleh salah saat di panggung. Mengingat, tidak ada proses editing untuk memperbaiki penampilannya.

“Ketika akan pentas, jantung saya berdetak kencang, karena tahu bebannya. Tetapi ketika sudah mulai berbicara di atas pentas, maka saya mulai tenang,” tuturnya.

Meski tidak banyak memiliki pengalaman dari panggung ke panggung sebagaimana para pemain ketoprak lainnya, namun Poniman memiliki pengalaman sangat panjang sebagai pemain ketoprak radio.

“Masa kerja saya 34 tahun, tetapi saya bermain ketoprak selama 52 tahun, Jadi setelah pensiun, saya masih diminta membantu hingga 52 tahun,” sambung Poniman. Dari dedikasinya yang sangat lama itu, ia bahkan sempat mendapatkan penghargaan dari Kepala Stasiun (Kesta) RRI sebagai pemain ketoprak paling lama di RRI.

Cerita Keluarga Poniman

Selain karirnya sebagai seniman ketoprak, Poniman juga menceritakan tentang kehidupannya sebagai kepala keluarga dan orang tua bagi empat anaknya.

Poniman menikah dengan seorang perempuan bernama Muryatinah, pada tahun 1969. Kemudian memiliki anak pertama mereka yang bernama Agus Trimurjanto di tahun 1970.

Kini setelah 55 tahun usia pernikahannya, Poniman dan Muryatinah dikaruniai empat anak dan enam cucu.

Sementara bagi Muryatinah, menjadi istri seniman ketoprak meskipun berstatus PNS di era itu, penghasilannya tidak terlalu besar untuk bisa mencukupi kebutuhan. Namun dirinya tidak pernah mengeluh.

“Dapat banyak atau sedikit tetap disyukuri,” ucapnya.

Muryatinah, istri Poniman. (dok. kabarkota.com)

Muryatinah pun tak berpangku tangan. Dia berusaha membantu perekonomian keluarga, dengan membuka usaha sampingan, seperti jasa foto dan cetak foto, berjualan makanan dan minuman, dan menjual bensin eceran demi mencukupi hidup keluarganya.

Usaha mereka pun tak sia-sia, karena kini keempat anaknya sudah hidup mandiri dan mapan dengan keluarga mereka masing-masing. Bahkan putra sulungnya, kini menjadi direktur di salah satu bank plat merah milik Pemerintah Daerah (Pemda) DIY.

Nilai-nilai yang Poniman dan istrinya tanamkan kepada anak dan cucu mereka adalah menanamkan budi pekerti luhur, yang diwujudkan dengan tata krama, saling menghormati sesama, dan taat beribadah. (Rep-01)

Pos terkait