SLEMAN (kabarkota.com) – Sejak pagi, sekitar 20 ibu-ibu warga Padukuhan Betakan, Kalurahan Sumberrahayu, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, DIY, sudah sibuk persiapan mengikuti Cooking Demo Kue Tradisional Nusantara yang digelar di Literasi Desa Tumbuh (LDT), pada Minggu (20/7/2025).
Di sebuah rumah yang asri dengan beragam tanaman hias dipadu rerumputan hijau, dan pepohonan rindang itu, mereka terlihat antusias mendengarkan penjelasan dan arahan dari para chef yang khusus didatangkan dari Semarang, Jawa Tengah (Jateng) untuk mengajari mereka membuat kue mangkok, klepon, dan onde-onde warna-warni.
Mereka dibagi menjadi lima kelompok yang masing-masing harus memasak dan mem-plating hasil masakan mereka untuk dinilai para chef dan asisten chef, usai mempraktikkan tiga resep makanan tradisional nusantara tersebut.
Meski memasak adalah rutinitas harian bagi ibu-ibu, tetapi dengan mengikuti kelas memasak, apalagi bisa belajar bersama dengan chef profesional menjadi hal sangat menyenangkan bagi mereka.
“Kami mendapatkan ilmu memasak dari awal sampai akhir untuk tiga resep menu. Itu sangat mengesankan bagi saya,” ungkap salah satu peserta, Heni Widi Hartati kepada kabarkota.com.
Tak hanya itu, baginya bisa berkumpul dengan ibu-ibu lain juga hal yang menggembirakan di tengah kesibukan masing-masing hingga tidak bisa setiap hari bertemu meskipun hidup bertetangga.
Heni berharap, kegiatan seperti ini bisa lebih sering digelar di LDT, setidaknya sebulan sekali sehingga ibu-ibu semakin beremangat dalam menambah wawasan di bidang kuliner.
Alasan di Balik Pemilihan 3 Menu Kue Tradisional Nusantara
Salah satu chef yang didatangkan dari Semarang, Joko Susanto juga menilai, antusiasme peserta cukup tinggi dan mereka terlihat senang mengikuti kegiatan tersebut.
Chef Joko menerangkan, pemilihan menu itu atas dasar pertimbangan bahwa makanan itu termasuk menu umum sehingga mudah dipraktikkan. Selain itu, peralatan yang digunakan juga cukup sederhana dan harganya relatif terjangkau.
Sedangkan M. Husin Syarbini atau Chef Husin mengaku, pihaknya sengaga membagikan resep tiga jenis kue tersebut dengan tujuan untuk memperkenalkan jenis tepung lokal yang bisa digunakan untuk pembuatan kue tradisional.
Menurut Chef Husin, setelah kegiatan ini, ibu-ibu di Betakan bisa mengembangkan kegiatan enterpreneurship, dengan memproduksi dan menjual kue-kue tradisional itu sehingga bisa mendapatkan tambahan income untuk keluarga, melalui dapur rumah tangga mereka.
Berawal dari Cinta Istri
Pendiri Yayasan LDT, Noor Huda Ismail menuturkan, latar belakang dari kegiatan ini cukup sederhana. “Karena cinta istri saja,” ucap Huda di sela-sela kegiatan.
Sementara sebelumnya, istri Huda yang juga Koordinator Acara Cooking Demo Kue Tradisional Nusantara, Desy Ery Dani menuturkan, ide awal kegiatan ini bermula dari keinginannya mengajak ibu-ibu di Padukuhan Betakan untuk belajar memasak bersama chef. Kemudian ia menghubungi salah satu rekannya yang merupakan konsultan di salah satu perusahaan tepung terigu, dan teryata dia juga tertarik.
“Awalnya saya berpikir hanya demo masak biasa, tapi ternyata antusiasnya besar. Termasuk dari beberapa desa sekitar sini,” ucapnya di Omah Betakan, pada 19 Juli 2025.
Kegiatan ini, sambung Desy, kemudian dibarengkan rangkaian kegiatan peringatan satu tahun Yayasan LDT berdiri. (Rep-01)







