YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Wilayah Selatan Pulau Jawa, termasuk DIY merupakan kawasan di zona pertemuan lempeng aktif (subduksi) yang memiliki potensi gempa bumi dan tsunami.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Sleman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY, Ardhianto Septiadhi mengatakan, pemahaman terhadap potensi tersebut menjadi langkah penting dalam upaya pengurangan risiko bencana.
“Secara ilmiah, gempa bumi tidak dapat diprediksi waktu kejadiannya. Namun, potensi gempa di suatu wilayah dapat dikaji, melalui pendekatan riset dan teknologi kebumian,” kata Ardhianto melalui siaran persnya, pada Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, satu hasil kajian tersebut adalah estimasi magnitudo maksimum, seperti potensi gempa hingga M 8,7 di zona subduksi selatan Jawa. Angka itu merupakan parameter ilmiah untuk kepentingan mitigasi, bukan prediksi kejadian gempa dalam waktu dekat.
Lebih lanjut Ardhianto menjelaskan, dalam kajian kegempaan dengan konsep periode ulang (recurrence interval), yaitu perkiraan rata-rata waktu antar kejadian gempa besar di suatu segmen megathrust.
“Perlu dipahami bahwa periode ulang bukanlah jadwal pasti kejadian gempa, melainkan pendekatan probabilistik dengan rentang waktu yang dapat mencapai puluhan hingga ratusan tahun,” paparnya.
Oleh karena itu, lanjutnya, konsep ini tidak dapat digunakan untuk menentukan waktu gempa akan terjadi.
Berbagai kajian potensi tersebut, ungkap Ardhianto, dapat dimanfaatkan sebagai dasar dalam penyusunan peta bahaya gempabumi dan tsunami untuk mengidentifikasi wilayah berisiko, serta penentuan jalur dan tempat evakuasi masyarakat
Selain itu, kajian ini juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sistem peringatan dini tsunami yang cepat, tepat, dan akurat. Termasuk, perencanaan tata ruang dan pembangunan infrastruktur tahan gempa
Dengan demikian, Ardhianto berharap, informasi tentang potensi gempa besar dapat dipahami secara utuh dan proporsional sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan, bukan sebagai indikasi kepastian waktu kejadian.
“Peningkatan literasi kebencanaan menjadi kunci agar masyarakat dapat bertindak tepat saat terjadi gempa bumi dan potensi tsunami,” sambungnya. (Ed-01)







