2 Medsos Ini sering Dipantau Pelaku Klitih

Seminar dan FGD Membongkar Akar Mencari Solusi: Masalah Klitih, di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Kamis (12/7/2018). (Sutriyati)

SLEMAN (kabarkota.com) – Fenomena klitih yang selama ini sering terjadi di Yogyakarta memang meresahkan. Itu karena apa yang mereka lakukan sering mengarah pada kekerasan fisik yang bahkan tak jarang menimbulkan korban jiwa.

Psikolog perkembangan UGM, Arum Febriani menyebutkan, maraknya klitih ini juga tak lepas dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang tak jarang membawa dampak sosial yang buruk, utamanya di kalangan remaja. Salah satunya adalah kehadiran media sosial yang ternyata juga banyak dimanfaatkan oleh pelaku maupun korban kekerasan klitih.

Dari hasil penelitian yang pernah dilakukannya pada Januari 2017 lalu terungkap bahwa media sosial yang sering dipakai oleh para pelaku klitih untuk memantau lawannya adalah Line dan Instagram.

“Mereka (pelaku) mengecek lawannya (korban) ada di mana, itu dengan menggunakan instagram,” sebut Arum dalam Seminar dan FGD Membongkar Akar Mencari Solusi: Masalah Klitih, di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Kamis (12/7/2018).

Arum juga memaparkan, dari penelitian terhadap 10 orang di LPKA dan siswa di dua SMA dan satu SMK di Yogyakarta yang tingkat kekerasannya tinggi itu, klitih dilakukan oleh remaja, dengan rentang usia 16-21 tahun, dan mayoritas anggotanya laki-laki. Umumnya mereka pernah mengalami kekerasan fisik sejak masih kecil, sehingga merasa kebal

Mereka, lanjut Arum, juga datang dari keluarga yang tidak hangat, terutama karena buruknya hubungan anak dengan ayahnya. “Sebagian dari mereka merindukan sosok ayah,” imbuhnya.

Meski cenderung meresahkan, Arum mendefinisikan klitih sebagai perilaku beresiko. Artinya, lebih dari sekedar kenakalan remaja karena faktanya sudah menimbulkan korban jiwa, namun pihaknya enggan menyebutnya sebagai perilaku kriminal. Mengingat, sebutan tersebut akan melekat pada para pelakunya.

“Kami menganggap mereka bukan hanya pelaku, tetapi sebenarnya mereka juga adalah korban,” tegas Arum.

Sementara Sosiolog Kriminalitas UGM, Suprapto memetakan, faktor penyebab dan motif klitih, baik dari internal maupun eksternal. Dari internal, diantaranya karena melemahnya fungsi keluarga, dan kesalahan asuh. Sedangkan faktor eksternalnya bisa datang dari kelompok sebaya (peer group), kakak kelas, kelompok lebih besar, tayangan televisi, media sosial, dan perubahan sosial karena pengaruh teknologi.

“Berita-berita di media sosial itu sangat banyak, kita harus mampu memilih mana yang baik dan buruk,” pintanya.

Balas dendam, solidaritas almamater, pelampiasan kekecewaan dalam keluarga, dan ingin menunjukkan identitas diri ataupun eksistensi, lanjut Suprapto, menjadi motif para pelaku klitih.

Untuk itu, Suprapto berpendapat, solusi untuk mengatasi klitih tidak cukup hanya dari akibatnya saja, tetapi juga penyebabnya. “Cari siapa “sutradaranya”, jangan hanya “permainannya”, dengan prinsip tidak pandang bulu,” tegasnya.

Selain itu, lima lembaga sosial dasar juga harus berperan. kelima lembaga yang dimaksud di sini adalah keluarga, pendidikan, ekonomi, agama, dan pemerintah, termasuk lembaga politik dan keamanan. (sutriyati)

Pos terkait