Perang Iran–Israel Bisa Berulang? Pengamat UGM Buka Fakta di Baliknya

Diskusi tentang Perang Israel - Iran di Pojok Bulaksumur UGM, pada 26 Juni 2025. (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Konflik bersenjata antara Iran dan Israel dinilai tidak akan berlangsung lama. Namun, pengamat hubungan internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhadi memperingatkan bahwa potensi terulangnya konflik tetap tinggi selama isu utama, yakni dominasi nuklir di Timur Tengah, belum terselesaikan.

“Isunya, tanpa mengurangi signifikansi isu Palestina dan lainnya, isu nuklir di Timur Tengah itu sama signifikannya dengan isu-isu tersebut. Karena keberadaan nuklir itu sangat sensitif di sana,” kata Muhadi saat menjadi pembicara dalam Pojok Bulaksumur, di UGM, pada 26 Juni 2025.

Menurutnya, Israel sejak lama memiliki ambisi menjadi satu-satunya negara di kawasan yang memiliki senjata nuklir dengan alasan keamanan. Dalam paradigma strategis global yang mendominasi, kepemilikan senjata nuklir hanya bisa dilawan dengan senjata nuklir lainnya.

Oleh karenanya, setiap ada negara Timur Tengah yang berupaya mengembangkan kemampuan nuklir, Israel akan menanggapinya secara agresif.

“Israel tidak akan menjadi negara yang aman karena kekuatan dia menjadi tertandingi,” sambungnya.

Lebih lanjut Muhadi berpendapat bahwa konflik Israel–Iran saat ini bukan kejutan, melainkan rangkaian panjang dari obsesi Israel selama dua dekade terakhir untuk menghancurkan program nuklir Iran.

“Serangan terhadap fasilitas nuklir Iran ini baru akan berhenti kalau Israel yakin Iran sudah tidak mempunyai kemampuan untuk mengembangkan nuklir lagi,” ungkapnya.

Namun, langkah agresif Israel justru berisiko memicu reaksi keras dari Iran. “Dengan asumsi bahwa dengan Israel menyerang Iran itu, maka Iran akan semakin keras kepala, ia harus mempunyai senjata nuklir.”

Muhadi juga mengkritik dominasi negara-negara besar dalam menjaga kepemilikan nuklir Israel, termasuk veto yang dijatuhkan terhadap upaya menciptakan Middle East Nuclear Free Zone (zona bebas senjata nuklir di Timur Tengah).

“Salah satu kesepakatan bersama yang diputuskan adalah memaksa negara-negara Timur Tengah untuk menciptakan Middle East Nuclear-Free Zone… tetapi Israel tidak masuk di dalamnya. Tetapi, siapa yang mewakili Israel? AS, Inggris, dan Kanada.”

Terkait peran Indonesia, Muhadi mengusulkan agar Indonesia memanfaatkan posisi di Gerakan Non-Blok untuk mendorong diplomasi nuklir yang adil.

“Saya mengusulkan, yang paling memungkinkan adalah ajak Gerakan Non-Blok karena ini adalah gerakan yang salah satu isunya menekankan pentingnya hak untuk memiliki akses kepada teknologi nuklir,” ucapnya lagi.

Muhadi juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali forum-forum multilateral. Mengingat, saat ini sedang dalam situasi krisis multilateralisme, sehingga posisi Indonesia harus mampu mengembalikan kepercayaan atas krisis tersebut.

Dalam konteks ini, ia menyayangkan standar ganda negara-negara besar yang terkesan tebang pilih dalam penerapan World Based Order (WBO).

“Tiga negara besar, yakni Perancis, Inggris, dan Jerman menyatakan bahwa mereka tidak ikut menyerang Iran bersama Israel, tetapi mereka akan mempertahankan Israel jika Iran melakukan tindakan balasan. Dunia ini akan kacau kalau world based order ini dilakukan secara tebang pilih.”

Peneliti PSKP UGM, Najib Azca. (dok. kabarkota.com)

Sementara itu, peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM, Najib Azca berpandangan bahwa akar konflik Iran–Israel adalah kontestasi dua poros kekuatan besar di Timur Tengah.

“Israel dan Iran semacam dua poros kekuatan di Timur Tengah yang masing-masing memiliki simbol-simbol pendukungnya,” kata Najib.

Israel, sebut Najib, berupaya menghabisi rival terbesarnya dengan dalih kepemilikan senjata nuklir. Namun, Iran terbukti mampu melakukan serangan balik yang signifikan.

“Israel tampak kedodoran dengan serangan balik Iran… mereka juga repot karena Iran punya rudal balistik yang bisa menyerang dari atas, dan saya kira cukup membuat Israel keteteran,” anggapnya.

Ia menambahkan, keterlibatan Amerika Serikat tampak dalam skenario pengendalian konflik. “AS untuk turun tangan dan mendamaikan secara agak paksa dengan menyerang duluan Iran meskipun konon tidak sungguh-sungguh terjadi karena dampak kerusakan minimal.”

Namun, Najib menilai arah konflik masih belum bisa diprediksi karena absennya peran nyata dari Rusia dan China. “Bila mereka semua ikut turun tangan saya kira bisa lebih rumit lagi situasinya.”

Najib juga mengingatkan terkait dampak konflik terhadap situasi domestik Indonesia, baik secara ekonomi maupun sosial.

“Subsidi energi dan macam-macam sehingga harga-harga membumbung, subsidi membengkak dan saya kira bisa mengarah kepada problem ekonomi atau krisis ekonomi yang rumit.”

Najib berharap, Indonesia bisa memainkan peran global lebih aktif di bawah pemerintahan Prabowo yang memiliki karakter diplomatik lebih kuat dibandingkan pendahulunya.

“Prabowo punya artikulasi publik di dunia internasional karena wawasan, kemampuannya berkomunikasi di dunia internasional,” tutur Najib. (Rep-01)

Diclaimer:
Berita ini disarikan dari forum diskusi akademik Pojok Bulaksumur UGM. Pandangan narasumber tidak selalu mencerminkan sikap redaksi.

Pos terkait