Belasan Jurnalis Terpapar Covid-19, AJI Yogya: Tak Ada Berita Seharga Nyawa

Ilustrasi: Dua jurnalis sedang melakukan peliputan di kawasan Malioboro Yogyakarta (dok. kabarkota.com).

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Belasan jurnalis dari berbagai media di Yogyakarta terkonfirmasi positif Covid-19. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta menyerukan agar para wartawan mengutakan keselamatan dalam melaksanakan kerja jurnalistiknya di tengah pandemi.

“Tidak ada berita seharga nyawa,” tegas Ketua AJI Yogyakarta, Shinta Maharani dalam siaran pers yang diterima kabarkota.com, Minggu (27/6/2021).

Di sisi lain, pihaknya juga mendesak agar perusahaan pers memberikan perlindungan kepada para jurnalis, termasuk memenuhi hak-hak mereka sebagai pekerja, dengan tidak memotong gaji bagi para wartawan yang tidak bisa menjalankan tugasnya karena menjalani isolasi.

“Perusahaan media juga hendaknya menghindari Pemutusan Hubungan Kerja,” harap Shinta.

Shinta menyebut, berdasarkan data AJI Indonesia, sejak Maret 2020 hingga 19 Juni 2021 sedikitnya 381 pekerja media telah terinfeksi Covid-19, bahkan sembilan di antaranya meninggal dunia.

Oleh karena itu, AJI Yogyakarta juga meminta perusahaan media memberikan jaminan perlindungan ekstra bagi para pekerjanya. Diantaranya, dengan menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker, hand sanitizer, dan vitamin, serta tidak mengabaikan keselamatan jurnalis.

Lebih lanjut pihaknya juga mengimbau agar kantor-kantor pemerintahan yang menjadi tempat liputan jurnalis bisa menerapkan protokol kesehatan dengan lebih ketat, serta meminimalisir jumpa pers tatap muka yang berpotensi besar memunculkan kerumunan.

“Jika ada jumpa pers bisa melalui daring, tapi syaratnya informasi yang disampaikan oleh pemerintah semestinya juga mengutamakan prinsip keterbukaan publik,” tegasnya.

Pemerintah, lanjut Shinta, semestinya juga memenuhi vaksinasi, termasuk bagi para jurnalis. Mengingat, sejumlah penelitian menyebut bahwa hingga saat ini, jangkauan vaksinasi di Indonesia masih terhitung rendah, dari target 70 – 80 persen.

“Kami menghimbau agar para jurnalis saling bersolidaritas, bahu membahu membantu rekannya yang terinfeksi,” sambungnya.

Dihubungi terpisah, salah seorang jurnalis dari media elektronik di DIY, Rini mengaku, pada Maret lalu, pihaknya bersama sejumlah rekannya mengalami gejala yang mengarah ke Covid-19 sehingga harus mengalami isolasi mandiri (isoman), selama beberapa hari.

“Awalnya, ada salah satu teman kami yang terkonfirmasi positif. Kemudian kami yang kontak erat, dan mengalami gejala langsung melakukan isolasi mandiri,” ucapnya kepada kabarkota.com.

Rini mengungkapkan, gejala yang ia alami menyakitkan, karena mengalami diare, demam, batuk, hingga sesak nafas dalam beberapa hari. Namun demikian, ia mengaku masih melaksanakan tugasnya dari rumah (Work from Home).

“Saya berpesan agar teman-teman media dalam melaksanakan peliputan ekstra hati-hati, taati protokol kesehatan, karena terkena Covid-19 itu sakit,” katanya.

Berdasarkan Data Harian kasus Covid-19 di DIY per 27 Juni 2021, penambahkan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 830 kasus sehingga total kasus saat ini mencapai 57.858 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 47.462 kasus sembuh, dan 1.479 kasus meninggal dunia. (Rep-02)

Pos terkait