Penumpang di Stasiun Lempuyangan Keluhkan Harga Mahal

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Sejak pedagang asongan dilarang berjualan di stasiun Kereta Api Lempuyangan Yogyakarta, calon penumpang mengeluhkan mahalnya harga makanan dan minuman di dalam stasiun.
Seorang calon penumpang asal Bantul, Haris Dwi mengaku, keberadaan asongan di dalam stasiun sebenarnya cukup membantu penumpang untuk mendapatkan kebutuhan makanan, minuman, maupun obat-obatan dengan harga yang relatif terjangkau.
"Sekarang harga makanan dan minuman di dalam lebih mahal tiga sampai lima kali lipat," keluh Dwi saat ditemui kabarkota.com di stasiun Lempuyangan, Kamis (24/7).
Ia menyontohkan, harga mie instan yang normalnya di bawah Rp 2.000, kalau di dalam stasiun dijual hingga Rp 10.000. Meski begitu Dwi juga menganggap, penertiban pedagang asongan juga cukup menguntungkan dari sisi kenyamanan penumpang. 
"Hanya saja saya berharap, pengelola dapat menyediakan outlet-outlet yang menjual kebutuhan penumpang dengan harga lebih terjangkau," pinta dia.
Hal senada juga disampaikan Penumpang kereta asal Wonosari, Yanto. Dirinya mengaku, selisih harga makanan dan minuman, antara yang dijual pedagang asongan cukup jauh.
"Selisih harganya bisa sekitar Rp 5 ribu," ungkap Yanto.
Namun, di sisi lain dia juga mengapresiasi adanya kebijakan tersebut, karena mampu menciptakan kenyamanan dan keamanan penumpang di dalam gerbong kereta.
Seorang pedagang asongan yang tergabung dalam Asongan Jogja Bersatu, Apri Yuperwira menganggap, kebijakan tersebut memberikan pengaruh besar terhadap omzet penjualannya.
"Kalau dulu ketika masih bisa berjualan di dalam stasiun, per hari saya bisa menjual koran hingga Rp 75 ribu dalam sehari, sekarang hanya sekitar Rp 30 ribu," keluh Apri.
Selain itu, Apri juga mempertanyakan kebijakan dari PT KAI yang mengijinkan toko-toko modern berdiri di dalam stasiun. Padahal, alasannya larangan pedagang asongan masuk stasiun untuk sterilisasi.
"Kami sudah mencoba mengadukan hal tersebut ke dewan kota Yogyakarta," aku Apri. 
Menurutnya, para pedagang asongan sempat diijinkan berjualan lagi di dalam stasiun selama 3 bulan. Itu pun dengan pembatasan-pembatasan lokasi yang tidak menguntungkan bagi pedagang.
Sementara, seorang penjual makanan di dalam stasiun, Amanatun mengaku, saat ini omzet penjualan makanannya juga mengalami penurunan dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya. "Saya juga bingung kenapa kok sekarang sudah tidak seperti dulu," kata Atun. Padahal, sambung dia, dari sisi penumpang jumlahnya juga stabil, dan keberadaan pedagang asongan juga sudah tidak ada.
Sayangnya, pihak stasiun Lempuyangan enggan berkomentar banyak terkait dengan masalah pelarangan ini. "Kebijakan larangan pedagang asongan itu menjadi ranahnya Daops," dalih Suharno, selaku Kepala Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. (jid/kabarkota.com)

Pos terkait