YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Pakar Hidrologi dan Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Mohammad Krisna Satriagasa mengingatkan tentang pentingnya mitigasi yang komprehensif dalam menghadapi peralihan musim dari kemarau ekstrem akibat fenomena “Godzilla El Niño” menuju ke musim hujan.
Ia menekankan bahwa kekeringan panjang dan curah hujan ekstrem merupakan dua sisi mata uang yang harus diwaspadai agar tidak berbalik menjadi bencana.
“Kekeringan dan basah (hujan) itu seperti dua sisi koin. Jika satu sisi koinnya itu kekeringan ekstrem, maka biasanya akan diikuti oleh kondisi basah yang juga ekstrem,” kata Krisna dalam Podcast Our Concern: Mencegah Banjir sesudah Kahutla, di kanal youtube M. Faried Cahyono, baru-baru ini.
Menurutnya, sejumlah wilayah saat ini masih berjibaku untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dan berada dalam kondisi rentan. Hilangnya vegetasi alami serta fungsi retensi hutan membuat lanskap kehilangan “efek spons” penahan air.
Dosen di Fakultas Kehutanan UGM ini juga menilai, penanaman kembali lahan pasca kahutla dengan menggunakan tanaman sawit secara monokultur, tidak dapat memulihkan fungsi ekologis hutan alam secara instan sehingga potensi banjir tetap besar.
Oleh karena itu, guna menghadami musim hujan di akhir 2026 hingga awal 2027 mendatang, Krisna memaparkan sejumlah langkah konkret darurat jangka pendek yang dapat dilakukan, tanpa menunggu tanaman pohon tumbuh besar.
Pertama, sebut Krisna, proteksi lahan kritis melalui inventarisasi lahan terdegradasi atau bekas terbakar. Permukaan tanah harus dilindungi dari hantaman langsung air hujan, dengan menggunakan cover crop (tanaman penutup tanah cepat tumbuh seperti legum), mulsa organik dari sisa pertanian, atau terasering.
Kedua, sambugnya, normalisasi saluran air. Hal ini bisa dilakukan dengan membersihkan sedimen dan tumpukan sampah pada saluran irigasi dan jalur air agar kapasitas tampung optimal saat debit air meningkat.
Ketiga, Krisna menyampaikan tentang perlunya penyusunan pencana darurat (Emergency Plan), dengan memetakan wilayah hilir yang berisiko terdampak banjir bandang, menyiapkan jalur evakuasi, serta memastikan berfungsinya Early Warning System (EWS) bagi masyarakat.
Selain itu, Krisna berpendapat bahwa koordinasi lintas sektoral juga menjadi kunci utama dalam mitigasi bencana. Mengingat, Daerah Aliran Sungai (DAS) bersifat lintas batas administrasi, seperti kawasan hulu yang berada di bawah Taman National hingga wilayah perkotaan seperti di Yogyakarta yang aliran sungainya melewati tiga kabupaten, yakni Sleman, Yogyakarta, Bantul (Kartamantul).
“Forum DAS sebagai organisasi netral dapat menjembatani koordinasi antara pusat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan terkait,” tegasnya.
Lebih lanjut Krisna mengimbau agar seluruh elemen masyarakat, swasta, dan akademisi dapat memberikan kontribusi nyata, sesuai dengan perannya masing-masing, guna mencegah terjadinya bencana, khususnya pasca kahutla nantinya. (adv)
Full podcast klik di sini







