Prabowo Ungkap Kekhawatiran terhadap Ancaman Perang Dunia III

perang dunia III
Presiden RI, Prabowo Subianto. (dok. setneg)

BOGOR (kabarkota.com) – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa para pemimpin dunia saat ini sedang khawatir terhadap kemungkinan pecahnya Perang Dunia III. Kekhawatiran tersebut ia temukan dalam berbagai pertemuan internasional yang baru saja dihadirinya.

“Hampir semua pemimpin dunia merisaukan kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga,” kata Presiden Prabowo Subianto, saat memberikan taklimat pada Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, baru-baru ini.

Bacaan Lainnya

Prabowo menilai, kekhawatiran tersebut tidak terlepas dari dinamika global yang semakin kompleks dan penuh ketegangan. Perang berskala global, terutama yang melibatkan senjata nuklir akan berdampak luas bahkan bagi negara-negara yang tidak terlibat langsung.

Menurutnya, Konflik global yang sedang berlangsung, termasuk perang di Ukraina dan krisis kemanusiaan di Gaza, memberikan dampak luas terhadap stabilitas ekonomi, keamanan, dan ketahanan nasional Indonesia.

“Ini yang saya ingin sampaikan ke seluruh barisan pemerintahan: marilah kita waspada, marilah kita mengerti tantangan-tantangan yang ada di dunia ini,” tegasnya sebagaimana dilansir dari laman resmi Sekretariat Negara.

Pihaknya juga menekankan bahwa sejak awal berdirinya Republik Indonesia, dunia telah berada dalam pusaran konflik ideologis dan geopolitik. Namun, Indonesia tetap berkomitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif dan prinsip nonblok. “Filosofi luar negeri saya adalah seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak,” ucap Presiden.

Hanya saja, Prabowo berpendapat bahwa sikap nonblok tersebut harus diimbangi dengan kemandirian nasional yang kuat. “Dari awal, Bung Karno mengatakan, kita harus berdiri di atas kaki kita sendiri! Dan Panglima Besar kita yang pertama, Panglima Besar Sudirman mengajarkan kepada kita, kita harus percaya kepada kekuatan kita sendiri!” sambungnya.

Pada kesempata ini, Prabowo juga menganggap bahwa hubungan internasional tidak selalu berjalan berdasarkan prinsip ideal, melainkan realitas kekuatan. Negara yang kuat bisa berbuat apa saja untuk membuat negara-negara yang lemah menderita.

Untuk itu, Presiden menyampaikan, kewajibannya adalah menjaga keselamatan bangsa dengan kebijakan yang rasional dan tidak emosional.

“Kita tidak bisa emosional dan terlalu idealis karena yang berlaku adalah dunia nyata. Karena kita tidak mau perang, kita harus siap untuk perang,” pintanya. (Ed-01)

Pos terkait