Erni Raup Untung dari Bisnis Gaun Daur Ulang Sampah

Peragaan busana dari daur ulang sampah anorganik, di Teras Malioboro 2 Yogyakarta, 6 November 2022. (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Lenggak-lenggok para perawagan dan peragawati di sekitar panggung Teras Malioboro (TM) 2 Yogyakarta pada Minggu (6/11/2022)menarik perhatian para pengunjung dan tamu undangan yang hadir.

Namun berbeda dari peragaan busana pada umumnya, kali ini, mereka mengenakan pakaian dan aksesoris yang dibuat dari daur ulang sampah anorganik. Baik dari plastik maupun berbagai jenis kertas yang dikreasikan sedemikian rupa.

Di akhir peragaan, mereka juga menenteng poster-poster yang mengkampanyekan pemanfaatan daur ulang limbah dari Paguyuban Bank Sampah DIY.

Erni Aguswandari adalah salah satu panitia sekaligus pembuat gaun dari daur ulang sampah rumah tangga yang turut diperagakan dalam event tersebut.

“Saya membuat busana tersebut dari plastik kresek, dan peragawatinya bertopi merah,” kata Erni kepada kabarkota.com, di sela-sela acara.

Perempuan asal Kelurahan Klitren, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta ini mengaku telah menekuni bisnis pembuatan dan persewaan gaun-gaun dari daur ulang sampah, sejak tahun 2014.

Ide awal datang ketika dirinya melihat banyak sampah anorganik yang tidak banyak dimanfaatkan. Padahal jenis sampah tersebut sulit untuk diurai jika dibiarkan. Selain itu, dirinya juga menjadi pengelola Bank Sampah Anugerah 2 Klitren.

Menurutnya, hingga sekarang, sampah masih menjadi masalah, khususnya di Kota Yogyakarta. Terlebih sekarang Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan sering ditutup sehingga pengelolaan sampah dari rumah harus dilakukan. Mengingat, satu orang rata-rata membuang sampah 0.5 kg per hari.

“Sekarang pemilahan sampah dari rumah harus benar-benar dilakukan. bukan hanya slogan-slogan saja,” tegasnya.

Erni menjelaskan, dari sampah anorganik yang ia kumpulkan, mulai dari plastik, kertas, hingga botol dan kaleng minuman kemudian dibuat busana dengan beragam desain untuk kemudian dijual maupun disewakan.

“Sekarang sekitar 20 koleksi baju yang saya miliki,” sebutnya.

Perempuan yang juga fasilitator kelurahan dan koordinator kecamatan untuk pengelolaan bank sampah ini, menjahit sendiri koleksi baju daur ulang tersebut. Baju yang terjual kisaran Rp 100 ribu – Rp 600 ribu per stel. Sedangkan untuk sewa Rp 75 ribu per hari, kecuali sewa baru yang harganya bisa sampai dua kali lipatnya.

“Sewa baru itu artinya saya membuatkan baju baru untuk mereka sewa,” tuturnya.

Bagi Erni, bisnisnya tersebut cukup menjanjikan, terlebih di masa pandemi Covid-19. Ia terkadang mendapatkan pesanan untuk membuatkan baju-baju daur ulang dari sekolah-sekolah. Dalam sebulan, ia bisa meraup pendapatan hingga Rp 3 juta, pada saat event yang menggunakan baju-baju daur ulang banyak digelar di sekolah-sekolah

“Awalnya, orang-orang menilai saya seperti orang gila karena suka mengumpulkan sampah. Tapi setelah mereka tahu manfaatnya untuk lingkungan dan bernilai ekonomis, ini menjadi berkah,” anggapnya.

Meskipun kini banyak orang yang juga membuat baju-baju dari bahan daur ulang sampah, namun usaha Erni tetap eksis hingga kini. Itu lantaran ia mengedepankan kualitas produk yang buat. Misalnya, baju dibuat senyaman mungkin, dengan dilapisi kain dan benar-benar dijahit sehingga relatif tidak menyebabkan gangguan kulit, saat dipakai.

“Saya membuat baju yang ukurannya tidak terlalu besar supaya mudah disimpan,” sambungnya lagi.

Semantara terkait dukungan pemerintah, Erni menyampaikan bahwa sejauh ini, dukungan yang diberikan masih sebatas memberikan pelatihan dan ruang untuk pameran. Namun, dari sisi pemasaran, ia mengaku belum mendapatkan support sehingga harus memasarkan produknya sendiri.

“Tapi mulai tahun ini (2022), DLH Kota Yogyakarta mulai membeli produk-produk kami,” katanya.

Selain memproduksi gaun, Erni bersama suaminya juga membuat aneka kerajinan dari sampah anorganik. (Rep-01)

Pos terkait