YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Ketua Excutive Committe (EXCO) Partai Buruh Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Irsad Ade Irawan akhirnya memberi penjelasan tentang mundur dirinya dari Partai tersebut.
Tak hanya dirinya, Irsad juga membawa ‘gerbong’ pendukungnya, dalam hal ini Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) DIY turut undur diri dari Partai Buruh. Mengingat, para pimpinan serikat buruh tersebut juga bagian dari Pengurus Partai Buruh DIY. Termasuk, bagian dari Organisasi Rakyat Indonesia (ORI), organisasi sayap Partai Politik (Parpol) di Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani yang juga mundur dari Partai Buruh pada 26 Juni 2026 lalu.
Irsad mengungkapkan, ada sejumlah alasan di balik keputusan undur diri dari Partai Buruh ini. Di antaranya, MPBI belum melihat arah kebijakan Pemerintah Prabowo – Gibran yang berpihak pada buruh, terutama pasca-putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Misalnya, dua kali penetapan upah berkala masih menggunakan formula lama. Selain itu juga terkait Putusan Pemerintah (PP) tentang Outsourcing yang sampai saat ini belum ada indikasi regulasi menuju ke arah yang lebih baik.
Irsad juga menyatakan bahwa pemicu lainnya menyangkut momen Hari Buruh (May Day) 1 Mei lalu. Sebab awalnya ada instruksi untuk melakukan aksi di Monas. Tetapi setelah ada respon dari serikat buruh di Yogyakarta dengan menyiapkan aksi serupa, aksi di Jakarta tiba-tiba dipindahkan atau batal dilaksanakan.
“Ini menjadi catatan tambahan bagi kami bahwa ada hal-hal dalam dinamika politik internal partai yang harus dievaluasi,” kata Irsad usai Pamitan Serikat Pekerja dengan Partai Buruh, di Yogyakarta, pada 5 Juli 2026.
Lebih lanjut Irsad menganggap ironi, karena Partai Buruh yang awalnya dibentuk untuk melawan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law). Namun sejauh ini, di tingkat pusat, partai justru terlihat mesra dengan pihak-pihak yang mengunggulkan regulasi tersebut. “Partai Buruh seharusnya berada di barisan yang konsisten melawan UU Cipta Kerja, bukan di dalam koalisi yang mendukungnya,” harap Irsad.
“Namun yang paling prinsipil bagi kami adalah serikat buruh di Yogyakarta ingin menjaga independensi dan menjaga jarak dengan pemerintah,” tegas
Sebagai serikat buruh, kami ingin kembali fokus menguatkan internal organisasi dan bekerja sama dengan seluruh elemen masyarakat serta organisasi lain baik di Yogyakarta maupun Indonesia secara umum agar terbangun konsolidasi baru yang lebih besar dalam memperjuangkan hak-hak buruh. Fokus jangka pendeknya, mengawal lahirnya Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru, agar selaras dengan putusan MK dan benar-benar membawa aspirasi pekerja.
Jika ada kelompok lain yang mendeklarasikan diri untuk menguatkan Partai Buruh, menurutnya, itu adalah hak dan jalan politik mereka sehingga tak masalah. Namun pihaknya memilih untuk mengundurkan diri dari Partai Buruh, tanpa tekanan dari pihak mana pun. “Di internal MPBI dan KSPSI, suara kami sudah satu suara dan solid karena kami sudah terbiasa melakukan konsolidasi bersama selama bertahun-tahun,” sambungnya.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) ORI, Ferri Nuzarli mengaku terpaksa mundur dari Partai buruh karena persoalan-persoalan yang dihadapi Partai buruh ini belum terselesaikan hingga hari ini.
Ferri membeberkan, persoalan di internal Partai Buruh ini sudah terjadi sejak Pemilu 2024 lalu, sehingga bukan persoalan baru. “Selama lima tahun persoalan ini tidak terselesaikan karena tidak ada lagi kesepahaman dan kesamaan arah perjuangan,” ucapnya mantan Sekjen Partai Buruh ini.
Namun Demikian, Ferri berpandangan bahwa meskipun sekarang berbeda langkah dengan Partai Buruh, tetapi tujuan perjuangannya tetap sama. Oleh karena itu, ORI yang berdiri tahun 2015 ini tetap akan dilanjutkan dan dikembangkan sebagai Organisasi masyarakat (Ormas). Bahkan tidak menutup kemungkinan ke depan akan bertransformasi menjadi Parpol, yang nantinya bisa menempatkan para wakilnya di eksekutif, legislatif, dan judikatif di masa mendatang.
“Tetapi untuk Pemilu 2029 tidak cukup waktunya. Kemungkinan pada Pemilu selanjutnya,” anggapnya. (Rep-01)







