Demo di Simpang 4 Gramedia Yogya Diwarnai Kericuhan

demo simpang 4 gramedia jogja
Suasana saat kericuhan terjadi di simpang 4 Gramedia Yogyakarta, pada Selasa (1/9/2026) malam. (dok. istimewa)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Ratusan massa aksi dari unsur mahasiswa dan elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sipil menggelar aksi unjuk rasa di Simpang 4 Gramedia Yogyakarta, pada Selasa (1/9/2026) sore hingga malam hari.

Salah satu mahasiswa UGM, Mesa mengatakan, aksi kali ini sebagai bentuk keresahan atas kondisi ekonomi, kebijakan, regulasi, dan berbagi bentuk pengabaian negara terhadap masyarakatnya.

“Kami ingat betul bahwa Prabowo-Gibran seringkali ke luar negeri. Tetapi, untuk pergi ke wilayah-wilayah bencana, mereka justru membuka open donation,” ucap Mesa saat ditemui wartawan, di sela-sela aksinya.

Mesa juga menganggap, publik masih dijajah oleh anggaran Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN), dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masih mendominasi anggaran pendidikan. Sementara anggaran untuk kebencanaan justru minim. Padahal, bencana besar rawan terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, janji politik Prabowo – Gibran untuk menyediakan anggaran untuk pendidikan gratis dan transportasi publik gratis hingga kini juga belum terealisasi sepenuhnya.

“Pemerintah hari ini juga semakin jauh dari konstitusi,” sesalnya.

Sedangkan Mahasiswa dari UPN Veteran Yogyakarta, Risyad mendesak penghentian kolonialisme baru di Indonesia.

Risyad berpandangan bahwa kolonialisme baru itu terlihat dari cara pemerintah mengatur tata kelola penanganan kebencanaan, mengekstrak sumber daya alam, dan menempatkan skala prioritas negara terhadap berbagai isu yang cenderung berpihak pada kaum elit. Misalnya, berfokus pada sektor energi dan pertambangan, tetapi masalah kebencanaan tak kunjung diselesaikan secara tuntas, seperti bencana alam yang terjadi di Sumatera, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

demo simpang 4 gramedia jogja
Salah satu massa aksi sedang berorasi di simpang 4 Gramedia Yogyakarta, pada Selasa (1/9/2026). (dok. istimewa)

Simpang empat Gramedia dipilih sebagai titik aksi kali ini, karena mereka menilai bahwa ini merupakan titik vital sekaligus harapan agar aspirasinya didengar oleh pemerintah.

Dalam aksi yang berlangsung sejak jam 4 sore sempat diwarnai kericuhan, setelah aparat berupaya membubarkan paksa aksi mereka pada pukul 19.00 WIB. Namun sekitar pukul 22.00 WIB, massa aksi membubarkan diri dengan pengamanan ketat dari aparat. Mengingat, bentrokan hampir pecah antara massa aksi dengan warga yang ada di lokasi. Arus lalu lintas di simpang empat Gramedia kembali normal pada pukul 22.20 WIB. (Rep-01)

Related posts