Hadapi Pandemi, Hotel di Yogya Bidik Pangsa Pasar Keluarga

  • Whatsapp

Suasana launching Hotel Tab Yogyakarta, Senin (22/11/2021). (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Selama masa pandemi Covid-19, industri pariwisata di Yogyakarta, khususnya bisnis hotel dan restoran termasuk yang mengalami dampak buruknya. Lantaran hampir semua objek wisata ditutup selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Bacaan Lainnya

Namun seiring menurunnya kasus Covid-19 di DIY, Pemerintah Daerah (Pemda) mulai memberikan kelonggaran-kelonggaran dengan membuka objek-objek wisata, setelah level PPKM di DIY turun ke kevel 2.

Penurunan level PPKM tersebut memberi angin segar bagi para para pelaku bisnis Perhotelan dan Restoran. Bahkan, investor mulai membuka bisnis hotel dan restoran, khususnya di Kota Yogyakarta. Salah satunya, Hotel Tab Yogyakarta yang membidik pangsa pasar keluarga.

Komisaris Tab Hotel Yogyakarta, Frangky Tanimena menilai, selama ini, setiap tamu atau wisatawan yang datamg ke Yogyakarta selalu membawa keluarganya.

Komisaris Tab Hotel Yogyakarta, Frangky Tanimena. (dok. kabarkota.com)

“Sehingga segmen yang kami bentuk, satu kama isi empat orang,” kata Frangky saat launching hotel yang terletak di Kemetiran Lor Yogyakarta, pada Senin (22/11/2021).

Selain itu, menurutnya, pangsa pasar tersebut relatif belum banyak dibidik oleh para pelaku hotel sehingga peluangnya cukup bagus untuk digarap. Termasuk, mencegah terjadinya persaingan harga yang tidak sehat antar-pengelola hotel di Yogyakarta.

Sementara menyangkut kebijakan pemerintah selama PPKM, Frangky mengaku pihaknya akan mengikuti sesuai arahan pemerintah. Termasuk, dengan adanya wacara pemberlakuan PPKM Level 3 di masa libur Natal dan Tahun Baru mendatang.

“Kami juga sudah mendapatkan sertifikat CHSE,” sambung Frangky.

Sementara dihubungi terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (DPD PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono menjelaskan, selama pandemi Covid-19, hotel-hotel non bintang di Yogyakarta lebih banyak membidik pangsa pasar keluarga dibandingkan grup yang kapasitasnya masih terbatas.

Ketua DPD PHRI DIY, Deddy Pranowo Ernowo. (dok. kabarkota.com)

“Kalau pangsa pasar keluarga potensial dan bisa meningkatkan okupansi,” kata Deddy kepada kabarkota.com.

Terkait persaingan harga, Deddy berpendapat bahwa rate harga antara hotel berbintang dan non bintang berbeda sehingga wisatawan bisa memilih sesuai budget mereka.

Pihaknya justru mengimbau, agar para pelaku bisnis perhotelan bisa bersinergi dalam menghadapi masa-masa sulit seperti sekarang. Salah satunya, dengan melimpahkan tamu hotel ke hotel lain yang selevel, ketika salah satu hotel tamunya penuh.

“Istilahnya guyup sesarengan, yakni saling membantu, mendoakan, menyemangati, dan mengingatkan satu sama lain,” ucapnya.

Deddy juga tidak mempermasalahkan hadirnya hotel-hotel baru di Yogyakarta, selama memenuhi persyaratan dan aturan yang berlaku.

“PHRI welcome. Tapi kami berharap mereka juga masuk PHRI karena akan memudahkan untuk berkoordinasi, konsolidasi, dan komunikasi, baik dengan pemerintah maupun sesama anggota. Supaya persaingannya juga sehat,” pintanya.

Deddy menambahkan, selama satu bulan terakhir, tingkat okupansi hotel bintang maupun non bintang di DIY mengalami peningkatan hingga sekitar 85 persen, dari total kapasitas 75 persen selama pandemi.

GM Tab Hotel Yogyakarta, Christian Chandra menunjukkan salah satu room hotel, (dok. kabarkota.com)

“Ini menandakan bahwa denyut nadi itu sudah ada, tapi belum berarti bahwa PHRI baik-baik saja,” tegasnya.

Untuk itu PHRI berharap, jika nantinya PPKM Level 3 benar-benar diberlakukan, maka pemerintah tidak melarang orang untuk bepergian, melainkan cukup memperketat Protokol Kesehatan (Prokes) saja. Misalnya, dengan mewajibkan vaksin 2 kali dosis, tes swab antigen, tidak boleh berkerumun, serta menindak tegas para pelaku wisata maupun wisatawan yang tidak menaati prokes tersebut.

terkait wacana pemberlakuan ppkm level 3, kami tidak kaget karena sudah terbiasa dikejutkan dengan kebijakan tersebut.

“Itu sebagai solusi agar kesehatan dan ekonomi bisa berjalan seiring dan sejalan,” anggap Deddy. (Rep-01)

Pos terkait