Mengenang Kepergian KH. Imam Aziz: Tokoh NU Yogya, Pejuang Kemanusiaan

Jenazah KH. Imam Aziz saat upacara jelang pemakaman di Kompleks Pondok Pesantren Bumi Cendekia, pada 12 Juli 2025. (dok. kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Hari Sabtu siang itu, langit di atas Bumi Cendekia tampak cerah, tapi tidak dengan suasana hati orang-orang yang berkumpul di Pondok Pesantren tersebut. Ratusan orang datang dan pergi silih berganti untuk menyampaikan ucapan bela sungkawa dan dukungan bagi keluarga atas meninggalnya Kyai Haji (KH) Imam Aziz.

Karangan bunga ucapan duka cita dari banyak pihak, berjajar di sekitar Pondok Pesantren yang beralamat di Padukuhan Gombang, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, DIY itu. Salah satunya, karangan bunga dari Presiden RI, Prabowo Subianto yang diletakkan di dekat pintu masuk pendopo sisi timur.

Bacaan Lainnya

Istri almarhum, Nyai Rindang Farihah yang duduk kursi lipat deretan depan, mengenakan gamis dan jilbab putih. Dari wajahnya terlihat duka mendalam, air matanya sesekali menetes, namun ia masih berusaha tersenyum ketika sebagian para takziyah menghampiri dan memeluknya sebagai bentuk dukungan moral atas kesedihannya kehilangan suami tercinta.

Istri almarhum KH. Imam Aziz (jilbab putih), Nyai Rindang Farihah saat menyalami seorang takziyah. (dok. kabarkota.com)

Di pendopo, jenazah KH. Imam Aziz disemayamkan dengan ditutup kain hijau. Para takziyah pun silih berganti memberikan penghormatan terakhir, dengan salat jenazah, sebelum upacara pemberangkatan pemakaman jenazah dimulai. Di luar pendopo, salah satu putra almarhum, Muhammad Birru Kamayasya berjalan gontai diampit dua temannya. Dia menangis menuju ke pemakaman, saat upacara pemberangkatan jenazah hampir selesai. Di tengah jalan, seorang perempuan bergamis dan berjilbab hitam memeluknya sembari memberikan support agar dia sabar dan tabah menghadapi musibah tersebut.

Sekitar pukul 13.30 WIB, upacara pemberangkatan jenazah dimulai. satu per satu, perwakilan dari organisasi non pemerintah maupun komunitas yang selama ini dekat dengan sosok almarhum, diberi kesempatan untuk menyampaikan sambutan, setelah pembacaan biografi tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Yogyakarta ini selesai dibacakan.

PBNU: Imam Aziz, sosok Pejuang NU yang Ikhlas

Jadul Maula selaku perwakilan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai, almarhum semasa hidupnya adalah sosok kyai NU, aktivis, dan pejuang kemanusiaan yang penuh dengan keikhlasan.

“Di jalur formal, informal, struktural maupun kultural, beliau sangat aktif dan memberikan satu warna atu pun peran dalam menjaga dan meneguhkan NU di jalur yang benar-benar membawa maslahat atau manfaat yang sebesar-besarnya kepada Indonesia.,” kenang Jadul ketika menyampaikan sambutan saat upacara pemberangkatan pemakaman jenazah di Kompleks Bumi Cendekia, pada 12 Juli 2025.

Baginya, Imam Aziz adalah sosok guru sekaligus seniornya di PBNU. “Kami dari PBNU memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya atas jasa-jasa beliau menghidupkan spirit dan hikmah aktivitas untuk NU sehingga kehadirannya bisa dirasakan oleh seluruh lapisan warga masyarakat Indonesia,” ucap Jadul mengakhiri sambutannya.

Di mata Aktivis, KH. Imam Aziz Pejuang Kelompok Minoritas yang Terpinggirkan

Karangan bunga ucapan bela sungkawa dari Presiden RI, Prabowo Subianto. (dok. kabarkota.com)

Pribadi mantan Ketua PBNU yang low profile itu pun sangat membekas tidak hanya bagi warga Nahdliyin tetapi juga kelompok-kelompok di luar NU. Aktivis Gerakan Perempuan Yogyakarta, Sri Wiyanti Eddyono mengaku sangat kehilangan tokoh panutan, pemikir, intelektual organik, dan gerakan keislaman serta keadilan, setelah kepergian KH. Imam Aziz.

“Aktivisme almarhum sangat berdampak tidak hanya pada gerakan keislaman, tetapi pada gerakan keadilan sosial,” ucap perempuan lulusan Fakultas Hukum UGM ini sembari terisak.

Di mata Sri, almarhum semasa hidupnya adalah seorang mediator yang low profile sehingga hampir semua orang merasa dekat dengannya. Tak terkecuali kelompok-kelompok yang rentan diskriminasi dan termarjinalkan. “Beliau hadir dan menghubungkan titik-titik yang putus dan menjadi jalinan gerakan yang berkait dan berkelindan, dengan menggunakan pendekatan kultural dan keagamaan, dalam ‘mengkerangkai’ isu-isu sosial,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan aktivis Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY) Sukiratnasari alias Kiki dan Ika Ayu yang berpendapat bahwa Ketua Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Cendekia itu merupakan tokoh agama dan masyarakat yang memang berjuang di isu-isu struktural.

“Beliau juga berjuang dalam situasi yang tidak mudah karena yang dibela korban peristiwa 1956, Rembang, termasuk wadas. Di isu-isu lingkungan, beliau juga mendampingi masyarakat,” ungkap Kiki.

Pria pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) Yogyakarta itu, menurut Ika Ayu, juga sangat peduli terhadap isu-isu minoritas yang dianggap pinggiran.

Gunretno dari perwakilan Komunitas Samin juga berpandangan bahwa Imam Aziz adalah salah satu sosok yang memiliki kepekaan terhadap masalah-masalah yang sedang berkembang terkait kebangsaan maupun kehidupan, membangun keadilan tanpa pilih kasih.

Kepekaannya itu, sebut Gunretno, tidak hanya dalam pikiran, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata. Salah satnya, ketika pihaknya mendapatkan mandat dari Gus Mus (KH. Mustofa Bisri) dari Rembang, baru-baru ini, agar mengusulkan moratorium izin tambang di wilayah Pulau Jawa kepada Presiden RI, Prabowo Subianto. Mengingat, Pulau Jawa semakin padat penduduk sehingga semakin rawan terhadap bencana alam maupun bencana sosial. Ia membahasnya bersama KH. Imam Aziz, termasuk membuat draft untuk pengajuan permohonannya ke Presiden.

“Saya akan tetap meneruskan apa yang menjadi pemikiran Mas Imam,” janji Gunretno.

Jay Ahmad dari Jaringan Gus Durian menyebut, Imam Aziz sebagai tokoh NU yang selalu memberikan wadah kepada anak-anak muda untuk terus mengasah kepekaan dan tidak memikirkan diri sendiri. Hal itu sejalan dengan keteladanan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Kalau jauh melihat Gus Dur, maka lihatlah Mas Imam Aziz,” pintanya.

Sebagai pendiri Jaringan Gusdurian, ungkap Jay, perjuangan Imam Aziz telah membesarkan jaringan tersebut hingg sekarang sudah terbentuk 120 komunitas di dalam dan luar negeri. Oleh karena itu, pihaknya berkomitmen untuk terus melanjutkan perjuangan itu. “Kami akan terus meneladani mas Imam Aziz sebagaimana beliau meneladani Gus Dur,”.

Satu hal yang bagi Jay juga berkesan adalah pesan Imam Aziz yang menekankan agar Gusdurian selalu menyampaikan kebenaran. Meskipun mungkin saat ini tidak terdengar, ttapi sejarah akan mencatat bahwa di tengah situasi yang tidak baik-baik saja itu, masih ada kelompok yang terus menyampaikan kebenaran.

Semasa hidupnya, Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Yogyakarta juga sangat berjasa bagi kelompok penyandang disabilitas yang selama ini masih sering termarjinalkan.

Direktur Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) DIY, M. Joni Yulianto menurutkan, KH. Imam Aziz adalah satu panutan yang menjadi penguat kolompoknya dalam rangka membangun gagasan dan wadah bersama untuk melakukan advokasi bersama masyarakat yang inklusif.

Sejumlah takziyah melakukan salat jenazah di pendopo Pondok Pesantren Bumii Cendekia, pada 12 Juli 2025. (dok. kabarkota.com)

“Beliau adalah salah satu orang yang pertama kali menyampaikan dukungan dan kesediaan untuk menjadi bagian dalam menggagas wadah tersebut, dan sampai tahun 2025 ini, Sigab telah berusia 22 tahun. Berangkat dari gerakan kecil di tingkat komunitas kemudian membesar menjadi organisasi yang banyak bergerak bersama kelompok-kelompok yang mendukung inklusi sosial, baik difabel maupun kelompok minoritas lainnya,” papar Joni.

Oleh karena itu, pihaknya mengajak semua pihak agar terus meneladani semangat dan cita-cita almarhum.

Di mata Kolega: KH. Imam Aziz sosok yang sedikit Bicara, Banyak Kerja

Sedangkan bagi koleganya, Hairus Salim, kepergian KH. Imam Aziz meninggalkan rasa kehilangan yang sangat mendalam. Terlebih keduanya selama ini bersama-sama berjuang dalam mendirikan dan mengelola LKIS serta PP Bumi Cendekia.

“Mas Imam adalah figur yang menjadi penggerak, motivator, ilham, dan pengayom kami semua,” tuturnya.

Menurut Hairus, sebelum menjadi Pondok Pesantren Bumi Cendekia, tempat ini adalah markas Masyarakat Santri untuk Advokasi Rakyat (Syarikat) yang berbicara soal rekonsiliasi nasional dari kalangan santri dan pihak yang disebut sebagai mantan Tahanan Politik (Tapol), jauh sebelum Negara menjadikan itu sebagai program yang hingga sekarang juga belum terwujud.

Salah satu hal yang Hairus pelajari dari Imam Aziz adalah kemampuannya untuk selalu mendengarkan daripada bicara. Sebab, sangat jarang aktivis yang memiliki kemampuan mendengar, karena hasrat untuk terkenal sangat kuat, terlebih ketika berhadapan dengan mikrofon dan kamera. “Beliau orang yang sedikit berbicara, tetapi banyak bekerja,” anggapnya.

M. Iqbal Ahnaf sebagai Ketua Yayasan Bumi Aswaja Yogyakarta yang menaungi Pondok Pesantren Bumi Cendekia yogyakarta juga mengamini bahwa koleganya tersebut adalah sosok Kyai yang sangat alim, menguasai ilmu agama Islam, serta pedulu terhadap kelompok masyarakat yang lemah dan terpinggirkan, baik muslim maupun non muslim.

Di dunia pendidikan, Iqbal menganggap KH. Imam Aziz sebagai guru dan mentornya.

“Tujuh tahun lalu, kami bersama-sama merintis Pondok Pesantren Bumi Cendekia ini sebagai lembaga pendidikan yang menyediakan alternatif pendidikan keagamaan Islam berbasis pesantren, serta peduli terhadap isu-isu kemanusiaan dan perdamaian,”

Tujuannya, ucap Iqbal, untuk menyiapkan anak muda muslim agar menjadi generasi yang peduli dan memberikan kontribusi positif di masyarakat.

“Jadi, beliau menekankan bagaimana pendidikan mendorong para peserta didik atau pelajar untuk mempunyai visi yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” katanya.

Salah satu putra almarhum menangis jelang pemakaman jenazah ayahnya di kompleks Pondok Pesantren Bumi Cendekia, pada 12 Juli 2025. (dok. kabarkota.com)

Kini, tokoh NU yang juga menjadi pejuang kemanusiaan itu telah tiada. Almarhum meninggal dunia di usia 63 tahun, saat menjalani perawatan intensif di RSUP DR. Sardjito Yogyakarta, pada 12 Juli 2025, sekitar pukul 00.30 WIB.

Pria kelahiran Pati 29 Maret 1962 tahun itu bernama lengkap Muhammad Imam Aziz. Putra pertama dari lima bersaudara pasangan KH. Abdul Aziz Yasin dan Hj. Fatimah.

Selain pernah menjadi Ketua PBNU, Ketua PMII Cabang Yogyakarta, Pemimpin Persma ARENA, Pendiri LKIS, dan Pondok Pesantren Bumi Cendekia semasa hidupnya ia juga pernah menjadi Staf Khusus Wakil Presiden (Wapres) RI, KH. Ma’ruf Amin.

Almarhum meninggalkan istri, Ning Rindang Farihah, dan empat orang anak, yakni Agusta Ann Talattova; Muhammad Birru Kamayasya; Feliq Kenza Azizy; dan Kaylatasya Mafata. (Rep-01)

Pos terkait