“Rindu Masa Lalu”, Pak Win Pamerkan Ratusan Karya Ilustrasi dan Sketsa Era 80-an

Konferensi pers jelang pembukaan pameran Karya Ilustrasi dan Sketsa Pak Win, pada 13 Juli 2025. (dok. kabarkota.com)

BANTUL (kabarkota.com) – Dulu di era 1980 – 1990-an, ketika internet belum menjangkau Indonesia, buku-buku cerita bergambar atau komik dan Cerita Pendek (Cerpen) di koran-koran banyak digemari masyarakat. Win Dwi Laksono adalah salah satu ilustrator yang membuat visualisasi gambar dalam komik maupun cerpen yang kala itu banyak dinikmati masyarakat, khususnya di Yogyakarta.

Kini zaman telah berubah, era digital telah banyak menggeser perilaku masyarakat, terutama dalam hal minat baca hingga buku-buku cerita itu nyaris tak tersentuh lagi oleh generasi sekarang.

Bacaan Lainnya

Bagi sebagian orang, hal tersebut memunculkan kerinduan pada masa lalu, sebagaimana yang dirasakan Win Dwi Laksono atau yang akrab disapa Pak Win, seorang penyandang disabilitas yang telah menggeluti dunia seni sejak kecil.

Pak Win (baju hitam) menunjukkan beberapa karya ilustrasi dan sketsa yang ia pamerkan. (dok. kabarkota.com)

Kerinduan Pak Win itu termanifestasikan dalam Pameran Tunggal Karya Ilustrasi dan Sketsa yang ia beri tajuk “Rindu Masa Lalu”, di Equalitera Artspace Bantul, pada 13 – 16 Juli 2025 mendatang. Setidaknya, ada 300 karya ilustrasi dan sketsa dari tahun 1980 – 2024 yang dipamerkan perdana dalam pameran tunggal yang digelar oleh Win Art Studio Yogyakarta bekerjasama dengan Equalitera Artspace kali ini.

Pak Win kini memang dikenal sebagai perupa patung. Namun, di usia mudanya, bahkan sejak kecil, Pak Win sudah banyak menghasilkan karya sketsa dan ilustrasi. Termasuk, ilustrasi untuk menggambarkan cerita yang ditulis oleh Kho Ping Ho dan S.H. Mintaja yang terkenal pada masa itu.

“Ternyata yang saya lalui dan lakukan itu, pertama, rasa senang. Kedua, semangat yang istilah agak kasarnya Bonek. Ketiga, misterinya adalah tahu-tahu,” ungkapnya saat konferensi pers jelang pembukaan pameran, pada 13 Juli 2025.

Pak Win mencontohkan ketika dirinya sebagai pengagum Kho Ping Ho dan S.H. Mintarja membayangkan bertemu dengan kedua idolanya tersebut. Kemudian ia menggambar hingga pada suatu saat karya tersebut ia tawarkan ke mereka, dan ternyata diterima.

Sebagian karya ilustrasi  dan sketsa karya Pak Win yang dipamerkan. (dok. kabarkota.com)

Akhirnya, Pak Win menjadi ilustrator cerita Kho Ping Ho, khususnya silat Jawa. Dia bahkan berkesempatan bertemu dengan idolanya tersebut. Begitu pun dengan S.H. Mintarja. Pak Win juga sempat diajak masuk ke kamar pribadi idolanya tersebut dan menyaksikan bagaimana masing-masing dari mereka berproses sebagai penulis cerita yang hebat. Dua proses yang menurutnya sangat berbeda namun pada akhirnya keduanya bisa menghasilkan karya yang indah untuk dinikmati.

“Dari situ lah dua hal, yang satu liar Kho Ping Ho, tidak tahu tetapi mengalir. Sedangkan yang satu (S.H. Mintarja) tertib. Itu sangat indah,” kenangnya.

Dari 300 karya yang dipamerkan itu, Pak Win mengaku sangat terkesan dengan gambar “Bagus Sajiwo” yang ceritanya ditulis oleh Kho Ping Ho di era 90-an. Selain itu juga cerita Mahesa Jenar karya S.H. Mintarja yang juga ia ilustrasikan di tahun 1990-an.
.
Meski menekuni dunia seni patung, Pak Win masih sering membuat karya-karya gambar dua dimensi, baik dalam bentuk ilustrasi maupun sketsa yang tak jarang itu kemudian dijadikan karya tiga dimensi berupa patung, relief, dan diorama di museum.

Sketsa relief karya Pak Win. (dok. kabarkota.com)

Sementara terkait judul pameran “Rindu Masa Lalu”, Pak Win menambahkan, itu diambil dari salah satu lagu yang ia ciptakan di tahun 2003, dengan judul yang sama.

“Saya membayangkan kelompok musik saya di masa mendatang pasti bubar. Tetapi apakah benar bubar? Kalau sudah bubar bagaimana? Pasti ada rindu,” jelasnya.

3 Bentuk Karya yang Dipamerkan

Terra Bajraghosa selaku kurator untuk ilustrasi dan sketsa karya Pak Win menyebutkan, ada tiga bentuk karya yang ditampilkan dalam pameran kali ini. Pertama, ilustrasi untuk menggambarkan cerita dari dua penulis besar, yakni Kho Ping Ho dan S.H. Mintarja, serta ilustrasi cerpen. Kedua, ilustrasi sketsa yang kemudian dibuat untuk patung, relief, dan diorama di museum-museum. Ketiga, sketsa bebas yang eksploratif, dalam arti ada atau tidak ada objek di depannya, Pak Win terus menggambar, baik dengan satu atau dua warna maupun berwarna-warna hingga mirip seperti lukisan.

Karya ilustrasi dan sketsa berwarna yang dipamerkan Pak Win dalam pameran tunggal kali ini. (dok. kabarkota.com)

“Kenapa dipilih kata rindu masa lalu? karena di sini kejadiannya memang di kisah lalu, buku-buku ilustrasi bergambar tersebut, dan masa lalu kisah perjalanan lelaku seninya Pak Win sampai benar-benar fokus ke patung dan sekarang rindu lagi untuk menggambar,” paparnya.

Pameran Inklusi untuk Kesetaraan dalam Seni

Putri Pak Win, Ajeng yang juga moderator saat konferensi pers menerangkan bahwa pameran kali ini adalah pameran ke-7 ayahnya. Sekaligus, pameran tunggal pertama yang terkait karya ilustrasi dan sketsa.

Sementara pemilihan lokasi pameran di Equalitera Artspace karena tempat ini ditujukan sebagai galeri inklusi yang sudah beberapa kali menggelar pameran dan bisa dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

Untuk itu, pihaknya mengakomodasi hal itu dengan menyediakan tiga headphone untuk menjelaskan karya seni Pak Win kepada para pengunjung difabel netra. Selain itu, pameran kali ini juga menghadirkan tiga karya patung tiga dimensi yang bisa diraba oleh para penyandang tuna netra sehingga mereka bisa membayangkan dan mengerti tentang digur dari sketsa yang ada di ruang pamer tersebut.

Selain memamerkan karya dua dimensi berupa ilustrasi dan sketsa, Pak Win juga menghadirkan karya patung tiga dimensi dalam pameran tunggal kali ini. (dok. kabarkota.com)

Pada kesempatan ini, Direktur Equalitera Artspace, Nano Warsono juga menyampaikan bahwa sejak berdirinya Equalitera Artspace 2023 ini, pihaknya memfokuskan pada pameran inklusi dan mendorong para penyandang disabilitas dan orang-orang di luar arus utama untuk bisa memamerkan karya mereka di sini.

“Kami berusaha untuk menjunjung kesetaraan dalam seni. Siapa pun bisa mendapatkan kesempatan yang sama, asalkan memang memiliki kualitas untuk kami pamerkan,” tegasnya.

Sebelumnya, lanjut Nano, ruang ini adalah studio tempat Pak Win bekerja membuat patung dan karya seni lainnya yang kemudian ia transformasikan menjadi ruang pameran seperti sekarang. (Rep-01)

Pos terkait