3 Tahun tak ada Kejelasan, Warga Terdampak Proyek Tol Yogya – Solo di Sleman Protes

Spanduk protes warga Padukuhan Simping Janturan, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, DIY atas ketidakjelasan kelanjutan proyek pembangunan jalan tol Yogya – Solo. (dok. kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Sekitar tiga tahun lamanya, Warga Padukuhan Simping Janturan, RT 05/RW 13, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, DIY yang terdampak proyek pembangunan jalan tol Yogya – Solo bersabar menunggu kejelasan terkait rencana proyek pembangunan jalan tol Yogya – Solo. Namun, sejak disosialisasikan pada 2019 lalu hingga kini, warga tidak juga mendapatkan kejelasan.

Akhirnya, sejak Kamis (2/12/2022), warga memasang spanduk bernada protes karena tidak adanya kepastian proses pembebasan lahan mereka.

“Itu bentuk keluh kesah kami sebagai warga terdampak karena tidak kunjung ada kepastian perjanjian pengadaan lahan,” kata Ketua RT 5, Agus Tri Cahyo, saat ditemui di kediamannya, pada Jumat (3/12/2022).

Ketua RT 05, Agus Tri Cahyo menunjukkan patok proyek jalan tol Yogya – Solo di wilayahnya, pada Jumat (2/12/2022). (dok. kabarkota.com)

Menurutnya, ada sekitar 57 Kepala Keluarga (KK) dengan 90 bidang tanah di RT 05 yang terdampak pembangunan proyek strategis nasional tersebut. Jumlah itu termasuk bangunan rumah milik Agus seluas 220 meter persegi.

Agus mengaku, hampir setiap proses berjalan, pihaknya mempertanyakan kelanjutan prosesnya kepada pihak-pihak terkait, namun hingga berbulan-bulan tak kunjung ada kelanjutannya.

“Terakhir 3 bulan lalu, ada proses appraisal,” ucapnya lagi.

Padahal, dampak dari ketidakpastian proses tersebut, anggap Agus, sangat merugikan dan meresahkan warga. Mengingat, sejumlah program pembangunan di wilayahnya menjadi terhambat, dan bahkan sebagian warga terdampak telah berencana membeli lahan di lokasi lain, dengan membayar uang muka hingga puluhan juta rupiah.

“Kalau sampai buntu, maka kami ada wacana untuk membatalkan kesediaan dukungan atas pembangunan jalan tol di wilayah kami,” tegasnya lagi.

Lurah: “Wajar mereka resah”

Sementara Mardiharto selaku Lurah Tirtoadi memaklumi pemasangan spanduk oleh warga tersebut, karena keresahan warga. Pihaknya juga tidak memungkiri bahwa hampir setiap hari menerima aduan warga terkait permasalahan tersebut.

Lurah Tirtoadi, Mardiharto (dok. kabarkota.com)

“Menurut saya wajar karena mereka resah menunggu kepastian. Ada dari mereka yang memberi DP (uang muka) tanah, tapi DP-nya dihilangkan. Ada juga yang sampai pinjam ke bank,” jelas Mardi di Kantor Kalurahan Tirtoadi.

Mardi mengaku, pihaknya telah menyampaikan permasalahan warga tersebut ke Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Badan Pertanahan Nasional (BPN), dan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispetaru). Namun menurutnya, dari sisi prosedurnya memang belum sampai.

“Permasalahannya apa, kami tidak tahu,” katanya.

Selain Padukuhan Janturan, Mardi menyebut, Padukuhan Kaweden, Sendari, Ketingan, dan Gombang juga belum mendapatkan kepastian terkait kelanjutan proyek pembangunan tol Yogya – Solo, khususnya di wilayah Kalurahan Tirtoadi. Dari sejumlah padukuhan itu, sedikitnya ada 1.000 bidang tanah yang kebanyakan adalah lahan persawahan. (Rep-01)

 

Pos terkait