Ratusan Siswa di Mlati Alami Gejala Keracunan Diduga karena MBG

Sejumlah siswa SMP N 2 Mlati datang ke Puskesmas Mlati 1 karena mengalami gejala keracunan, pada Jumat (24/10/2025). (dok. kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Seorang ibu berdiri di pojok parkiran Puskesmas Mlati 1 Sleman, pada Jumat (24/10/2025) siang. Rupanya, dia sedang menunggu kedatangan putrinya yang sedang dijemput oleh pihak Puskesmas, dari dijemput dari sekolahnya di SMP Negeri 2 Mlati.

Perempuan bernama Enah itu mengungkapkan, sejak Kamis (23/10/2025) malam, putrinya mengalami diare dan gejala keracunan yang diduga akibat menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, pada Jumat pagi, putrinya yang duduk di kelas 7, memaksakan diri untuk tetap berangkat ke sekolah karena merasa sakitnya sudah mereda.

Bacaan Lainnya

“Ini kesakitan lagi tapi dia masih di sekolah,” ungkap Enah kepada wartawan, di Puskesmas Mlati 1.

Menurutnya, tak hanya putrinya tetapi beberapa siswa lainnya juga mengalami gejala yang sama.

Beberapa menit kemudian, ambulans yang membawa putri Enah bersama dua teman sekolahnya tiba di Puskesmas. Mereka berjalan menuju ruang pemeriksaan dengan diikuti oleh para orang tuanya.

Kejadian dugaan keracunan akibat menu MBG yang disantap pada Kamis (23/10/2025) itu dialami oleh ratusan siswa dari tiga sekolah di wilayah Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ketiga sekolah yang dimaksud, yakni: SD Jombor Lor, SMP N 2 Mlati, dan MAN 3 Sleman. Mereka diduga mengalami gangguan pencernaan setelah menyantap menu opor ayam yang diberikan SPPG, pada Kamis (24/10/2025).

Menu MBG yang disantap para siswa di 3 sekolah pada Kamis (23/10/2025), sebelum mengalami gejala keracunan massal. (dok. istimewa)

Puskesmas: 1 Siswa Dirujuk ke RS

Kepala Puskesmas Mlati 1, Isah Listiyani mengaku, pihaknya telah memeriksa sekitar 80 siswa dari ketiga sekolah tersebut. Angka tersebut belum termasuk sejumlah siswa yang datang ke Puskesmas pada siang hari.

“Gejalanya perut mulas, mual, dan diare,” jelas Isah.

Menurutnya, satu dari puluhan siswa tersebut dirujuk ke Rumah Sakit karena kondisinya lemas. Sementara siswa lainnya diperbolehkan pulang setelah menjalani pemeriksaan.

Lebih lanjut, Isah menyatakan, pihaknya juga telah mengamankan sampel makanan MBG kemarin dan hari ini yang diambil dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang penyedia makanannya. Sampel itu nantinya akan ditindaklanjuti oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman.

Di lain pihak, Kepala Sekolah SMP N 2 Mlati Isnan Abadi menyampaikan, dari total 470 siswa, sekitar 200 anak diantaranya mengalami gejala keracunan kerena ikut menyantap menu MBG berupa nasi putih, opor ayam, tahu, acar, dan buah anggur.

Selain siswa, Isnan mengatakan ada tujuh guru yang mengalami gejala serupa.

SPPG Buka Suara

Sementara itu, Retna Susanti selaku Pembina Yayasan Mitra Karya Maporina sebagai penyelenggara SPPG untuk sejumlah sekolah di wilayah Sinduadi berdalih, kejadian yang dialami para siswa itu belum tentu keracunan, tetapi bisa karena bakteri atau penyebab lainnya.

“Kami belum bisa memastikan kalau terkait keracunan… Ini masih diteliti,” ucapnya ketika dihubungi melalui sambungan telepon.

Disinggung soal lauk ayam yang diduga menjadi penyebab keracunan, Retna mengungkapkan, Sebenarnya, selama SPPG-nya beroperasi sejak dua bulan terakhir, menu opor ayam merupakan menu yang berulang kali disajikan dan tidak ada masalah.

SPPG yang menjadi penyedia MBG di sejumlah sekolahan di wilayah Sinduadi, Mlati, Sleman (dok. kabarkota.com)

“Jadi kami belum bisa memastikan, apakah itu ada racun atau ada bakterinya,” tegas Retna

Bahkan dua minggu sebelum kejadian ini, papar Retna, pihaknya telah mengundang ahli gizi dari UGM untuk memitigasi terkait higienitas, dan komposisi makanan yang tepat supaya tidak menjadi racun. Mereka juga memberikan semacam pelatihan untuk Sumber Daya Manusia (SDM) di SPPG tersebut.

“Chef yang kami punya juga bersertifikasi, dan dapur kami yang kita punya itu pun memenuhi standar MBG,” ucapnya.

Setelah kejadian ini, Retna mengaku akan menunggu hasil pemeriksaan dari para pihak berwenang untuk memutuskan keberlangsungan operasional SPPG-nya. (Rep-01)

Pos terkait