Pembelajar Bauran

  • Whatsapp

Oleh : Runi Rulanggi (Pendidik Universitas Pembangunan Jaya)

 

Bacaan Lainnya

Saat ini pelajar dan mahasiswa di Indonesia memasuki tahun ajaran baru. Tahun ajaran baru ini masih dihiasi oleh suasana pandemi, sehingga sebagian masih menerapkan model pembelajaran daring, seperti yang dihadapi pada tahun 2020 silam. Pandemi COVID-19 telah mengubah tatanan pendidikan secara signifikan.

Sebelum pandemi melanda, pelajar Indonesia terbiasa melakukan pembelajaran secara tatap muka, sedangkan di masa pandemi, pembelajaran berupaya meminimalisasi tatap muka secara langsung guna mencegah penyebaran virus COVID-19. Pembelajaran kemudian menggunakan metode blended learning atau pembelajaran bauran, yang mengombinasikan pembelajaran virtual dan tatap muka .

Pembelajaran bauran memberikan tantangan tersendiri bagi komponen sekolah, baik peserta didik, pendidik maupun sistem pendukung lainnya (karyawan sekolah, tenaga kependidikan dan lainnya) sebab literasi teknologi dan ketersediaan infrastruktur pendukung belum merata di Indonesia. Hal ini mengakibatkan munculnya pro dan kontra terkait proses pembelajaran bauran yang diterapkan oleh pemerintah.

Graham, Allen & Ure (2003) merangkum 3 paradigma utama mengenai definisi pembelajaran bauran. Pandangan pertama mendefinisikan pembelajaran bauran sebagai pembelajaran yang mengombinasikan instruksi pembelajaran serta  atau media yang digunakan untuk pembelajaran yang diberikan pada siswa.

Pandangan kedua berpendapat bahwa pembelajaran bauran terkait dengan pengombinasian instruksi pembelajaran pada siswa. Adapun paradigma terakhir memandang pembelajaran bauran sebagai sebuah metode pembelajaran yang mengombinasikan instruksi pembelajaran secara tatap muka serta virtual.

Model pembelajaran bauran yang diterapkan di masa Pandemi lebih dekat pada pandangan ketiga, dengan bantuan beragam perangkat lunak seperti Microsoft Teams, Google Classroom hingga platform video conference yang baru-baru ini melejit, Zoom.

Pembejalaran Bauran kemudian memunculkan fenomena baru, yakni pembelajar bauran. Siswa kini menjadi terbiasa menghadapi proses pembelajaran campuran, baik yang dilakukan  secara tatap muka dan virtual. Pembelajaran daring dilakukan ketika kasus COVID-19 mengalami peningkatan, atau terjadi cluster COVID-19 baru di sekitar siswa.

Adapun pembelajaran tatap muka dilakukan kembali ketika kasus COVID-19 di wilayah siswa telah mengalami penurunan. Dualisme model pembelajaran ini menuntut siswa untuk mampu melakukan penyesuaian diri di tengah situasi yang yang semakin tidak pasti.

Dinamika yang dihadapi para pembelajar bauran ini perlu diperhatikan, sebab dapat memengaruhi perkembangan mereka di masa depan. Siswa yang berada di tahap perkembangan kanak-kanak dan remaja mengalami paparan situasi kehidupan yang tidak menguntungkan.

Ketika siswa mampu menerapkan strategi pemecahan masalah yang dinamis, maka ia akan sukses dalam proses belajar nya, meskipun situasi tidak mendukung. Namun ketika siswa sulit menghadapi perubahan, maka ia rentan mengalami masalah, baik akademik (seperti performa pembelajaran yang menurun), maupun non-akademik (stres, depresi, cemas serta masalah lain berpotensi mengganggu kesehatan mental siswa).

Bila mengamati kondisi yang terjadi saat ini, kondisi yang dialami oleh pembelajar saat ini tentunya beragam. Ada yang diuntungkan, ada pula yang tidak. Beberapa siswa di Indonesia terbukti tetap mampu berprestasi di masa pandemi.

Profil pembelajar sukses di masa Pandemi ditunjukkan misalnya oleh Mahasiswa ITS yang memenangi kompetisi RoboBoat 2021. Kemudian SMA Semesta Semarang yang berhasil meraih medali emas dan perak dalam International Olympiad in Informatic (IOI) ke-33.

Ada pula siswa dari SMAN 28 Jakarta dan SMAN Bali Mandara yang memenangi Kompetisi Regeneron International Science and Engineering Fair (ISEF) 2021.  Nyatanya, Kondisi Pandemi tidak menghalangi para siswa ini untuk tetap menunjukkan prestasinya di tengah keterbatasan yang ada.

Namun demikian, pada kenyataannya sistem pembelajaran bauran ini tidak luput dari kelemahan. Hasil survei yang dilakukan oleh UNICEF yang dilakukan pada tahun 2020 terhadap 4000 siswa di Indonesia menunjukkan 9 dari 10 siswa menghendaki sistem pembelajaran tatap muka.

Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran bauran yang dilakukan oleh siswa, perlu tetap menggunakan media tatap muka sebagai metode utama dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan sistem pembelajaran daring dirasakan belum dapat mengakomodasi seluruh kebutuhan siswa, terutama dalam hal interaksi dengan teman sebaya dan guru.

Interaksi sosial bagi siswa masih dianggap sebagai salah satu komponen yang mendukung performa belajar siswa yang lebih baik. Sehingga, ketika siswa tidak mampu menjalin interaksi sosial, karena pembatasan aktivitas selama masa Pandemi, hal ini memengaruhi motivasi belajar siswa.

Pada akhirnya, menurunnya motivasi dapat menurunkan performa belajar siswa. Selain itu, tidak meratanya jaringan internet dan telepon seluler mengakibatkan banyak siswa, terutama yang berada di pelosok Indonesia mengalami kesulitan selama masa pandemi.

Melihat aspek positif dan negatif dari pembelajaran bauran di masa pandemi, apa yang dapat dilakukan oleh siswa agar mereka tetap bisa menunjukkan performa belajar yang optimal meski berada dalam situasi yang tidak menentu seperti pandemi saat ini? Kunci penting untuk mengatasi hal ini tentu saja penyesuaian diri.

Siswa yang adaptif akan melihat pembelajaran bauran sebagai peluang untuk meningkatkan pengetahuan dan skills mereka. Masa pandemi ini menghadirkan banyak pilihan sumber pembelajaran yang dapat diakses secara cuma-cuma oleh siswa. Baik melalui buku, website, pelatihan daring, dan sebagainya.

Selain itu terbuka kesempatan bagi siswa untuk menjalin lebih banyak kolaborasi dengan berbagai pihak.  Selain itu, tersedia bantuan kuota internet bagi siswa yang mendapatkan pembelajaran daring.

Meskipun hal ini perlu dievaluasi, sebab pada beberapa daerah di Indonesia, seperti yang dilaporkan di daerah Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat belum seluruhnya mendapatkan bantuan  bagi siswanya. Kesempatan ini tentunya perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh siswa.

Sebaliknya, beragam tantangan yang dihadapi selama proses pembelajaran bauran, seperti belum meratanya ketersediaan infrastruktur pendukung, motivasi belajar yang rendah, perlu menjadi perhatian dari Pemerintah untuk menerapkan model pembelajaran yang adaptif di masa depan, yang semakin tidak pasti.

Model pembelajaran bauran adalah model yang ideal untuk diterapkan bagi pembelajar masa kini, namun penerapannya perlu menyesuaikan dengan kondisi pada masing-masing-masing-masing wilayah di Indonesia, serta kesiapan dari komponen sekolah (guru, karyawan dan siswa sendiri) untuk menerima perubahan yang terjadi.

 

Sumber :

https://www.unicef.org/indonesia/id/press-releases/indonesia-survei-terbaru-menunjukkan-bagaimana-siswa-belajar-dari-rumah

Bonk, C. J. & Graham, C. R. (Eds.). (in press). Handbook of blended learning: Global Perspectives, local designs. San Francisco, CA: Pfeiffer Publishing.

  • Whatsapp

Pos terkait