Ada tiga “setan” yang sering berdiam dalam diri manusia, sebagaimana penjelasan Ustad Nurudin Isnawan dalam pengajian Ngobar (Ngopi Bareng) di Masjid Assalam Minomartani, pada Hari Minggu, 10 Mei 2026 lalu.
Tulisan ini sebagian berangkat dari materi dasar yang beliau sampaikan. Selebihnya, perenungan kecil dari kehidupan sehari-hari.
Nama setan-setan itu tentu ada istilah Arab-nya. Dalam berbagai bahasa di dunia juga ada sebutannya masing-masing. Tetapi agar lebih mudah dipahami, disederhanakan menjadi tiga, yakni setan malas, setan sombong, dan setan pelit.
Anak-cucu dan kerabat dekatnya para setan itu, biasanya tidak jauh-jauh dari tiga watak tersebut.
Sebagai manusia, hampir semua pernah ‘dirasuki’ salah satu, dua atau bahkan ketiganya. Ada orang kaya tetapi pelit dan sombong. Ada yang malas sekaligus pelit. Ada pula yang malas, sombong, sekaligus pelit.
Pertama, setan malas. Menurut saya, ketika seseorang dikuasai setan malas, sehebat apa pun potensi dirinya akan sulit berkembang. Anak-anak cerdas pun bisa mandek kecerdasannya. Terlebih, jika terlalu dimanjakan oleh lingkungannya.
Karena itu juga, dulu banyak orang tua yang notabene paham kehidupan, mengirimkan anak-anak mereka jauh dari rumah. Para kiai besar saling menitipkan anak kepada kiai lain. Ada yang disuruh mondok di daerah berbeda atau pun belajar ke Barat. Misalnya saja, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dari Yogyakarta dan Sultan Pontianak sebelum kemerdekaan yang pernah menyekolahkan anak-anaknya ke Belanda.
Menariknya, mereka tidak dititipkan di lingkungan elite penguasa, melainkan di tengah masyarakat biasa. Sebab ada perbedaan antara mental penguasa yang terbiasa menjarah negeri, dengan kehidupan masyarakat sehat, yang bekerja normal menjaga hidupnya. Dan ternyata, jati diri mereka tidak hilang.
Kita juga pernah melihat hal serupa pada awal Tahun 1980 – 1990-an. Banyak anak dari Timor Leste yang disekolahkan di berbagai kota di Jawa, seperti Yogyakarta, Malang; Sumatera; Kalimantan; Sulawesi, seperti Makassar; dan kota-kota lainnya.
Mereka diterima seperti anak sendiri oleh banyak keluarga di Indonesia, tanpa benar-benar memahami betapa keras konflik di daerah asalnya. Waktu itu media sosial belum ada dan informasi juga sangat terbatas sehingga di pikiran para orang tua ketika itu sederhana saja, yakni bagaimana anak-anaknya bisa tumbuh normal sebagai manusia.
Hanya saja bedanya, anak-anak para Bangsawan dan ulama dididik agar lepas dari kemalasan. Sedangkan anak-anak dari wilayah konflik, mereka dibesarkan agar tidak ikut rusak oleh perang.
Kedua, setan sombong. Ketika seseorang dikuasai kesombongan, hidupnya perlahan akan diruntuhkan oleh kesombongan itu sendiri. Kemampuan hebat tidak banyak gunanya, bila kesombongan menjadi fondasi. Bahkan karya yang sebenarnya bagus pun, bisa kehilangan nilainya. Ibarat pupuk kandang yang kaya unsur hara. Sebenarnya berguna, tetapi ketika masih berupa bahan mentah langsung dipupukkan ke tanaman, bisa jadi tanamannya justru mati. Begitulah kira-kira kesombongan bekerja.
Ketiga, setan pelit. Setan jenis ini juga tidak kalah berbahaya. Dalam ungkapan Jawa: “Ora dianggep wong.”
Artinya, sekaya apa pun seseorang, kalau terlalu pelit, orang sulit menghormatinya sebagai manusia yang utuh. Apalagi “miskin sombong”, sudah hidup pas-pasan, masih sombong. Begitu pun yang miskin sekaligus pelit. Dan tentu ada kombinasi: kaya, sombong, pelit atau malah miskin, sombong, sekaligus pelit.
Lalu bagaimana jalan keluarnya?
Menurut pandangan saya, di awal, kita harus menyadari bahwa tiga sifat itu bisa ada di dalam diri siapa saja. Termasuk diri kita sendiri. Cirinya, sulit menerima masukan orang. Meski pun, itu pada dasarnya bawaan diri. Maka jalannya, melalui refleksi. Kalau tidak mau dinasihati orang lain, ya nasihati diri sendiri.
Kadang kita memang harus keras kepada diri sendiri, dengan memaksa disiplin, melatih hati, melawan malas, menurunkan kesombongan, dan belajar memberi, meski dalam kekurangan.
Bagi orang Islam, bulan Haji selalu dirindukan. Mengapa? Karena inilah arena yang disediakan Allah SWT untuk mengalahkan tiga setan tersebut.
Kuncinya, bagi yang mampu, silakan berhaji. Bagi yang belum mampu, tidak masalah. Setidaknya bisa memotong hewan kurban. Hewannya bisa dibeli dari peternak-peternak di pedesaan, dan setelah dibeli bisa dititipkan pada orang yang dipercaya sebelum disembelih saat Idul Adha.
Kalau pun untuk membeli hewan kurban itu belum mampu karena mungkin masih ada tanggungan hutang yang harus didahulukan, juga tidak masalah. Masih ada jalan lain, dengan berpuasa, memperbaiki diri, dan melatih hati.
Maka , Haji dengan lempar jumrahnya, qurban dengan berbagi dagingnya, juga puasa dengan latihan pengendalian dirinya, semua itu In sya Allah akan membebaskan manusia dari “tiga setan” dalam dirinya sendiri.
Hal yang juga tak kalah penting dari tiga opsi kebaikan itu adalah doa: “Allah Maha Besar lagi Maha Sempurna kebesaran-Nya. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan petang”.
“Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh ketundukan dan kepasrahan, dan aku bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik”.
“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan karena itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang muslim.”
“Ya Allah mudahkanlah kami berhaji, melaksanakan qurban dan berpuasa hanya karena melaksanakan perintahmu”.
“Ya Allah..kami berketetapan untuk hidup bahagia lepas dari segala.duka dengan mengikuti jalanMu. Mudahkanlah seluruh usaha kami. Indahkankah ibadah kami. Mudahkanlah kami melaksanakan amanah. Gembirakan kami selalu. Jauhkan dari kejahatan mahluk-mahlukMu. Jauhkan dari fitnah Dajjal dan pengikutnya. Jadikan kami menguasai nafsu kami. Rahmati nafsu kami ya Allah agar kami memiliki akhlak yang baik. Menjadi Rahmat bagi seluruh alam semesta.
Jadikan kami pembawa kabar gembira yang ditunggu. Engkau maha memampukan. Pantaskan kami dalam ilmu. Lengkapi kami dengan segala alat perangkat yang diperlukan sehingga bisa menjadi khalifahmu yang sempurna.
Al-Fatihah.
Aamiin.
Tulisan ini, sekali lagi adalah pengingat untuk diri sendiri dan keluarga, serta telah diunggah di akun Facebook M Faried Cahyono







