BMKG DIY Imbau Masyarakat Waspadai 3 Potensi Bencana Alam akibat Fenomena La Nina

Jumpa Pers BMKG DIY di kompleks Kantor Dinas Bupati Sleman, Rabu (14/10/2020). (dok. kabarkota.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY mengimbau agar masyarakat mewaspadai setidaknya tiga potensi bencana hidrometeorologi akibat fenomena La Nina.

Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG DIY, Rani Kraningtyas mengungkapkan, dampak sedang dan moderat dari fenomena La Nina ini sedang terjadi di Indonesia, termasuk di wilayah DIY. Akibatnya, intensitas curah hujan bertambah sekitar 40 persen di atas rata-rata normal.

“Ini akan menambah potensi terjadinya bencana hidrometeorologi yang terjadi, seperti banjir, tanah longsor dan angin kencang,” kata Reni di kompleks Kantor Bupati Sleman, Rabu (14/10/2020).

Menurutnya, dampak dari La Nina ini akan mengikuti awal musim hujan di masing-masing wilayah.

Baca Juga:  Ketemu Presiden, Buruh Gendong ini Dapat Uang Rp 100 Ribu

Pihaknya menyebutkan, untuk awal musim hujan akan terjadi pada oktober dasarian 2 dan 3 di wilayah Sleman Barat dan Utara, dan Kabupaten Kulon Progo bagian utara. Sedangkan awal musim hujan terakhir akan terjadi pada awal November di wilayah Gunung Kidul.

“Bulan oktober ini curah hujan normalnya antara 100 – 150 mili meter per bulan. Kalau di atas normalnya lebih dari itu,” ucap Reni.

Pihaknya menambahkan, kecepatan angin saat terjai hujan lebat dan cuaca ektrem di saat fenomena la nina terjadi, bisa mencapai lebih dari 45 km per jam.

“Pada saat la nina, potensi hujan ekstrem itu lebih sering yang ditandai dengan hujan lebat disertai angin kencang, dan petir,” sambungnya.

Pihaknya juga menjelaskan, fenomena La Nina ini terjadi secara periodik antara 2 – 3 tahun sekali. “Dampak terakhir yang kita rasakan itu di tahun 2016 – 2017. Waktu itu juga diperparah dengan badai cempaka,” tuturnya.

Baca Juga:  Tsunami di Selat Sunda, Sejumlah Personel Seventeen Band Dikabarkan Menjadi Korban

Untuk tahun ini, BMKG juga memprediksi adanya badai tropis di Samudera Hindia. Hanya saja pihaknya mengaku belum bisa memastikan apakah badai tersebut akan berada dekat dengan perairan selatan Jawa atau tidak.

“Kalau memang dekat, itu nanti dampaknya luar biasa,” ucapnya..

Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sleman, Heru Saptono menambahkan, ketika terjadi badai Cempaka, banyak petani di Sleman yang mengalami gagal panen, baik tanaman padi maupun holtikultura.

Oleh karenanya, Heru menyatakan, pihaknya akan menginformasikan kepada petani dan pembudidaya ikan di Sleman terkait adanya fenomena La Nina kali ini sehingga mereka bisa lebih berhati-hati guna menekan kemungkinan adanya kerugian akibat fenomena alam tersebut.

Baca Juga:  Walhi Menduga Banjir dan Tanah Longsor di DIY Karena Perubahan Bentang Alam

“Kalau tanaman padi relatif tahan dengan hujan, cukup dibuat drainase saja. Toh padi yang varietas unggul tidak masalah sebetulnya dengan penambahan debit air 40 persen,” anggapnya.

Salah seorang petani di wilayah Sleman sedang menggarap lahan pertaniannya. (Dok. kabarkota.com)

Heru justru mengaku khawatir dengan komoditas holtikultura dan perikanan. Namun demikian, pihaknya juga berpandangan bahwa La Nina ini bisa menjadi peluang bagi para petani, jika mereka bisa memperhitungkan waktu semai benih dan masa panen dari tanaman pangan maupun perikanan yang akan mereka budidayakan. Mengingat, masa panennya jelas. Misalnya untuk tanaman padi sekitar 100 hari, sedangkan perikana sekitar tiga bulan sekali. (Rep-01)