1,5 Tahun Tukin Tak Cair, Ratusan Tendik UGM Datangi Rektorat

Massa yang tergabung dalam Forum Tendik UGM saat mendatangi Rektorat, Rabu (2/3/2016). (Januardi/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkora.com) – Ratusan Pegawai Negeri Sipil Tenaga Kependidikan (Tendik) UGM mendatangi gedung rektorat pada Rabu (2/3/2016) siang. Kedatangan mereka untuk menuntut pihak rektorat segera mengusahakan pencairan Tunjangan Kinerja (Tukin) yang sudah selama tiga semester atau setara 1,5 tahun tidak ada kejelasan.

Massa yang tergabung dalam Forum Tendik UGM itu menilai, selama ini rektorat tidak sungguh-sungguh dalam mengusahakan hak mereka.

“Ini dapat dilihat dari tidak adanya komunikasi dari rektorat kepada Tendik tentang kejelasan Tukin. Setiap kali kami ingi audiensi, selalu dihalang-halangi,” ujar Sumarwoko, salah seorang Tendik dari Fisipol UGM kepada kabarkota.com.

Ia mengatakan, ada lebih dari 2.400 Tendik UGM yang mengharapkan cairnya Tukin. Karena sebelumnya, mereka sempat dua kali menerima Tukin, yakni pada akhir tahun 2013 dan awal tahun 2014.

“Peraturan tentang pencabutan Tukin untuk PTNBH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum) kan tertanggal 14 Desember 2015. Berarti kami masih punya hak Tukin tiga semester, akhir 2014 dan dua semester di tahun 2015,” kata Sumarwoko, merujuk pada poin H ayat 1 pasal 3 Perpres No 138 tahun 2015 tentang Tukin pegawai di lingkungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek).

Merespon tuntutan forum Tendik, Ketua Korps Pegawai UGM, Koentjoro menuturkan, wewenang tentang pencairan Tukin tidak ada di rektorat UGM.

“Jadi salah jika tuntutan diajukan ke UGM, sampai kapan pun tidak akan ada hasilnya,” katanya

Koentjoro menjelaskan, persoalan macetnya pencairan dana Tukin berada di pusat. Komunikasi yang tidak intens antara Kemenristek dan UGM pun membuat pihak nya tidak mengetahui dengan pasti dimana muara kemacetan tersebut.

“Jadi sebenarnya, yang kami tahu Menristek sudah mengirimkan surat ke Kementerian Keuangan untuk pencairan Tukin, tapi tidak ada komunikasi yang jelas,” ucapnya.

Koentjoro menambahkan, persoalan Tukin menjadi semakin sulit karena dana tersebut turun bersamaan dengan APBN.

“Sehingga jika tidak diambil, otomatis itu akan hangus. Susah untuk diperjuangkan lagi. Tapi untuk itu, kami akan membentuk Satgas.Kami akan ke Jakarta bersama-sama untuk mengusahakan Tukin. Tapi tidak mungkin dalam waktu satu bulan akan segera cair,” ujar dia.

Menanggapi respon rektorat, Sumarwoko mengaku cukup puas dengan apa yang diutarakan. Ia menegaskan, pihaknya tidak pernah menuntut rektorat untuk mencairkan Tukin.

“Kami cuma minta kejelasan komunikasi. Kenapa pernyataan itu tidak dari kemarin-kemarin. Tidak sampai ke jajaran Tendik,” ucapnya. (Ed-03)

Kontributor: Januardi

Pos terkait