SLEMAN (kabarkota.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah mulai direalisasikan di sekolah-sekolah wilayah DIY, tak terkecuali di Kabupaten Sleman, sejak beberapa bulan terakhir.
Bagi orang tua siswa, di satu sisi program ini dinilai cukup baik karena anak-anak mendapatkan jatah makan di sekolah hampir setiap hari. Tapi di sisi lain, mereka juga menimbulkan kekhawatiran terkait kualitas makanannya. Terlebih, baru-baru ini terjadi kasus siswa keracunan massal usai menyantap MBG, di sejumlah sekolah wilayah Kapanewon Mlati.
Ajeng, ibu dari salah satu siswa SMP di wilayah Sleman mengaku khawatir setiap kali anaknya menerima MBG di sekolah.
“Setiap hari saya deg-degan. Anak saya dapat makanan yang bagaimana, basi atu tidak? karena saat makanannya sampai di sekolah, seringkali sayurnya sudak tidak layak dimakan karena basi,” kata Ajeng kepada kabarkota.com, pada Jumat (15/8/2025).
Menurutnya, berdasarkan cerita dari para wali murid di sekolahnya, terkadang anak-anak mereka juga mengalami gangguan pencernaan, seperti, perut mulas dan diare.
Oleh karenanya, Ajeng dan beberapa wali murid lainnya tetap membawakan bekal makanan untuk anak-anak mereka, meskipun di sekolah mendapatkan MBG.
“MBG tetap diterima tp dimasukin tempat makan dan dibawa pulang,” ucapnya lagi.
Sementara itu, Isti, salah satu wali murid di SD wilayah Sleman juga cukup was-was dengan kualitas makanan MBG yang disantap anak-anaknya di sekolah.
“Menu dan kualitas makanan, sebenarnya lumayan memenuhi standar. Hanya saja terkadang kalau sudah agak siang, ada tanda-tanda makanan mulai basi, mungkin karena waktu memasaknya yang terlalu pagi,” anggapnya.
Biasanya, sebut Isti, makanan tiba di sekolah sekitar jam 7 pagi. Sementara anak-anak mulai menyantap makanan antara pukul 10.00 – 11.00 WIB.
Meski pun kabar keracunan massal siswa usai menyantap MBG membuatnya cukup khawatir, namun Isti meyakini bahwa ke depan, pihak-pihak berwenang pasti melakukan evaluasi dan perbaikan setelah adanya kasus tersebut.
“Semoga ahli gizi lebih serius dalam mempersiapkan menu program MBG,” harapnya.
Hal senada juga diungkapkan Devi, salah satu orang tua siswa madrasah yang berharap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih teliti, higienis, dan menggunakan dana MBG dengan semestinya agar kualitas makanan tetap terjaga, sesuai tujuan pemerintah menuju Indonesia emas. Selain itu, perlu ada ahli gizi dan orang yang mengkontrol makanan, sebelum disantap oleh para siswa di sekolah.
“Walaupun mungkin agak ribet, tetapi itu penting demi keselamatan siswa,” tegasnya.
Lebih lanjut Devi menilai, dengan adanya MBG, selain membantu menghemat uang untuk belanja bekal makanan di sekolah, anaknya juga bisa menyisihkan uang sakunya untuk ditabung.
Ia mencontohkan, dari uang saku sekitar Rp 10 ribu, biasanya ada sisa Rp 3 ribu – Rp 5 ribu per hari.
“Kalau MBG dimakan istirahat pertama, maka jajannya saat istirahat kedua,” sebutnya.
Keracunan Massal, Sejumlah Sekolah di Sleman Hentikan Sementara Program MBG
Sebelumnya, nasib nahas dialami puluhan siswa SMP Muhammadiyah 3 Mlati, Sleman. Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 3 Mlati, Yulia Rachmawati mengatakan, lebih dari 80 siswanya sakit perut dan diare hingga harus mendapatkan penanganan medis dari Puskesmas Mlati II. Bahkan, ada tiga siswa yang dirujuk ke RSUD Sleman karena mengalami sesak nafas.
“Kami baru tahu kejadiannya, ada permasalahan pada anak-anak itu Rabu (13/8/2025) pagi,” tutur Yulia, pada 14 Agustus 2025. Itu lantaran banyak siswa yang tidak masuk sekolah. Setelah ditelusuri dan didata, mereka mengalami diare pada Selasa (12/8/2025) malam.
Pihaknya menduga, mereka keracunan setelah menyantap nasi rawon dari program MBG. Sebab, gejala yang sama juga dialami ratusan siswa di sekolah lain. “Lalu, kami menanyakn apa yang dikonsumsi, berbagai hal ternyata merujuknya semua ke MBG,” sesalnya.
Akibat kejadian tersebut, pihaknya menghentikan sementara program MBG bagi 167 siswa di sekolahnya hingga hasil penyelidikan keluar, dan ada perbaikan, serta jaminan keamanan MBG lagi.
Yulia juga meminta, adanya evaluasi perbaikan dalam hal mekanisme penyediaan MBG, SOP harus semakin diperketat dan diperjelas, mulai dari pemilihan bahan, pemasakan hingga distribusinya ke sekolah. Termasuk, informasi kepada sekolah tentang batas waktu kelayakan makanan itu konsumsi, karena dimasaknya sejak malam hari.
Pengobatan Siswa Keracunan MBG Ditanggung BPJS Kesehatan
Di lain pihak, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa menyampaikan bahwa Pemkab Sleman melalui dinas terkait, telah mengambil sejumlah tindakan pasca keracunan massal tersebut. Diantaranya, fokus pada penanganan, pemulihan, serta pendampingan kepada para siswa yang mengalami keracunan.
“Dari hasil evaluasi penanganan Dinkes, per-hari ini semua siswa kondisinya terus membaik,” tuturnya sebagaimana dilansir dari laman kabarnusa, pada 14 Agustus 2025. Selain itu,pengobatan para siswa juga akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan agar tidak membebani mereka.
Danang menambahkam, keracunan yang dialami sekitar 212 siswa di Kapanewon Mlati itu bermula dari Laporan Puskesmas Mlati 1 dan 2 yang menangani para siswa dengan keluhan diare dan muntah. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Tim Gerak Cepat (TGC) Dinkes Sleman. Hasil investigasi lapangan menunjukkan insiden ini terjadi di empat sekolah. Yakni: SMP Muhammadiyah 1 Mlati; SMP Muhammadiyah 2 Mlati; SMP Negeri 3 Mlati; dan SMP Pamungkas Mlati. (Rep-01)







