Batas Air

batas air
Ilustrasi (dok. kabarkota.com)

Oleh M. Faried Cahyono

Dalam situasi kacau dan rakyat yang tidak diopeni penguasa, saya teringat satu novel yang puluhan tahun lalu saya baca: Batas Air, karya Shih Nai-an. Judul aslinya adalah 《水浒传》 (Shuihu Zhuan), dalam bahasa Indonesia diterjemahkan Batas Air atau Water Margin, terbitan Grafiti Pers.

Read More

Shih Nai-an (Shi Nai’an), diperkirakan hidup sekitar 1296–1372, pada masa peralihan Dinasti Yuan ke Ming. Novel ini penceritaannya lambat. Dijamin, anak-anak sekarang tidak akan membuang waktu alias tidak menyelesaikan membaca.

Novel-novel sekarang harus dimulai dengan lead yang mengundang, juga ending yang membuat penasaran dan menjadikan pembaca bersedia membayar untuk membaca kelanjutannya.

Tetapi kalau kita bisa menyelesaikan membaca Batas Air, maka kita akan belajar banyak hal, tidak hanya tentang 108 pendekar dengan beberapa tokoh paling utama, tentu, tetapi juga tentang perjalanan manusia-manusia di dalam sistem yang rusak.

Salah satu tragedi, Tragedi Lin Chong, menjadi salah satu bagian terpenting. Ini bisa menjadi salah satu kunci memahami novel ini.

Lin Chong sebenarnya bukan pemberontak. Ia adalah perwira militer yang hidup relatif tenang. Ia menjadi korban intrik, dijebak sehingga seolah-olah melakukan kejahatan. Ia kemudian dihukum dan dibuang. Bahkan ketika sudah dalam perjalanan menuju tempat pembuangan, ia masih hendak dibunuh.

Akhirnya terjadi pembakaran tempat penyimpanan militer. Lin Chong berhasil menyelamatkan diri, membunuh orang-orang yang hendak mencelakainya, kemudian melarikan diri ke Liangshan. Orang yang semula ingin hidup baik-baik saja akhirnya menjadi “bandit” karena sistem yang tidak adil.

Tokoh lainnya ada Song Jiang, pemimpin yang cerdas, berpengaruh, murah hati, dan memiliki kemampuan merangkul banyak orang, tetapi tetap memiliki loyalitas kuat kepada kerajaan sehingga memilih jalan rekonsiliasi; Wu Song, sosok pemberani, tegas, kuat, dan menjunjung kehormatan serta keadilan, terkenal karena membunuh harimau dengan tangan kosong; dan Lu Zhishen, mantan perwira yang keras, spontan, berani, tetapi memiliki rasa keadilan dan kepedulian yang kuat terhadap orang lemah.

Di Liangshan, Lin Chong berkumpul dengan para pelarian lain dari berbagai kalangan. Liangshan semakin besar. Setelah itu cerita berkembang seperti bola salju. Satu orang masuk karena ketidakadilan. Kemudian orang lain bergabung. Lalu orang lain lagi. Ada bekas tentara, pejabat, petani, orang kaya, ahli bela diri, pencuri, pelarian, dan orang-orang yang merasa tidak mendapatkan keadilan dari pemerintah.

Mereka memiliki karakter yang berbeda-beda, tetapi mempunyai satu pengalaman yang sama, yaitu berhadapan dengan kekuasaan yang korup atau hukum yang tidak adil. Akhirnya terbentuk kelompok besar di Liangshan yang dikenal sebagai 108 pendekar. Kelanjutan kisahnya silakan baca sendiri.

Tapi ada pelajaran yang disampaikan penulis. Ketika institusi negara gagal memberikan keadilan, masyarakat menciptakan bentuk-bentuk kekuasaan alternatif. Tetapi kekuasaan alternatif pun menghadapi godaan untuk kembali menjadi bagian dari sistem yang dahulu mereka lawan.

Batas Air bukan sekadar cerita tentang pemberontakan. Ia adalah cerita tentang siklus kekuasaan. Kekuasaan → penyalahgunaan → ketidakadilan → perlawanan → kekuasaan alternatif → kompromi dengan kekuasaan. Dan siklus itu bisa terus berulang.

Menarik juga melihat keminderan penulisnya atas novel yang banyak dipopulerkan di abad-abad berikutnya lewat cerita tutur. Ia tak yakin novelnya akan dibaca orang. Ia tidak memimpikan karyanya menjadi karya populer, apalagi menjadi pusat perhatian. Ia cukup senang jika bukunya dibaca oleh teman-teman yang sering ngobrol bersama sambil minum teh di sore hari…

Nah, saya akhirnya juga begitu. Saya memutuskan akan tetap menulis dan membuat video, melakukan riset-riset, baik riset nunut temen-temen dan kolega yang menawari gabung, atau riset sendiri. Hasil akan disampaikan.

Saya paham hasil karya saya dkk. itu, mungkin sebagian besar bukan karya populer. Tidak ditonton atau dibaca banyak orang apalagi selalu viral. Di jaman now, untuk viral secara organik, sangat susah. Untuk populer anda harus mengikuti algoritma. Tema harus enteng-entengan, sesuatu yang sering susah dipenuhi.

Kalau tema tulisan atau video tema berat kok penontonnya banyak, ya itu bisa anda lakukan dengan bayar iklan. Saya praktis saja. Kalau tema kerjasama dibayari, ya bisa saya sisihkan sebagian anggaran untuk iklan.

Saya sudah cukup senang jika karya dibaca atau ditonton oleh teman-teman yang biasa saya ajak ngopi-ngopi, ngumpul-ngumpul. Plus… pembaca atau pemirsa yang berminat.

Tulisan ini telah dimuat di akun facebook M. Faried Cahyono pada 3 September 2026

Related posts