Siapkan Wisata Sungai, Pemkot Yogya Keruk Sampah di Bendung Mergangsan

Proses normalisasi Sungai Code di Bendung Mergangsan Kota Yogyakarta, pada 24 Agustus 2025. (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Seekor tikus dan ular berwarna hitam keluar dari onggokan sampah di pinggiran Sungai Code. Mereka berenang cepat demi menyelamatkan diri menghindari cengkraman eskavator yang mengombrak-abrik sarangnya.

Sementara pengemudi alat berat itu terus mengeruk dan memindahkan onggokan sampah di tepian sungai ke sisi tengah untuk nantinya diangkat dari sungai oleh para petugas kebersihan berseragam oranye yang turut mengambil sampah yang mencemari aliran air sungai.

Bacaan Lainnya

Kegiatan normalisasi Sungai Code yang dipusatkan di Bendung Mergangsan ini dihadiri Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo dan para pejabat terkait di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) dan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO). Bahkan mereka juga ikut turun ke sungai memungut sampah.

Proses pengerukan sampah di Sungai Code dengan alat berat. (dok. kabarkota.com)

Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengatakan, soft launching normalisasi sungai dengan penurunan alat berat ini merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X yang baru-baru ini datang ke Balaikota Yogyakarta untuk membahas masalah penanganan sampah, termasuk di sungai-sungai.

“Kalau Ngarsa Dalem (Sultan) sudah berbicara begitu, maka yang di bawah harus tanggap, kita harus bagaimana,” kata Hasto dalam sambutannya di Bendung Mergangsan, pada 24 Agustus 2025.

Restorasi (pemulihan kembali) sungai ini, sebut Hasto, akan dibarengi juga dengan pembangunan berkelanjutan hingga akhir bulan September mendatang. Meskipun, anggaran untuk pembangunan infrastruktur temasuk yang terkena efisiensi.

Untuk menyiasatinya, mantan Bupati Kulon Progo ini mengungkapkan bahwa Pemkot Yogyakarta akan menerapkan Money follows program, bukan money follows function yang anggarannya dibagi rata tetapi hanya kecil-kecil nilainya sehingga hasilnya kurang maksimal.

Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. (dok. kabarkota.com)

“Kalau money follows program itu anggaran diprioritaskan ke program. Misalnya di Kota ini masalahnya adalah lingkungan kumuh, penanganan sampah belum selesai, sungai sudah lama tidak diperbaiki, dan taman-tamannya kurang bagus sehingga angggarannya dikonvergensikan ke sana,” papar mantan Kepala BKKBN ini.

Terlebih, Hasto menyampaikan bahwa Sultan telah memberi masukan agar sampah-sampah di sugai dibersihkan sehingga airnya jernih dan sungainya indah dipandang mata. “Orang-orang juga bisa berwisata di situ,” sambungnya.

Normalisasi sungai ini, sebut Hasto, sebagai upaya untuk menerjemahkan keinginan Gubernur tersebut, dengan fokus membereskan sedimentasi. Tidak hanya di Sungai Code, tetapi juga Sungai Gajah Wong, dan Sungai Winongo. Upaya tersebut dilakukan Pemkot Yogyakarta bersama BBWSSO, minimal empat kali setahun.

BBWSSO Restorasi 3 Sungai di Kota Yogya

Raden Roro (RR) Vicky Ariyanti selaku Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWSSO menambahkan, pihaknya juga akan berkerjasama dengan sejumlah pihak untuk mengembalikan fungsi ekologis sungai, khususnya di Kota Yogyakarta.

“Saat ini sampai akhir September, kami ada kegiatan penataan talut di tiga sungai kota Yogyakara,” ucapnya.

Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWSSO. RR. Vicky Aryanti. (dok. kabarkota.com)

Selain itu, pihaknya juga akan menggandeng dinas untuk menyiapkan semacam unit pengelolaan supaya mereka bisa mendapatkan izin pengelolaan sungai, sesuai peraturan yang berlaku.

Pihaknya berharap, nantinya kawasan di tepian sungai bisa menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) seperti halnya harapa walikota.

Bendung Mergangsan Potensial untuk Wisata Sungai tengah Kota

Sementara itu, penggerak restorasi sungai indonesia, Agus Maryono berpandangan bahwa proses restorasi sungai itu mencakup restorasi hidrologi, morfologi, dan masyarakat.

Dekan Sekolah Vokasi UGM ini menjelaskan, restorasi hidrologi bisa dilakukan dengan pengangkatan sampah. Restorasi morfologi dengan mengembalikan fungsi sungai, dan restorasi masyarakat dengan edukasi

“Di sini ada komunitas Sungai Code yang sudah ada sejak tahun 2000. Harapannya itu bisa dihidupkan kembali sehingga edukasi kemasyarakat bisa jalan,” tuturnya.

Selain itu, Sekretariat Bersama Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul (Sekber Kartamantul) juga perlu diaktifkan kembali pengelolaannya untuk menangani masalah pencemaran sungai secara bersama-sama.

Bendung Mergangsan Yogyakarta. (dok. kabarkota.com)

Sementara untuk pengembangan kawasan wisata tepi sungai, Agus menekankan sejumlah hal yang perlu diperhatikan. Pertama, edukasi ke masyarakat agar keberadaan objek wisata itu nantinya tidak justru mengotori sungainya. “Jadi edukasi memanfaatkan, sekaligus mencintai sungai”.

Kedua, keselamatan. Mengingat, iklim sekarang fluktuatif. “Kalau mengadakan wisata, maka juru selamatnya harus banyak. Maksudnya, orang-orang yang diberi tugas untuk menyelamatkan dan warningnya juga harus bagus,” tegasnya

Ketiga, sebut Agus, Sungai Code dengan Bendung Mergangsan yang lokasinya di tengah kota dan cukup dekat dengan Malioboro ini potensinya bagus untuk dikembangkan sebagai objek wisata sungai. Terlebih, saat ini wisata sungai di Kota Yogyakarta baru dikembangkan di Sungai Gajah Wong.

Pihaknya mencontohkan, wisata sungai yang dihadirkan nantinya memadukan wisata kuliner dan wisata pertunjukan di tepi sungai, dengan melibatkan warga sekitar.

“Jangan sampai investor yang masuk, dan masyarakat sekitar hanya diam,” pintanya.

Menurutnya, wisata air juga sangat mungkin dikembangkan di Embung Mergangsan ini, dengan dilengkapi fasilitas perahu, ban, serta Alat Pengaman Diri (APD) bagi wisatawan supaya mereka terlindung dari air sungai yang kotor, sembari sungainya terus dibersihkan. (Rep-01)

Pos terkait