Reza Rahardian bicara soal “Budi Baik” dan Film Terbarunya

Reza Rahardian, aktor yang memerankan tokoh Budi Baik dalam Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Siapa tak kenal Reza Rahardian? Aktor film kenamaan yang serba bisa ini sedang mempromosikan film terbarunya berjudul “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” karya sutradara Edwin, dan diproduseri oleh Muhammad Zaidy dan Meiske Taurisia. Rencananya, film tersebut akan mulai diputar di bioskop-bioskop Indonesia, pada 2 Desember 2021 mendatang.

Dalam film yang diadaptasi dari novel karya Eka Kurniawan dengan judul yang sama pada tahun 2014 ini, Reza memerankan sosok bernama “Budi Baik”.

Seperti apa karakter perannya sebagai Budi Baik, dan bagaimana dia menggambarkan tentang film yang telah menyabet berbagai penghargaan di Festival Film Internasional ini? Berikut wawancara kabarkota.com dengan Reza Rahardian, saat berada di Yogyakarta, Minggu (28/11/2021) malam.

Bagaimana Anda menggambarkan tentang Film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, karya sutradara Edwin ini?

Film ini mengambil setting selebrasi sinema indonesia di akhir era 80 yang coba dipotret oleh erwin, dan dihadirkan kembali meliputi berbagai genre. Ada misteri, action, drama percintaan, dan lain-lain yang coba dibalut dalam dunianya Seperti Dendam.

Film diambil dengan kamera seluloid 16mm demi mendapatkan detail gambar untuk tekstur tertentu, itu yang diambil oleh Edwin, dan menurut saya itu,adalah pilihan yang brilian.

Film Seperti Dendam ini berbicara tentang toxic masculinity, kekerasan, cinta, dan mengandung unsur-unsur tabu atau jarang diperbincangkan didalamnya. Ada interaksi seksual yang dibalut dengan unsur kekerasan. Jadi, film ini sebenarnya berbicara tentang banyak hal yang menurut saya justru di era sekarang sangat penting.

Pesan apa yang ingin disampaikan ke audiens melalui film ini?

Pada akhirnya melalui film ini, kita bisa mempertanyakan kembali tentang keberadaan kita di dunia sebagai individu. Ini bisa menjadi satu refleksi bersama bahwa di dunia kita sekarang ini, kita kerap kali membahas tentang kekerasan dari berbagai macam unsur, dan juga tema-tema perempuan. Bagaimana perempuan di film ini menjadi tokoh yang begitu kuat dan berani.

Peran Anda di film Seperti Dendam ini sebagai siapa dan bagaimana karakternya?

Saya berperan sebagai Budi Baik. Dia adalah seseorang yang bisa dibilang sangat mengagungkan nilai kelaki-lakiannya, sangat mengandalkan bahwa laki-laki itu seperti Budi Baik yang kuat, tangguh, percaya diri, dan mampu berbuat sesuatu, misalnya kekerasan yang menurutnya sebagai laki-laki yang sempurna, dan lain-lain.

Budi Baik adalah tokoh yang bisa dibilang sebagai orang yang menaruh hati pada Iteung (Ladya Cheryl). Tetapi kemudian romantisme dan hubungan mereka tidak berjalan sesuai yang mungkin diharapkan sehingga karakternya sangat manipulatif. Budi baik itu orang yang sangat manipulatif. Dia mampu memanipulasi pikiran orang-orang yang dia ajak bicara. Sikapnya juga manipulatif, perangainya.

Seperti apa tantangan memerankan tokoh Budi Baik?

Tatangannya dalam hal ini lebih pada bagaimana saya bisa menghidupkan tokohnya. Saya ingin menghadirkan suatu nuansa baru, bagaimana perangainya di era itu, terutama gestur-gestur era 80-90an, karena busananya sudah mendukung.

Di era itu, pose-pose tertentu juga menjadi sangat khas. Bagaimana orang berfoto, mem-present dirinya, hingga cara berjalan. Pola-pola dasar saja yang saya ambil untuk menghidupkan budi baik supaya memberikan
“nyawa” pada tokoh ini.

Darimana referensinya?

Banyak. Diantaranya foto-foto di era itu, ada beberapa film yang saya intip sebagai referensi untuk nuansa filmnya.

Bahasa Indonesia yang sering dipakai di film pada era-era itu juga sangat baku. Untungnya saya mempunyai pengalaman di panggung teater sehingga biasa mengolah kata-kata yang dianggap baku menjadi milik. Jadi saya tidak terlalu kesulitan dalam mengutarakan sesuatu dalam bahasa yang dianggap baku, seperti kau, aku, engkau.

Karena film ini mengandung unsur-unsur yang bisa dibilang tabu atau jarang diperbincangkan, bagaimana cara menghadapi kemungkinan adanya kritik atas film ini?

Kami sudah mempunyai perjalanan panjang di 33 festival internasional. Kita juga mendapatkan penghargaan tertinggi di dunia internasional. Misalnya, penghargaan sebagai film terbaik di ajang Locarno International Film Festival 2021, di Swiss. Seharusnya ini justru didukung di dalam negeri. Dan saya yakin sekali film ini lebih relatable di Indonesia karena dekat. Kalau orang asing saja bisa sangat mencintai film ini, masa orang Indonesia tidak? (Rep-01)

Pos terkait