BMKG Gelar Sekolah Lapang Nelayan di Yogyakarta

Pembukaan Sekolah Lapang Nelayan (SLN), di Sleman, Senin (13/8/2018). (sutriyati/kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Laut sejatinya bisa memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan dan memperluas ekonomi nasional, serta kesejahteran rakyat. Karenanya, perikanan laut menjadi salah satu sektor yang diandalkan untuk pembangunan nasional, serta sumber mata pencaharian nelayan perlu dipertahankan.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang dibacakan oleh Asisten Sekretaris Daerah (Asekda) Pemda DIY, Sulisyo, dalam pembukaan Sekolah Lapang Nelayan (SLN), di Sleman, Senin (13/8/2018).

Hanya saja, menurutnya, para nelayan kecil sebagai pelaku perikanan masih menghadapi berbagai kendala. Selain keterbatasan modal dan alat tangkap, para nelayan khususnya di DIY juga kebanyakan masih minim pengetahuan dan ketrampilan sebagai nelayan. Termasuk minimnya kepahaman tentang informasi penting saat hendak melaut. Hal itu yang kemudian berdampak pada jumlah tangkapan ikan mereka. Tak jarang kecelakaan laut juga menjadi hal yang sulit dihindari nelayan.

“Selama ini, nelayan masih mengandalkan arah awan untuk melaut. Dalam arti, para nelayan masih banyak yang belum memperhatikan kondisi cuaca dan iklim saat akan melaut,” kata Sulistyo.

Baca Juga:  Pemulangan eks Gafatar Timbulkan Permasalahan Baru?

Padahal, lanjut Asekda, sesungguhnya informasi tersebut sangag dibutuhkan sehingga mereka bisa memprediksi ataupun memperhitungkan urung tidaknya saat mereka hendak melaut.

Salah satu nelayan di Pantai Drini Gunung Kidul, Suyanto juga mengungkapkan bahwa hingga sekarang, nelayan di wilayah Gunung Kidul masih kesulitan mengakses informasi cuaca dan iklim karena terkendala jaringan internet. Kalaupun bisa mengakses, para nelayan umumnya juga masih kesulitan untuk memahami arti dari informasi yang diterima.

“Selama ini nelayan kalau akan melaut ya mengandalkan ilmu titen (pranoto mongso), dengan penanggalan Jawa,” kata Suyanto kepada kabarkota.com.

Dengan ilmu tersebut, imbuh Suyanto, para nelayan biasanya bisa memprediksi mungkin tidaknya untuk melaut, dengan melihat kalender perhitungan Jawa, misalnya di tanggal 15 ataupun tanggal 1 setiap bulannya.

“Hasil tangkapannya kalau cuacanya seperti sekarang yasekitar 10-15 kg ikan,” ucap nelayan asal Dusun Wonosobo II, Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunung Kidul, DIY ini.

Baca Juga:  Gerah dengan Pembangunan Hotel, Aktifis Gerakan Jogja ora Didol tantang Pemda Kembangkan Kampung Wisata

SLN untuk Keselamatan dan Peningkatan Produktivitas Nelayan

Sementara Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati berpendapat bahwa sekarang jaman telah berubah. “Saat ini pranoto mongso sudah diporak-porandakan, dengan dampak perubahan iklim global,” ucap mantan Rektor UGM ini.

Dipaparkan Dwikorita, daerah-daerah yang seharusnya panas menjadi dingin, dan sebaliknya daerah yang semestinya dingi menjadi panas. Pihaknya mencontohkan adanya salju di Sahara, dan di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, baru-baru ini, serta di Jepang yang beberapa waktu lalu sempat dilanda suhu panas sehingga banyak korban meninggal dunia.

Di lain sisi, BMKG juga tak memungkiri bahwa informasi-informasi terkait cuaca dan iklim selama ini, cenderung masih sulit dipahami maksudnyaoleh sebagian besar masyarakat, karena disajikan dalam bentuk angka, gambar, dan warna.

“Tujuan Sekolah Lapang Nelayan ini, selain memberikan informasi juga juga untuk menguji-coba informasi yang disampaikan tersebut bisa dipahami atau tidak, jadi merupakan jaminan informasi itu harus bisa dipahami,” tegasnya. Mengingat, BMKG menyadari pentingnya keselamatan dan produktivitas bagi nelayan.

Baca Juga:  Warga Sardonoharjo Sleman Usulkan OTT Praktik Politik Uang

SLN bertema “Perhatikan Cuaca sebelum Melaut” ini diikuti oleh 30 peserta, dari perwakilan petugas pelabuhan (4 orang), penyuluh perikanan (13 orang), nelayan (11 orang), dan petambak (2 orang), dari wilayah Gunung Kidul, Bantul, dan Kulon Progo. SLN yang dibagi dalam tiga tahapan ini, dilaksanakan mulai tanggal 13-16 Agustus 2018 mendatang, dengan berbagai materi. Termasuk juga praktik di lapangan.

Kepala BMKG menambahkan, SLN sebenarnya sudah dilaksanakan di sejumlah daerah di Indonesia. Pada tahun 2016, ada 333 peserta dari 11 provinsi. Kemudian tahun 2017 sebanyak 300 peserta dari 11 provinsi, dan di tahun 2018 ini ada 385 peserta dari 11 provinsi, termasuk DIY. Sementara untuk tahun 2019 mendatang, BMKG menargetkan SLN di 20 provinsi. (sutriyati)