Misteri Kematian Arya Daru akan Diungkap lagi(?)

Upacara pemakaman Arya Daru Pangayunan di rumah duka. (dok. kabarkota.com)

BANTUL (kabarkota.com) – Sebulan lebih setelah meninggalnya diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI asal Yogyakarta, Arya Daru Pangayunan, hingga kini kasusnya masih menyisakan misteri.

Meskipun Polda Metro Jaya telah menyimpulkan bahwa almarhum meninggal karena bunuh diri, tanpa keterlibatan pihak lain, namun pihak keluarga Daru tak bisa menerima begitu saja. Mereka menuntut agar Mabes Polri mengambil alih penanganan kasus tersebut.

Bacaan Lainnya

Menyikapi kasus tersebut, Pengamat Hukum Pidana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Trisno Raharjo berpandangan bahwa secara prinsip, hasil penyelidikan kepolisian tetap dihormati. Hanya saja, pihak berwajib seharusnya juga memberikan penjelasan yang lebih terbuka dan transparan atas kasus tersebut.

“Hasil kajian dan pendalaman terkait autopsi yang telah dilaksanakan perlu dilakukan sehingga ada penjelasan yang transparan kepada keluarga,” kata Trisno saat dihubungi kabarkota.com, pada Minggu (24/8/2025).

Menurutnya, perkara serupa juga pernah terjadi pada kasus yang menimpa mahasiswa UI, Akseyna Ahad Dori, pada tahun 2015 silam. Pada waktu itu, ada perubahan pandangan, termasuk didalamnya hasil autopsi jenazahnya. “Untuk itu kepolisian perlu menelaah secara baik dan transparan, apalagi masih ada keraguan dari pihak keluarga,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Sosiolog Kriminalitas Dosen Purna UGM, Soeprapto yang mengaku tetap mengapresiasi pihak kepolisian, tim dokter forensik, psikologi forens dan digital forensik yang telah melakukan upaya maksimal hingga sampai pada kesimpulan.

Namun sebagai sosiolog kriminalitas, Soeprapto melihat masih banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus dikaji.

“Ketika kemarin dinyatakan bahwa kasus ini akan ditutup, tetapi kemudian ada pernyataan masih menerima masukan atau kalau ada bukti-bukti baru, saya kira kita juga perlu mencatat bahwa ada beberapa hal yang masih cukup janggal,” ungkap Soeprapto, baru-baru ini.

Di antara kejanggalan itu, sebut Soeprapto, ketika awalnya diungkapkan bahwa di Tempa Kejadian Perkara (TKP) tidak ada tanda-tanda kerusakan, tidak ada barang hilang, dan tidak ditemukan tanda-tanda tindak kekerasan pada tubuh korban. Tetapi belakangan disampaikan lagi bahwa ternyata ada handphone yang hilang. Padahal, itu justru barang bukti yang bisa bercerita banyak tentang kejadian yang dialami korban sebelum meninggal dunia.

Selain itu, Soeprapto yang juga sering menangani orang-orang hendak bunuh diri, melalui layanan konsultasi psikologis itu menjelaskan,umumnya orang yang berniat atau akan mengakhiri hidupnya itu terlihat tidak tenang. Tetapi berbeda dengan Daru, dari rekaman CCTV ketika dia membuang sampah, kembali ke kamar kosnya, serta saat naik turun tangga di rooftop tidak menunjukkan bahwa dia ingin menghakhiri hidupnya karena beban yang sangat berat.

“Saya kira ini menjadi hal baru dalam sosilologi, psikologi, maupun kriminologi. Tetapi saya tetap merasa bahwa itu aneh, ketika secara ekspresi dan pola perilaku yang tenang itu ternyata menyimpan keinginan bunuh diri sehingga itu juga masih perlu dipertanyakan.

Selain itu, lanjut Soeprapto, kejanggalan juga terlihat dari posisi saat jenazah Daru ditemukan di dalam kamar kos, dengan kepala terlilit lakban kuning. “Kalau dia bunuh diri dengan menyumbat saluran pernafasan, posisinya pasti tidak sebagus itu.

Ia justru curiga, CTM yang ditemukan di dekat jasad Daru waktu itu merupakan salah satu upaya untuk membuat korban tidak berontak ketika dieksekusi. Telebih sekarang makin banyak orang melakukan kejahatan dengan mempelajari kondisi korban terlebih dahulu. Misalnya, terkait riwayat penyakit atau profesi tertentu dari korban sehingga risiko-risiko itu yang dimunculkan, untuk membuat seolah-olah kematian itu terjadi dengan sendirinya.

“Sangat mungkin dengan kondisi serapi itu, perencanaannya itu cukup matang sehingga diketahui secara detail apa yang dimiliki dan bisa dimanfaatkan pada saat melakukan eksekusi,” anggapnya.

Pihak Keluarga Minta Misteri Kematian Daru Dibuka Kembali

Konferensi pers keluarga Arya Daru di Bantul, pada 23 Agustus 2025. (dok. istimewa)

Sementara itu dari pihak keluarga, Kuasa Hukum Keluarga Daru, Nicholay Aprilindo mengaku mendapatkan informasi dari istri almarhum dan keluarganya bahwa beberapa waktu yang lalu, akun Instagram almarhum berstatus on dan WhatsApp (WA) Daru centang dua saat mereka mengirimkan kesan singkat ke nomor itu. Itu berarti, nomor WA milik almarhum juga masih aktif. Padahal, pihak kepolisian sebelumnya menyatakan bahwa HP almarhum hilang.

“Ini menjadi misteri, karena HP-nya dikatakan hilang, tapi kok akun Instagramnya on, dan pesan yang terkirim di WA centang dua?” ungkap Nicholay dalam konferensi pers di Bantul, pada 23 Agustus 2025.

Setelah melihat beberapa kejanggalan yang saya sebutkan tadi. Sehingga pada kesimpulan sementara bahwa kematian almarhum ada pihak lain yang terlibat. Dan kematian almarhum ada satu rangkaian tindak pidana. Tidak berdiri sendiri.

Hal itu, menurut Nicholay, salah satu dari beberapa hal yang perlu didalami bersama dengan penyelidik. “Kami selaku penasihat hukum juga bagian dari penegak hukum yang akan meminta konfirmasi secara jelas dari pihak penyelidik. Kami akan meminta agar misteri itu dapat diungkap kembali secara transparan, tanpa tendensi apa pun dan kepada siapa pun”.

Lebih lanjut Nicholay akan meminta kepada Mabes Polri untuk mengambil alih kasus ini supaya bisa lebih komprehensif dalam mengungkap misteri meninggalnya almarhum sehingga ada kepastian hukum dan pemenuhan Hak Asasi Manusia almarhum dan keluarganya.

Pihaknya meyakini bahwa kepolisian mempunyai keahlian untuk mengungkap kasus ini. Tinggal kemauan dari political will untuk mengungkap misteri ini secara transparan sehingga tidak ada lagi pemberitaan yang seolah ingin mengaburkan fakta sebenarnya dan menimbulkan asumsi – asumsi liar di masyarakat.

Padahal dari sejumlah kejanggalan yang ditemukan itu, pihaknya menyimpulkan sementara bahwa Daru meninggal bukan karena bunuh diri, melainkan ada keterlibatan pihak lain yang mempunyai keahlian profesional dalam membunuh almarhum.

Bagi Subaryono sebagai ayah kandung Daru, kematian putranya yang diliputi misteri itu merupakan pukulan berat. “Banyak hal yang membuat kami syok, terpukul, dan tidak berdaya. Kami hanya berdua: saya dengan istri. Daru adalah anak tunggal yang kami tunggu-tunggu, setelah 3 kali gagal keguguran,”ungkapnya sedih. Bahkan Kesedihan yang dialaminya semakin mendalam, karena sejak setahun terakhir, istrinya didiagnosis terkena kanker coloni.

Oleh karena itu, Subaryono memohon kepada Presiden RI, Prabowo Subianto selaku pimpinan tertinggi negara agar segera menginstruksikan Kapolri, Panglima TNI, dan Menteri Luar Negeri untuk segera menjelaskan tentang hal yang sebenarnya terjadi pada putra semata wayangnya.

“Kami betul-betul tidak berdaya, karena informasi yang beredar sangat bervariasi sehingga kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” sesalnya. (Rep-02)

Pos terkait