Pasca Seorang Anak di NTT Bunuh Diri, BEM UGM Surati UNICEF

ugm
Foto ilustrasi dibuat dengan bantuan AI (dok. kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) menyurati United Nations Children’s Fund (UNICEF), pada Jumat (6/2/2026).

Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto mengatakan, surat ini sebagai respons atas bunuh diri seorang anak di Nusa Tenggara Timur (NTT), karena diduga tidak mampu membeli alat tulis yang harganya kurang dari Rp 10 ribu.

Bacaan Lainnya

Tiyo menilai, tragedi kemanusiaan tersebut meruntuhkan seluruh pencapaian statistik pemerintah RI yang disampaikan oleh Presiden Prabowo, saat Rapat Kerja Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah, baru-baru ini.

Tiyo juga berpendapat bahwa hal tersebut ironis karena pemerintah mampu menyumbang dana sebesar Rp16,7 Triliun untuk Board of Peace yang kontroversial. Sementara seorang anak kehilangan nyawa, karena tidak memiliki uang Rp10 ribu untuk membeli pulpen dan buku demi bersekolah.

“Pemerintah telah gagal menentukan prioritas kemanusiaan,” kata Tiyo dalam siaran persnya, pada Jumat (6/2/2026).

Selain itu, pihaknya menyesalkan, anggaran pendidikan dirampas untuk kebijakan populis, Makan Bergizi Gratis yang menghabiskan uang rakyat sekitar Rp 1,2 triliun per hari.

“Sebuah program yang tidak menyentuh akar persoalan ketimbangan pendidikan dan kemiskinan struktural,” tegasnya.

Dalam surat yang ditujukan kepada Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell itu, BEM UGM mendesak agar UNICEF memperkuat perannya di Indonesia dengan mendorong kebijakan perlindungan anak yang lebih kuat, menjaga anggaran pendidikan, dan memastikan masa depan setiap anak.

“Penderitaan dan kematian yang sepenuhnya dapat dicegah seharusnya tidak terjadi akibat kegagalan kebijakan,” tulisnya.

Tiyo juga meminta agar UNICEF memberi tahu Prabowo Subianto sebagai seorang Presiden RI bahwa persoalan-persoalan mendasar yang berujung pada hilangnya nyawa tak berdosa merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. (Ed-01)

Pos terkait